Senin, 08 Maret 2021

KRIDA BINA GIZI

MODUL KRIDA BINA GIZI

 

 

I.     SKK Mengenal Keadaan Gizi

 

Deskripsi :

 

Pramuka Penegak dan Pandega diharapkan mampu menguasai masalah gizi utama dan tanda-tandanya, dapat mengkaji hasil penimbangan BB dan pengukuran TB dengan menggunakan KMS, dapat menjelaskan keadaan gizi serta mengetahui anak yang perlu dirujuk ke Fasyankes di daerahnya.

 

Tujuan Pembelajaran Umum

: Peserta mampu memahami SKK Mengenal Keadaan Gizi

Tujuan Pembelajaran Khusus

: Peserta mampu :

 

1.

Menjelaskan masalah gizi utama dan tanda-tandanya

 

2.

Menjelaskan cara penimbangan BB dan pengukuran PB/TB

 

 

balita dan anak sekolah

 

3.

Membaca hasil penimbangan dan pengukuran dalam KMS

 

4.

Menjelaskan cara menilai pembesaran kelenjar gondok

 

5.

Menjelaskan kapan harus merujuk anak ke Fasyankes

 

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan :

 

1.   Masalah Gizi Utama dan Tanda-tandanya

 

-       KEP (Kurang Energi Protein)

 

-       Anemia Gizi Besi (AGB)

 

-       Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI)

 

-       Kurang Vitamin A (KVA)

 

-       Gizi Lebih

 

2.   Cara Penimbangan BB dan Pengukuran PB/TB

 

-       Cara Penimbangan BB

 

-       Cara Pengukuran PB/TB

 

-       Cara Menilai Keadaan Gizi

 

3.   Hasil Penimbangan dan Pengukuran dalam KMS

 

-       Memperhatikan KBM

 

-       Naik (N)

 

-       Tidak Naik (T)

 

4.   Cara Menilai Pembesaran Kelenjar Gondok

 

-       Perabaan

 

-       Penggolongan

 

5.   Rujukan ke Fasyankes

 

-       Balita 2T dan Bawah Garis Merah (BGM)

 

-       Anak Sekolah Gizi Kurang

 

Metode Pembelajaran                   : Curah pendapat, CTJ


 

 

 

Media dan Alat Bantu


 

 

: Bahan tayang (slide power point), LCD Projector, Notebook Computer, Modul, White Board, Flipchart, Spidol, Kapsul Vitamin A, Tablet Tambah Darah (TTD)


 

Uraian Materi :


 

A. MASALAH GIZI DI INDONESIA

 

Di Indonesia terdapat masalah gizi utama, yakni:

 

1.   KEP (Kurang Energi Protein)

 

2.  Anemia Gizi Besi (AGB)

 

3.  Gangguan Akibat Kurang Yodium  (GAKY)

 

4.  Kurang Vitamin A (KVA)

 

5.  Gizi Lebih

 

B.   PENGERTIAN

 

1.        KEP  (Kurang Energi Protein)

 

Keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi enrgi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam jangka waktu yang lama. Ciri fisik KEP adalah bila berat badan berada dibawah standar normal.

2.        Anemia  Gizi Besi

 

Anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi sebagai penyebab utamanya. Pada pemeriksaan darah jika kadar hemoglobin kurang dari batas sesuai umur atau keadaan fisiologis dan kadar serum feritin kurang dari 12 mcq/dl.

 

3.        Gangguan Akibat Yodium (GAKY)

 

Secara klinis dapat didefinisikan sebagai sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus menerus dalam jangka waktu lama atau kelainan akibat kekurangan iodium pada berbagai tahapan kehidupan (dari janin hingga dewasa) didalam suatu populasi. Dapat dicegah dengan mengoreksi kekurangan iodium.. Tanda-tanda ini khas dengan dominasi defisiensi mental yang disertai manifestasi gangguan syaraf pada organ ekstremitas, auditori, dan atau mata, kekurangan iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara luas, meliputi tumbuh kembang termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan potensi tingkat kecerdasan.


 

 

 

4.      Kurang Vitamin A

 

Keadaan dimana simpanan Vitamin A dalam tubuh yang sebagian besar terdapat dalam hati menjadi sangat kurang, sehingga timbul tanda dan gejala fisik, klinis dan sub klinis yang dapat dideteksi. Gejalanya adalah buta senja, pada mata terdapat bercak bitot, Xerophthalmia, dan secara subklinis kadar vitamin A darah kurang dari 20 microgram/dl

 

5.      Gizi Lebih

 

Gizi lebih adalah keadaan kelebihan berat badan yang terjadi akibat maknaan yang dikonsumsi mengandung energi melebihi kebutuhan tubuh dalam jangka panjang. Hal tersebut mengakibatkan cadangan energi ditimbun dalam bentuk lemak.


 

 

Dampak

 

 

 

 

Penyebab

 

langsung

 

 

 

 

Penyebab tidak langsung

 

 

 

 

 

 

Pokok Masalah di masyarakat

 

 

 

 

Akar masalah (nasional)


 

KURANG GIZI

 

 

 

 

Makan Tidak Seimbang  Penyakit Infeksi

 

 

 

 

 

 

 

Tidak Cukup

Pola Asuh

Sanitasi dan Air

bersih/Pelayanan

Persediaan

Anak Tidak

Kesehatan Dasar Tidak

Pangan

Memadai

Memadai

 

 

 

Kurang Pendidikan, Pengetahuan dan Keterampilan

 

Kurang pemberdayaan wanita dan

 

keluarga, kurang pemanfaatan

 

sumberdaya masyarakat

 

Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan

 

Krisis Ekonomi, Politik

 

dan Sosial


 

 

Bagan 1. Penyebab Kurang Gizi


 

(Disesuaikan dari badan UNICEF, 1998: The State of the World,s Children 1998, Oxford Univ, Press).


 

 

 

C.       TANDA-TANDA

 

1.    Kurang Energi Protein (KEP)

 

Pada KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Penggolongan klisis KEP berat/gizi buruk dapat dibedakan sebagai berikut:

 

a.    Kwashiorkor

 

b.   Marasmus

 

c.    Marasmus-kwashiorkor

 

 

Edema umumnya diseluruh tubuh, terutama pada punggung kaki, Wajah membulat dan sembab, pandangan mata sayu,

 

Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok,

 

Perubahan status mental, apatis, dan rewel,

 

Pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa berdiri atau duduk,

 

 

Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas,

 

Sering disertai penyakit infeksi, umumnya akut, anemia dan diare.

 

 

Sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit Wajahnya seperti orang tua.

 

Cengeng, rewel, kulit keriput

 

Jaringan lemak bawah kulit sangat sedikit sampai tidak ada, pada daerah pantat tampak seperti memakai celana longgar/ baggy pants

 

Perut cekung, iga gambang

 

Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang), diare.

 

Tanda-tanda Marasmus-Kwasiorkor:

 

Tanda-tanda Marasmus-Kwasiorkor merupakan gabungan tanda-tanda kedua jenis KEP

 

berat/gizi buruk dari kwasiorkor dan marasmus.


 

 

 

2.    Anemia Gizi Besi (AGB):

 

Tanda Anemia Gizi Besi adalah : 5 L (LESU, LEMAH, LETIH, LELAH, LALAI)

 

Sering disertai dengan :

 

-       Pusing

 

-       Mata berkunang-kunang

 

-       Pucat terlihat pada muka. bibir, lidah, telapan tangan dan kaki, kuku serta lipatan mata sebelah dalam

 

-       Sering mengeluh lekas lelah

 

-       nafas pendek

 

-       jantung berdenyut kencang

 

-       nafsu makan kurang

 

Anemia gizi banyak terdapat pada anak pra-sekolah, anak sekolah, wanita hamil dan ibu menyusui serta pekerja wanita berpenghasilan rendah. BAGI IBU HAMIL

 

Anemia Gizi Besi  akan:

 

-       Menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan akan membahayakan jiwa ibu terutama waktu melahirkan.

 

-       Mengganggu  pertumbuhan  bayi  dalam  kandungan  dan  berisiko  Bayi  Berat  Lahir

 

 

BAGI IBU – MENYUSUI

 

Anemia Gizi Besi akan melemahkan ibu dan keadaan tersebut mengganggu pertumbuhan bayi dan anak yang sedang disusui

 

BAGI USIA SEKOLAH, REMAJA DAN USIA PRODUKTIF Anemia Gizi Besi akan mengakibatkan :

 

-     Tidak dapat menerima/merangkap pelajaran dengan baik.

 

-     Produktivitas menurun.

 

 

3.    Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

 

GAKY adalah sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kurang unsur yodium secara terus menerus dalam jangka waktu lama. Kekurangan yodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja, tetapi ternyata juga berpengaruh terhadap


 

 

 

kualitas sumber daya manusia secara luas, meliputi tumbuh kembang termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan potensi tingkat kecerdasan. Terdapat pembesaran pada kelenjar di leher bagian bawah. Pembesaran ini tidak selalu jelas terlihat pada GAKY ringan dan hanya dapat diketahui dengan meraba/palpasi leher bagian bawah. Pada tingkat yang lebih berat, tanpa meraba leher, GAKY sudah dapat terlihat sikap kepala normal.

 

 

4.    Kurang Vitamin A (KVA)

 

Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang remang-remang setelah lama berada di cahaya terang.

 

Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tak dapat melihat di lingkungan yang kurang cahaya, sehingga disebut buta senja.

 

Bila anak sudah dapat berjalan, anak tersebut akan membentur/ menabrak benda didepannya, karena tidak dapat melihatnya.

 

Bila anak belum dapat berjalan, agak sulit untuk mengatakan anak tersebut buta senja. Dalam  keadaan  ini  biasanya  anak diam  memojok bila  didudukkan  ditempat  yang

 

kurang cahaya, karena tidak dapat melihat benda atau makanan didepannya.

 

Pada keadaan yang lebih berat, ada beberapa klasifikasi gejala klinis Kurang Vitamin A, menurut WHO/ USAID, antara lain

 

a.    Xerosis konjungtiva = X1A

 

-       Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat/ terlihat sedikit kering, berkeriput dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam

 

-       Orang tua sering mengeluh mata anak tampak kering atau berubah warna kecoklatan

 

b.   Xerosis konjuntiva dan bercak bitot = X1B

 

-     Tanda-tanda pada X1A ditambah bercak bitot yaitu bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama terutama di daerah celah mata sisi luar

 

-     Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xerofthalmia, sehingga dipakai sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam masyarakat

 

-     Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjungtiva


 

 

 

-     Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut

 

-     Orang tua mengeluh mata anaknya tampak bersisik

 

c.    Xerosis Kornea = X2

 

-     Kekeringan pada konjuntiva berlanjut sampai kornea

 

-     Kornea tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar

 

-     Keadaan umum anak biasanya buruk (gizi buruk dan menderita penyakit infeksi dan sistemik lain)

 

d.   Keratomalasia dan ulkus kornea = X3A, X3B

 

-     Kornea melunak seperti bubur dan dapat terjadi ulkus

 

-     X3A = bila kelainan mengenai kurang dari 1/3 permukaan kornea

 

-     X3B = bila kelainan mengenai semua atau lebih dari 1/3 permukaan kornea

 

-     Keadaan umum penderita sangat buruk

 

-     Pada tahap ini dapat terjadi perforasi kornea (kornea pecah)

 

e.    Xeroftalmia scar (XS) = sikatriks (jaringan parut) kornea

 

-     Kornea mata tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil. Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik atau jaringan parut.

 

f.    Xeroftalmia Fundus (XF)

 

-                 Dengan alat opthalmoscope pada fundus tampak gambar seperti cendol.

 

 

5.    Gizi Lebih

 

Gizi lebih dibagi menjadi dua golongan yaitu overweight dan obesitas. Obesitas adalah kelebihan berat badan yang berasal dari lemak sedangkan overweight lebih mengacu pada kelebihan berat badan dibandingkan dengan standar normal.

 

Pada balita dikatakan gizi lebih jika dalam kurva pertumbuhan menunjukkan :

 

-   Berat Badan menurut umur (BB/U) > 2 SD

 

-   Berat Badan menurut panjang badan atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB) > 2 SD

 

-   Indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) > 2 SD


 

 

 

Pada dewasa, cara yang digunakan untuk mengukur obesitas adalah Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Perut. Obesitas yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh dapat dibagi menjadi :

 

1.      Obesitas perifer (IMT Dewasa lebih dari 25)

 

2.      Obesitas sentral atau abdominal berdasarkan lingkar perut.

 

Bagi orang Asia, lingkar perut pada laki-laki harus kurang dari 90cm sementara pada wanita kurang dari 80cm. Jadi, IMT yang melebihi 23 dengan lingkar perut lebih dari 90 cm pada laki-laki dan 80 cm pada wanita dapat digolongkan kedalam obesitas

 

abdominal.

 

Faktor yang menyebabkan terjadinya obesitas adalah pola makan, karakteristik individu, hereditas, psikologi, aktivitas fisik dan gaya hidup. Dari hasil penelitian menunjukkan yang paling berhubungan dengan kejadian obesitas sentral adalah pola makan yaitu asupan karbohidrat yang berlebihan. Konsekuensi obesitas adalah meningkatkan resiko kematian akibat penyakit degeneratif. Beberapa penelitian di negara maju menunjukkan bahwa mereka yang mengalami obesitas sentral mempunyai resiko 3X untuk mengalami penyakit jantung dari mereka yang normal.

 

 

D.       Cara Penimbangan Berat Badan dan Tinggi Badan

 

Cara yang paling mudah untuk mengetahui keadaan gizi ialah dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

 

1. Cara Penimbangan Berat Badan (BB)

 

Alat untuk menimbang berat badan antara lain adalah timbangan. Dikenal jenis timbangan yaitu dacin dan timbangan injak (balance scale).Alat untuk mengukur tinggi badan adalah microtoise atau alat ukur panjang badan. Caranya adalah sebagai berikut : Timbang berat badanmu, tanpa sepatu dan menggunakan pakaian seringan mungkin.

 

2. Cara Mengukur Panjang Badan (PB) / Tinggi Badan (TB)

 

Ukur tinggi badanmu dengan menggunakan alat pengukur tinggi badan (microtoise) untuk anak yang sudah bisa berdiri atau alat ukur panjang badan untuk bayi atau anak yang belum bisa berdiri.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Microtoise

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar alat ukur panjang badan

 

 

3. Cara Menilai Keadaan Gizi

 

Menilai keadaan gizi balita dan anak sekolah dengan menggunakan kriteria berat badan menurut umur (BB/U).

 

-       Balita maupun anak sekolah dicatat dan dilihat umurnya dan ditimbang berat badannya.

 

-       Melihat tabel pada lampiran, bandingkan berat badan menurut umur dan berat badan menurut tinggi badan

 

-       Menyimpulkan keadaan gizi: apakah termasuk gizi lebih, gizi baik, gizi kurang atau gizi buruk.

 

Menilai Keadaan Gizi Pada orang Dewasa (> 18 tahun) menggunakan IMT (Indeks Massa Tubuh). Dengan IMT, akan diketahui gambaran gizi pada orang dewasa, apakah seseorang dinyatakan normal, kurus atau gemuk, IMT digunakan untuk orang dewasa berusia 18-55 tahun dan tidak diterapkan untuk ibu hamil dan olahragawan. Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

 

Berat  badan  (kg)

 

IMT = ------------------------------------------------

 

Tinggi badan  (m)  x Tinggi badan (m)


 

 

 

 

 

Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Batas ambang untuk orang Indonesia adalah:

 

KATEGORI

IMT

 

 

 

KURUS

Kekurangan berat badan tingkat berat

<  17,0

 

 

Keterangan berat badan tingkat  ringan

17,0 – 18,4

 

 

 

 

NORMAL

 

18,5 – 25,0

 

 

 

GEMUK

Kelebihan berat badan tingkat ringan

25,1 – 27,0

 

 

Kelebihan berat badan tingkat berat

> 27,0

 

 

 

 

 

E.       Hasil Penimbangan dan Pengukuran dalam KMS

 

Cara menilai keadaan gizi balita dan menggunakan KMS  Balita.

 

-     Balita ditimbang berat badannya secara berkala (sebulan sekali).

 

-     KMS dipergunakan untuk memantau pertumbuhan berat badan balita dari bulan ke bulan. Setiap kali balita ditimbang, hasilnya dicatat dalam grafik KMS, demikian pula hal tersebut dilakukan pada penimbangan-penimbangan bulan-bulan berikutnya. Status pertumbuhan balita dapat diketahui dengan 2 cara yaitu dengan menilai garis pertumbuhannya, atau dengan menghitung kenaikan berat badan anak dibandingkan dengan Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM).

 

-     Kesimpulan dari penentuan status pertumbuhan balita yaitu Naik (N) atau Tidak Naik

 

(T).

 

-     Naik (N) apabila grafik berat badan mengikuti garis pertumbuhan; atau kenaikan berat badan sama dengan KBM atau lebih.

-     Tidak naik (T) apabila grafik berat badan mendatar atau menurun memotong garis pertumbuhan di bawahnya; atau kenaikan berat badan kurang dari KBM.

 

 

F.        Cara Menilai Pembesaran Kelenjar Gondok

 

1. Melakukan  Palpasi/perabaan kelenjar gondok (di daerah gondok endemik)

 

-     8-10 penderita gondok dari berbagai tingkat pembesaran gondok dikumpulkan di tempat latihan.


 

 

 

-     Dengan bimbingan petugas kesehatan (instruktur). Pramuka Pandega, melakukan pengamatan dan palpasi/perabaan terhadap leher bagian bawah dari semua penderita.

 

2.    Berdasarkan hasil pengamatan dan perabaan, dibuat penggolongan penderita gondok, sesuai dengan tingkat pembesaran kelenjar gondok (tingkat I, tingkat II, tingkat III).

 

 

G.      Cara Merujuk Anak ke Puskesmas atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Anak yang perlu dirujuk adalah :

 

a. Balita yang tidak naik sesuai kenaikan berat badan minimum dua kali berturut-turut (2T) dan Bawah Garis Merah (BGM)

 

b. Anak usia sekolah gizi kurang yang ditemukan perlu mendapat makanan tambahan

 

 

 

 

Referensi :

 

1.        SKK Krida Bina Gizi

 

2.        Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita Perempuan dan Laki-laki

 

3.        Kartu Menuju Sehat (KMS) Anak Sekolah

 

4.        Panduan Manajemen Suplementasi Kapsul Vitamin A

 

5.        Rencana Aksi Nasional Kesinambungan Program Penangulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium

 

6.        Pedoman Perbaikan Gizi Anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah


 

 

 

II.     SKK Penyuluhan Gizi

 

Deskripsi :

 

Pramuka Penegak dan Pandega harus dapat menghayati pengetahuan gizi dasar dan pemanfaatan pekarangan. Di samping itu, juga dapat memperagakan cara memasak dan penyuluhan gizi di lingkungannya.

 

Tujuan Pembelajaran Umum

: Peserta mampu memahami SKK Penyuluhan Gizi

Tujuan Pembelajaran Khusus

: Peserta mampu :

 

1.

Menyebutkan berbagai golongan bahan makanan

 

2.

Menjelaskan dan memasak menu gizi seimbang

 

3.

Menjelaskan pemanfaatan pekarangan

 

4.

Melakukan penyuluhan gizi

 

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan :

 

 

1.  Golongan Bahan Makanan

 

-    Sumber Tenaga

 

-    Sumber Pembangun

 

-    Sumber Pengatur

 

2.  Menu Gizi Seimbang

 

-    Pengertian

 

-    Peragaan cara memasak menu gizi seimbang

 

-    Cara membuat alat peraga penyuluhan

 

3.  Pemanfaatan Pekarangan

 

-    Pengertian

 

-    Keuntungan

 

-    Perencanaan

 

4.  Penyuluhan Gizi

 

-    KMS

 

-    Kurang Vitamin A (KVA)

 

-    Anemia

 

-    Diare/Mencret

 

-    Seribu Hari untuk Negeri


 

Metode Pembelajaran Media dan Alat Bantu


: Curah pendapat, CTJ, simulasi

 

: Bahan  tayang  (slide  power  point),  LCD  Projector,  Notebook

 

Computer, Modul, White Board, Flipchart, Spidol, Food Model,

 

Papan Triplex 125 x 75 cm, Kain Flanel, Gambar aneka bahan

 

makanan,  Kapsul  Vitamin  A,  Tablet  Tambah  Darah  (TTD),

 

Oralit, Gelas, Sendok Teh dan Panci


 

 

 

Uraian Materi :

 

PENYULUHAN GIZI

 

Penyuluhan Gizi Masyarakat adalah penyebarluasan informasi gizi kepada masyarakat melalui institusi keagamaan, sekolah, tempat-tempat umum, warung, dll.

 

A.       GOLONGAN BAHAN MAKANAN

 

Dalam tubuh manusia, makanan berfungsi sebagai:

 

1.    Sumber tenaga : dapat diumpamakan sebagai berikut:

 

-     Mobil perlu bensin agar mempunyai tenaga untuk dapat dijalankan

 

-     Manusia perlu makan agar mempunyai tenaga untuk bekerja, belajar dan berolah raga. Contoh sumber zat tenaga antara lain: beras, roti, singkong, ubi, mie, dan lain-lain.

 

 

 

 

2.  Sumber pembangun : dapat diumpamakan sebagai berikut:

 

-     Tanaman perlu pupuk agar dapat tumbuh.

 

-     Manusia perlu makan agar dapat tumbuh

 

Contoh sumber zat pembangun antar lain: daging, tempe, ikan, tahu, telur dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.    Sumber zat pengatur : dapat diumpamakan sebagai berikut:

 

-     Lalu lintas memerlukan polisi agar teratur dan tertib

 

-     Manusia memerlukan makanan agar semua bagian tubuh dapat melaksanakan tuasnya

 

secara teratur.

 

Contoh sumber zat pengatur adalah sayur dan buah yang berwarna


 

 

 

B.       MENU GIZI SEIMBANG

 

Untuk mencapai hidup sehat dan produktif seseorang perlu mengkonsumsi aneka ragam makanan. Oleh karena tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi. Masing-masing makanan dalam susunan aneka ragam menu gizi seimbang akan saling melengkapi. Keanekaragaman makanan dalam hidangan sehari-hari paling sedikit berasal dari 1 jenis makanan sumber zat tenaga, 1 jenis sumber zat pembangun dan 1 jenis sumber zat pengatur.

 

Cara memasak menu gizi seimbang :

 

Sebelum mulai memasak, cucilah bahan makanan terlebih dahulu dan perlihatkanlah bahan-bahan makanan tersebut serta jelaskan jenis, jumlah dan makanan yang tersedia didepan anggota regumu. Apabila akan menggunakan bahan makanan yang dikemas bacalah label sebelumnya. Gunakan garam beryodium setiap kali memasak. Peragakan cara memasak yang benar sesuai dengan syarat-syarat gizi. Misalnya cara memasak sayuran yang benar :

 

1.  Cuci dahulu sayuran sebelum dipotong-potong.

 

2.    Didihkan air sebelum sayuran dimasukkan ke dalam panci (Air rebus secukupnya agar kuah sayur tidak tersisa dan terbuang, karena dalam kuah terlarut beberapa vitamin).

 

3.    Masaklah sayuran sebentar dalam panci tertutup dan api besar.

 

 

1.    Bahan mudah didapat, murah, bernilai gizi tinggi, dapat diterima dan mudah memasaknya.

 

 

2.    Bahan makanan yang murah harganya belum tentu lebih rendah nilai gizinya dari pada bahan makanan yang mahal.

 

Cara Membuat/Mempersiapkan Alat Peraga Untuk Penyuluhan Gizi

 

1.    Papan Flanel:

 

a.    Sediakan papan/tripleks jukuran  125 x 75  cm.

 

b.   Tempelkan kain flannel warna gelap selebar papan tersebut

 

c.    Buatlah gambar-gambar bahan makanan di kertas, Warnailah gambar-gambar tersebut sesuai denganwarna aslinya.

 

d.   Guntinglah gambar-gambar tersebut di papan berlapis flannel tadi.

 

e.    Tempelkan gambar-gambar tersebut di papan berlapis flanel tadi.


 

 

 

2.    Gunakan model bahan makanan (food model) yang terdiri dari sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

 

3.    Mempersiapkan bahan makanan untuk alat peraga:

 

a.    Sediakan berbagai aneka ragam bahan makanan dan kelompokkan menurut golongannya.

 

b.   Setiap golongan terdiri dari paling sedikit tiga macam Contoh :

 

-       Golongan sumber tenaga: beras, jagung, ubi, minyak goreng, kelapa

 

-       Golongan sumber pembangun: ikan teri, telur, daging, susu, tempe, tahu, kacang hijau, kacang tanah.

 

-       Golongan sumber pengatur: bayam, wortel, kacang panjang, daun singkong, papaya, pisang, jeruk.

 

c.    Letakkan di atas meja dan aturlah dengan baik serta jelaskan gunanya.

 

 

C.       PEMANFAATAN PEKARANGAN

 

Pekarangan perlu dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Pekarangan bila diolah dan dimanfaatkan dengan baik dapat menghasilkan berbagai bahan makanan yang bergizi untuk keperluan keluarga shari-hari. Tidak perlu tanah yang luas.

 

Keuntungan yang diperoleh dari pekarangan:

 

a. Sumber tambahan bahan makanan yang bergizi: sayuran, buah-buahan, ikan dan hasil ternak.

 

b. Sumber pendapatan bagi keluarga c. Menghemat belanja keluarga

 

d. Sisa tanaman dapat digunakan ebagai makanan ternak. e. Kotoran ternak dapat digunakan untuk pupuk.

 

Merencanakan tanaman pekarangan :

 

Untuk merencanakan tanaman pekarangan pada halaman yang tersedia di wilayah tempat tinggal perlu membicarakan bersama anggota regu Pramuka dan masyarakat setempat. Hubungilah petugas pertanian setempat, petugas PPL atau petugas lapangan untuk memperoleh bantuan bibit dan bimbingan. Pekarangan dapat dimanfaatkan untuk : menanam sayuran, menanam buah-buahan, membuat kolam ikan, atau memelihara ternak.


 

 

 

D.       MELAKSANAKAN PENYULUHAN GIZI

 

3.    KMS

 

Dengan melihat KMS, kita dapat memantau berat badan dan keadaan gizi balita, apakah timbangan badannya naik, tetap atau menurun dibandingkan bulan lalu. KMS dibedakan untuk anak laki-laki dan perempuan, warna biru untuk anak laki-laki dan warna merah untuk anak perempuan.

 

Penyuluhan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

 

Untuk memantau berat badannya, anak harus rutin ditimbang di posyandu.

 

Pada penimbangan pertama belum dapat diketahui kenaikan berat badannya dibandingkan bulan lalu, dianjurkan untuk datang menimbang lagi bulan depan.

 

Anak dinyatakan naik timbangannya apabila kenaikan berat badannya sama atau lebih dari kenaikan berat badan minimum

 

     Pada KMS mencantumkan kenaikan Berat Badan Minimum(KBM) anak dimana:

 

-       Umur anak 1 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 800 gr

 

-       Umur anak 2 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 900 gr

 

-       Umur anak 3 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 800 gr

 

-       Umur anak 4 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 600 gr

 

-       Umur anak 5 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 500 gr

 

-       Umur anak 6 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 400 gr

 

-       Umur anak 7-10 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 300 gr

 

-       Umur anak 10-24 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 200 gr

 

-       Umur anak 24-60 bulan kenaikan berat badan minimum adalah 200 gr

 

     Tindak Lanjut Hasil Penimbangan

 

Bila berat badan anak naik :

 

Pujilah ibu dan anak, katakan selamat, bagus, sehat, hebat, pertahankan terus. Dianjurkan jangan lupa untuk datang menimbang lagi bulan depan. Anjurkan pula meneruskan makanan anak seperti biasa dan lebih banyak makan karena anak semakin besar akan membutuhkan makanan lebih banyak. Supaya anak tetap sehat dan terawat, sebaiknya ibu mengikuti program KB.

 

Bila Berat badan tidak naik 1 kali

 

-     Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balitanya ke posyandu


 

 

 

-     Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan anaknya yang tertera pada KMS secara sederhana

 

-     Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan(batuk, diare, panas, rewel,dll) dan kebiasaan makan anak

 

-     Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak naik tanpa menyalahkan ibu.

 

-     Berikan nasihat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai golongan umurnya

 

-     Anjurkan untuk datang pada penimbangan berikutnya

 

Berat Badan tidak naik 2 kali atau berada di Bawah Garis Merah (BGM)

 

-     Berikan pujian kepada ibu yang telah membawa balitanya ke posyandu dan anjurkan untuk datang kembali bulan berikutnya

 

-     Berikan umpan balik dengan cara menjelaskan arti grafik pertumbuhan anaknya yang tertera pada KMS secara sederhana

 

-     Tanyakan dan catat keadaan anak bila ada keluhan (batuk, diare, panas, rewel,dll) dan kebiasaan makan anak

 

-     Berikan penjelasan tentang kemungkinan penyebab berat badan tidak naik tanpa menyalahkan ibu.

 

-     Berikan nasihat kepada ibu tentang anjuran pemberian makan anak sesuai golongan umurnya

 

-     Rujuk anak ke Puskesmas/ Pustu/Poskesdes.

 

2.  Kurang Vitamin A.

 

-     Berilah penyuluhan dengan pertimbangan kebiasaan setempat. Gunakanlah sehari-hari yang dimengerti oleh masyarakat.

 

-     Siapkan macam-macam sayuran hijau tua dan buah yang banyak terdapat di tempat tersebut.

 

-     Siapkan:

 

a. Contoh sayuran dan buah yang mengandung vitamin A misal: wortel, bayam, daun singkong, daun pepaya, daun katuk, pepaya, tomat, mangga dan lain-lain.

 

b. Contoh kapsul Vitamin A

 

c.  Gambar gangguan kesehatan mata


 

 

 

-       Selama Penyuluhan:

 

a.    Jelaskan berbagai tanda kekurangan Vitamin A

 

b.   Jelaskan cara mencegah kekurangan Vitamin A

 

c.    Peragakan berbagai sayuran dan buah-buahan yang berguna untuk kesehatan mata.

 

 

d.   Anjurkan setiap hari makan sayuran dan buah

 

e.    Anjurkan menanami pekarangan dengan sayuran dan sumber Vitamin A

 

f.    Jelaskan guna kapsul Vitamin A dan peragakan cara pemberiannya

 

-       Cara mencegah kekurangan Vitamin A:

 

a.    Makanlah setiap hari sayuran hijau dan buah-buahan berwarna.

 

b.   Pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi kepada balita umur 1-5 tahun (kapsul berwarna merah) dan bayi umur 6-12 bulan (kapsul berwarna biru) tiap 6 bulan sekali (bulan Februari dan Agustus).

 

 

 

 

 

 

 

Kapsul Vitamin A

 

3.  Anemia Gizi Besi atau Kurang Darah

 

-       Sebelum penyuluhan siapkan:

 

a.    Daftar sayuran hijau yang terdapat di daerah setempat dan sektarnya

 

b.   Contoh sayuran hijau

 

c.    Contoh tablet tambah darah

 

-       Selama penyuluhan:

 

a.    Peragakan tanda –tanda kurang darah.

 

b.   Jelaskan akibat kurang darah, terutama pada ibu hamil,ibu menyusui remaja puteri dan wanita usia subur.

 

c.    Jelaskan cara-cara pencegahan kurang darah.

 

d.   Peragakan berbagai sayuran dan kacang-kacangan.

 

e.    Anjurkan pemanfaatan pekarangan

 

f.    Jelaskan guna tablet kurang darah dan peragakan cara meminumnya.


 

 

 

Bila ibu hamil, mulai dari awas kehamilan perlu setiap hari minum satu tablet tambah darah pada saat makan atau sesudah makan selama 90 hari.

 

Bagi remaja putri atau wanita usia subur dianjurkan minum tablet tambah darah 1 tablet seminggu sekali dan 1 tablet setiap hari selama haid.

 

4. Diare/mencret

 

Mencret atau diare adalah berak cair lebih dari 3 kali dalam sehari. Penyakit ini terjadi disebabkan karena masuknya kuman penyakit ke dalam perut, karena makan makanan basi, beracun atu salah makan dan dapat juga karena hal-hal lain.

 

Mencret sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan tubuh kurang cairan yang dapat menyebabkan kematian.

 

-       Sebelum penyuluhan perlu disiapkan:

 

a.    Tanaman segar dan tanaman layu.

 

b.   Oralit dan air matang

 

c.    Gelas, sendok teh dan panci

 

-       Selama penyuluhan dilaksanakan:

 

a.    Yakinkah ibu-ibu mengenai bahaya mencret.

 

b.   Kenalkan cairan apa saja yang dapat diberikan kepada penderita mencret.

 

c.    Praktekkan bersama pembuatan oralit

 

e.    Jelaskan cara-cara mencegah mencret

 

f.    Bila oralit habis, anjurkan minta kepada kader Posyandu atau Puskesmas.

 

-       Cara mencegah diare:

 

a.    Makanan harus dicuci bersih dan dimasak dengan benar.

 

b.   Disimpan dalam keadaan tertutup (dalam lemari atau tudung saji)

 

c.    Minum selalu air matang.

 

d.   Pemberian ASI sampai anam umur  2 tahun

 

e.    Jagalah selalu kebersihan diri dengan mandi setiap hari, cuci tangan dengan sabun sebelum makan.

 

f.    Pelihara kebersihan rumah. Rumah harus cukup sinar matahari, cukup udara segar dan lantai selalu bersih. Halaman pekarangan harus selalu bersih dari sampah dan kotoran, air kotor harus selalu mengalir lancer.

 

g.    Bila terjadi mencret, segeralah minum oralit atau cairan lain sesering mungkin.


 

 

 

5. Seribu Hari Untuk Negeri

 

Fokus intervensi gizi 1000 hari pertama kehidupan (sejak terbentuknya janin hingga anak berusia 2 tahun), terbukti cost-effective untuk mencegah dan mengatasi gizi kurang serta pendek (stunting), melalui kerjasama para pemangku kepentingan (pemerintah, swasta, dan masyarakat). Upaya lainnya untuk memperbaiki status gizi adalah terjaminnya ketersediaan pangan, pendidikan perempuan, kesetaraan gender, dan suplai air bersih.

 

Pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik perlu disosialisasikan kepada masyarakat secara berlanjut. Untuk itu, dilaksanakan Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima.

 

Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima sejalan dengan upaya yang dilakukan dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Fokus tema pesan utama gerakan adalah:

 

1.  Perilaku pola konsumsi makanan

 

2.  Pola asuh

 

3.  Aktivitas fisik

 

 

 

 

 

 

-     Makan makanan beraneka ragam untuk memenuhi kebutuhan gizi;

 

-     Biasakan sarapan pagi;

 

-     Pilih makanan jajanan yang bergizi dan sehat;

 

-     Cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah buang air; dan

 

-     Menimbang berat badan secara teratur.

 

 

-     Makan makanan beraneka ragam dengan meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan pangan hewani serta membatasi lemak, garam, dan gula, termasuk minuman berkarbonasi;

 

-     Menghindari rokok, narkoba, dan minuman beralkohol;

 

-     Melakukan aktivitas fisik secara teratur; dan


 

 

 

-     Remaja putri, minum tablet tambah darah 1 kali sehari menjelang dan selama menstruasi.

 

 

-       Makan makanan beraneka ragam dengan meningkatkan konsumsi sayur, buah, dan pangan hewani serta membatasi lemak, garam, dan gula, termasuk minuman berkarbonasi;

 

-       Aktivitas fisik secara teratur dan terukur;

 

-       Memantau berat badan secara teratur;

 

-       Pola hidup bersih dan sehat; dan

 

-       Menghindari rokok, narkoba, dan minuman beralkohol.

 

 

-     Makan makanan beraneka ragam dengan mengurangi lemak, garam, dan gula serta memperbanyak sayur dan buah;

 

-     Melakukan aktivitas fisik secara teratur dan terukur sesuai kondisi (jalan santai, bersepeda, senam);

 

-     Mempertahankan berat badan ideal; dan

 

-     Bersosialisasi untuk mengurangi stres dan meningkatkan rasa percaya diri.

 

 

 

 

-     Makan makanan beraneka ragam 1 porsi lebih banyak dari sebelum hamil terutama pangan hewani.

 

-     Memeriksakan kehamilan minimal 4 kali selama masa kehamilan

 

-     Minum tablet tambah darah secara teratur minimal 90 tablet selama masa kehamilan.

 

-     Bila melahirkan lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif

 

 

-     Makan makanan beraneka ragam dengan jumlah 1,5 porsi lebih banyak dari sebelum hamil.

 

-     Minum lebih banyak 3 gelas dari biasanya

 

-     Hanya memberikan ASI saja sampai usia bayi 6 bulan (ASI Eksklusif)

 

-     Menyusui bayi sesering mungkin agar produksi ASI semakin banyak

 

-     Menimbang berat badan bayi secara teratur setiap bulan


 

 

 

-     Meminta imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi Pesan untuk ibu balita :

 

-     Melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun

 

-     Memberikan MP-ASI secara bertahap dimulai dari makanan bertekstur lunak, lembek, hingga padat sesuai kebutuhan

 

-     Memantau berat badan secara teratur

 

-     Mulai 6 bulan sampai 59 bulan anak perlu mendapat kapsul  vitamin A

 

-     Mengajak anak bermain dan mengembangkan kreatifitasnya

 

 

Sandiwara/simulasi penyuluhan gizi perlu dipersiapakan.

 

a.         Penentuan judul

 

b.        Penentuan sasaran

 

c.         Pembuatan naskah

 

d.        Penentuan para pelaku

 

e.         Persiapan bahan dan sarana yang diperlukan

 

f.         Penentuan waktu yang tepat untuk menyajikan

 

 

Referensi :

 

1.      SKK Krida Bina Gizi

 

2.      Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita Perempuan dan Laki-laki

 

3.      Kartu Menuju Sehat (KMS) Anak Sekolah

 

4.      Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)

 

5.      Panduan Manajemen Suplementasi Kapsul Vitamin A

 

6.      Rencana Aksi Nasional Kesinambungan Program Penangulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium

 

7.      Pedoman Perbaikan Gizi Anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah


 

 

 

III.     SKK Kadarzi dalam Posyandu

 

Deskripsi :

 

Pramuka Penegak dan Pandega menguasai pengertian, strategi operasional dan kelembagaan Kadarzi, membantu kegiatan persiapan di Posyandu yang meliputi : kegiatan penimbangan dan pengisian KMS, persiapan penyuluhan gizi serta kegiatan untuk meningkatkan cakupan Posyandu.

 

 

 

Tujuan Pembelajaran Umum   : Peserta mampu memahami SKK Kadarzi dalam Posyandu

 

Tujuan Pembelajaran Khusus  : Peserta mampu :

 

1.    Menjelaskan arti, tujuan, sasaran dan perilaku Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

 

2.    Menjelaskan arti, tujuan dan kegiatan Posyandu

 

3.    Menjelaskan peran Pramuka dalam Posyandu

 

4.    Menjelaskan strategi operasional Kadarzi

 

5.    Menjelaskan cara meningkatkan cakupan penimbangan di Posyandu

 

6.    Menjelaskan penyuluhan gizi di Posyandu

 

7.    Menjelaskan kegiatan kelembagaan Kadarzi di tingkat desa

 

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan :

 

1.        Arti,  tujuan, sasaran dan perilaku Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

 

2.        Arti, tujuan dan kegiatan Posyandu

 

3.        Peran Pramuka dalam Posyandu

 

4.        Strategi operasional Kadarzi

 

5.        Cara meningkatkan cakupan penimbangan di Posyandu

 

6.        Penyuluhan gizi di Posyandu

 

7.        Kegiatan kelembagaan Kadarzi di Tingkat desa


 

Metode Pembelajaran


: Curah pendapat, CTJ


 

Media dan Alat Bantu


: Bahan  tayang  (slide  power  point),


LCD  Projector,  Notebook


 

Computer, Modul, White Board, Flipchart, Spidol.


 

 

 

Uraian Materi :

 

1.    Arti, Tujuan, Sasaran dan Perilaku Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

 

Adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggota keluarganya. Suatu keluarga disebut Kadarzi apabila telah berprilaku gizi yang baik secara terus menerus. Sasaran kadarzi adalah semua anggota keluarga. Perilaku sadar gizi yang diharapkan terwujud minimal adalah :

 

-     Menimbang Berat Badan (BB) secara teratur

 

-     Memberi ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai berumur 6 bulan (ASI Eksklusif)

 

-     Makan beranekaragam makanan

 

-     Menggunakan garam beryodium

 

-     Minum suplemen gizi sesuai anjuran.

 

Tujuan Umum KADARZI:   Agar seluruh keluarga berperilaku sadar gizi.

 

Tujuan Khusus KADARZI:

 

-     Meningkatnya kemudahan keluarga dan masyarakat memperoleh informasi gizi

 

-     Meningkatnya kemudahan keluarga dan masyarakat memperoleh pelayanan gizi yang berkualitas.

 

2.    Arti, tujuan dan kegiatan Posyandu

 

Posyandu adalah wadah pelayanan kesehatan di tingkat desa/ kelurahan, dilaksanakan secara berkesinabungan yang melibatkan masyarakat, kader, bidan di desa (Poskesdes) dan Puskesmas.

 

Tujuan Pos Pelayanan Terpadu

 

-       Untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran

 

-     Untuk mempercepat diterimanya Norma Keluarga Kecil Bahagia dan sejahtera.

 

-     Agar masyarakat dapat mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

 

 

-       Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

 

-     Pelayanan gizi : memberikan paket pertolongan gizi, seperti, tablet Fe, vitamin A

 

-     Imunisasi

 

-     Keluarga Berencana dan Penanggulangan diare

 

-     Konseling Gizi


 

 

 

Kegiatan KADARZI di Posyandu :

 

a.    Pemantauan pertumbuhan balita yaitu dengan menimbang berat badan balita setiap bulan

 

b.    Mengisi Kartu Menuju Sehat untuk mencatat hasil penimbangan, untuk memantau pertumbuhan dan kesehatan balita.

 

KMS Balita adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur. Dengan KMS gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat.

 

Bila grafik berat badan anak mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS, artinya anak tumbuh normal, kecil risiko anak untuk mengalami gangguan pertumbuhan. Sebaliknya bila grafik berat badan tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan, anak kemungkinan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan.

 

KMS Balita yang baru dibedakan antara KMS anak laki-laki dan perempuan. KMS anak laki-laki berwarna biru dan terdapat tulisan untuk laki-laki. KMS anak perempuan berwarna merah muda dan terdapat tulisan untuk perempuan. Pada KMS yang baru mencantumkan kenaikan Berat Badan Minimum(KBM) yang dianjurkan dicapai setiap bulannya.

 

Fungsi KMS:

 

-       Sebagai alat memantau pertumbuhan anak, yang dapat dilihat dari grafik pertumbuhan

 

 

-       Sebagai catatan pelayanan kesehatan anak

 

-       Sebagai alat edukasi, dimana didalam KMS dicantumkan pesan-pesan dasar perawatan anak seperti pemberian makanan anak, perawatan anak bila menderita

 

diare.

 

Kegunaan KMS:

 

Bagi Orang Tua : Dapat mengetahui status pertumbuhan anaknya. Dianjurkan agar setiap bulan membawa balitanya ke Posyandu untuk ditimbang.

 

Bagi Kader : KMS digunakan untuk mencatat BB anak dan pemberian kapsul vitamin A serta menilai hasil penimbangan

 

Bagi Petugas Kesehatan : Petugas dapat menggunakan KMS untuk mengetahui jenis pelayanan kesehatan yang telah diterima anak, seperti imunisasi dan kapsul vitamin A.


 

 

 

Hal-hal yang perlu dicatat dan diketahui di KMS balita adalah:

 

-     Identitas anak

 

-     Catatan hasil penimbangan anak.

 

-     Catatan perkembangan anak dalam bentuk grafik

 

-     Catatan pemberian ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping ASI

 

-     Kenaikan Batas Minimum (KBM) yang tercantum dibawah kurva, merupakan kenaikan berat badan minimum anak sesuai dengan pertambahan umur anak

 

-     Catatan pemberian Imunisasi

 

-     Catatan Penanggulangan diare

 

-     Catatan pemberian kapsul vitamin  A

 

-     Cacatan kondisi kesehatan anak

 

-     Catatan tentang pemberian makanan anak

 

-     Catatan dan Rujukan ke Puskesmas/ RS

 

Gambar KMS perempuan dan laki-laki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c.    Pemberian Makanan Tambahan (PMT)

 

Makanan tambahan pemulihan untuk balita berbasis makanan lokal ada 2 jenis yaitu berupa:

 

 

a.    MP-ASI (untuk bayi dan anak berusia 6-23 bulan)

 

b.   Makanan tambahan untuk pemulihan anak balita usia 24-59 bulan berupa makanan keluarga.

 

 

3.    Peranan Pramuka dalam Posyandu

 

a.    Membantu Persiapan

 

Penyiapan 4 meja yang akan digunakan dalam kegiatan.


 

 

 

Mencatat hasil penimbangan di meja 1

 

Menyiapkan alat-alat penyuluhan di meja 4 seperti lembar balik contoh makanan mentah. Menyiapkan paket pertolongan gizi di meja 4 (vitamin A dosis tinggi, tablet tambah

 

darah dan oralit).

 

b.    Membantu Membagikan Paket Pertolongan Gizi.

 

Membantu membungkus tablet tambah darah

 

Membantu memberikan kapsul vitamin A dosis tinggi ke dalam mulut anak

 

c.    Membantu Penyelenggaraan PMT Penyuluhan

 

Membantu menyiapkan tempat penyuluhan

 

Membantu menyiapkan media penyuluhan, seperti contoh makanan mentah, papan tulis atau kertas flip-chart.

 

d.    Membantu Kegiatan Penimbangan Dan Pengisian KMS.

 

Membantu mencatat hasil penimbangan sebelum dimasukkan ke dalam KMS. Kertas berisi catatan hasil penimbangan tersebut diplot ke dalam KMS.

 

Membantu mencatat nama anak dan orang tua pada KMS bagi peserta baru.

 

 

4.    Strategi Operasional Kadarzi

 

- Meningkatkan fungsi dan peran posyandu sebagai wahana masyarakat dalam memantau dan mencegah secara dini gangguan pertumbuhan balita.

- Menyelenggarakan promosi gizi secara sistimatis melalui sosialisasi dan pendampingan keluarga

 

- Menggalang kerjasama dengan lintas sektor dan kemitraan dengan swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta pihak lainnya dalam mobilisasi sumber daya untuk penyediaan pangan rumah tangga, peningkatan daya beli keluarga dan perbaikan asuhan gizi

 

- Mengupayakan terpenuhinya kebutuhan suplementasi gizi terutama zat gizi mikro dan MP ASI bagi balita GAKIN

 

 

5.    Cara Untuk Meningkatkan Cakupan Posyandu :

 

a.    Melengkapi sarana/ prasarana Posyandu

 

b.    Pendataan sasaran Posyandu


 

 

 

c.    Penyebarluasan kegiatan Posyandu sebelum hari H

 

d.   Kunjungan rumah kepada keluarga yang balitanya tidak dibawa ke Posyandu

 

e.    Penyuluhan gizi di Posyandu:

 

- Demo memasak makanan bergizi

 

- Diskusi kelompok terarah bagi kelompok ibu-ibu, ayah, remaja, tentang gizi yang terkait 5(lima) perilaku sadar gizi

 

 

-  Penyebarluasan informasi pelaksanaan posyandu melalui institusi keagamaan, sekolah, tempat-tempat umum, warung, dll.

 

 

6.    Kegiatan dalam Kelembagaan Kadarzi di Tingkat Desa

 

Pertemuan Tingkat Desa merupakan forum pertemuan yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, kader Poskesdes, perangkat desa/ kelurahan dan dihadiri oleh petugas puskesmas dan lintas sektor tingkat kecamatan. Pertemuan tersebut sebagai upaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di bidang gizi/ kesehatan. Di dalam pertemuan dibahas masalah-masalah gizi/ kesehatan yang ada di desa dan langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan.

 

Keberhasilan Kadarzi akan sangat tergantung pada kerjasama lintas sektor diberbagai tingkatan administrasi. Pada tingkat nasional kegiatan Kadarzi dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan, dan pada tingkat provinsi, kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan yang dalam pelaksanaannya dilakukan bersama dengan kelembagaan yang ada dan terkait seperti : Pokjanal Posyandu, Dewan Ketahanan Pangan, Tim Pangan dan Gizi, Instansi Pemberdayaan Masyarakat, Tim Penggerak PKK,dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi :

 

1.  Buku Krida Bina Gizi

 

2.  Pedoman Keluarga Sadar Gizi (KADARZI)


 

 

 

IV. SKK Perencanaan Menu

 

Deskripsi :

 

Pramuka Penegak dan Pandega menguasai perencanaan menu dengan gizi seimbang, dapat menjelaskan cara menyusun hidangan sehat dan seimbang untuk sekali makan dan menu untuk 3 (tiga) hari makan, serta dapat menggunakan daftar bahan makanan penukar.

 

 

Tujuan Pembelajaran Umum   : Peserta mampu memahami SKK Perencanaan Menu

 

Tujuan Pembelajaran Khusus  : Peserta mampu :

 

1.   Menjelaskan definisi dan prinsip Perencanaan Menu

 

2.   Menjelaskan manfaat dan langkah-langkah Perencanaan Menu

 

3.   Menjelaskan kebutuhan gizi perorangan

 

4.   Menyusun menu gizi seimbang

 

5.   Menggunakan daftar bahan makanan penukar

 

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan :

 

1.         Definisi dan prinsip Perencanaan Menu

 

2.         Manfaat dan langkah-langkah Perencanaan Menu

 

3.         Kebutuhan gizi perorangan

 

4.         Penyusunan menu gizi seimbang

 

5.         Daftar bahan makanan penukar


 

Metode Pembelajaran


: Curah pendapat, CTJ


 

Media dan Alat Bantu


: Bahan  tayang  (slide  power  point),  LCD  Projector,  Notebook


 

Computer, Modul, White Board, Flipchart, Spidol.


 

 

Uraian Materi :

 

1.    Definisi dan prinsip Perencanaan Menu

 

Perencanaan Menu adalah suatu kegiatan penyusunan menu yang akan diolah untuk memenuhi selera konsumen dan kebutuhan zat gizi yang memenuhi prinsip gizi seimbang, yaitu makan makanan yang beranekaragam berasal dari hidangan sehari-hari, mengandung unsur-unsur zat gizi yang dibutuhkan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya, yang terdiri dari sumber zat tenaga (karbohidrat), zat pembangun (protein) dan zat pengatur (vitamin dan mineral).

 

Prinsip perencanaan menu, yaitu:

 

1.   Memenuhi kebutuhan gizi

 

2.   Sesuai dengan dana yang tersedia

 

3.   Disukai dan memuaskan konsumen yang diberi makan


 

 

 

Beberapa cara untuk menekan biaya adalah dengan penggunaan bahan makanan menurut musimnya, penyesuaian menu dengan “hari pasar” (unt uk daerah/tempat dimana hari pasar tidak setiap hari), penggunaan sebanyak mungkin bahan makanan berasal dari pekarangan sendiri, serta menyusun menu tunggal yang padat gizi, seperti nasi soto, nasi pecel, dan lain-lain.

 

 

2.    Manfaat dan langkah-langkah Perencanaan Menu Manfaat suatu perencanaan menu :

 

1.   Secara garis besar dapat disusun hidangan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan

 

2.   Variasi dan kombinasi makanan dapat diatur, sehingga dapat dihindari kebosanan disebabkan pemakaian jenis bahan makanan yang sering terulang.

 

3.   Menu dapat disusun sesuai dengan dana yang tersedia, sehingga uang belanja dapat diatur (merancang dana sesuai kondisi keuangan)

 

4.   Waktu dan tenaga yang tersedia dapat digunakan sehemat mungkin, misalnya dengan membeli bahan makanan kering sekaligus untuk beberapa hari/seminggu atau untuk satu bulan.

 

2. Menghilangkan keragu-raguan para perencana menu dalam hal pemilihan bahan makanan.

 

 

Merencanakan menu untuk 10 hari tidak semudah merencanakan menu siklus pendek, misalnya untuk 1 (satu) hari atau 3 (tiga) hari.

 

Untuk mempermudah perencanaan menu, maka dapat diikuti langkah-langkah berikut:

 

1.   Buat pola dan susunan menu untuk jangka waktu yang diinginkan

 

2.   Pertama kali cantumkan bahan makanan sumber hidrat arang dalam daftar menu (nasi/roti/mie dan sebaginya).

 

3.   Kemudian cantumkan bahan makanan sumber protein (daging/ikan/telur dan sebagainya , tahu/tempe/kacang merah dan sebagainya). Buat variasi untuk menghindari kebosanan.

 

4.   Berikutnya cantumkan sayuran, dalam warna kontras dan rasa yang serasi.

 

5.   Selanjutnya cantumkan buah. Penggunaan sayuran dan buah yang sedang akan sangat membantu masalah biaya.


 

 

 

6.   Terakhir cantumkan makanan selingan, usahakan sebanyak mungkin variasi hidangan untuk menghindari kebosanan.Kemudian periksa kemungkinan adanya penggunaan menu

 

berulang dan lakukan perbaikan bila perlu.

 

Contoh menu pagi:

 

Merupakan hidangan aneka ragam yang sederhana, mengenyangkan dan mudah dikerjakan.

 

        1  piring nasi,  1 potong telur dadar, lalap teh manis atau

 

        3  iris roti rawar,  1 telur ceplok, daun slada, tomat, the manis atau

 

        1  mangkok mie, sayur sawi, telur, teh manis

 

 

 

 

1 piring nasi, 1 potong ikan goreng, 1 potong tahu balado, 1 mangkok sayur asem, 1 potong papaya.

 

 

3.    Kebutuhan gizi perorangan

 

Kebutuhan gizi seorang sehari berbeda-beda, ini ditentukan oleh: umur, jenis kelamin dan macam pekerjaan yang dilakukan:

 

a. Umur

 

Kebutuhan kalori untuk tubuh anak-anak, lebih tinggi bila dibandingkan pada orang dewasa. Begitu pula kebutuhan kalori anak-anak remaja, lebih tinggi dari orang dewasa. Hal ini terjadi karena kalori yang dibutuhkan juga diperlukan untuk pertumbuhan. Pada usia tua aktifitas berkurang, sehingga kebutuhan kalori menjadi lebih rendah dari pada usia muda.

 

b. Jenis kelamin

 

Pada masa remaja dan dewasa, laki-laki lebih banyak membutuhkan kalori dibanding wanita, karena laki-laki mempunyai lebih banyak otot dan lebih aktif.

 

 

c. Macam pekerjaan.

 

Orang dewasa yang bekerja berat (petani, pembantu rumah tangga) membutuhkan lebih banyak kalori daripada orang yang bekerja sedang (perawat yang bekerja di rumah sakit) dan orang yang bekerja ringan (juru tulis)


 

 

 

4.    Penyusunan menu gizi seimbang

 

Dalam merencanakan menu untuk 3 (tiga) hari perlu dihindari pengulangan pemakaian jenis bahan makanan (kcuali bahan makanan pokok, seperti beras) dan pengulangan dalam cara pemasakan. Hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah kebosanan.

 

Contoh menu  3  (tiga) hari:

 

Hari  I

Pagi  :

Nasi, semur daging

 

10.00 :

Kue dadar

 

Siang:

Nasi, ayam goreng, sambal goreng kering tempe, sayur lodeh nangka,

 

 

 

semangka

 

16.00 :  Kolak ubi

 

Malam : Nasi, daging bumbu rujak, tahu goreng,tumis kangkung, pisang ambon

 

 

 

 

Hari II

Pagi

 

:  Roti tawar, telur ceplok + tomat

 

10.00

 

:  Kue talam

 

Siang

:  Nasi, daging empal, sambal goreng tahu, sayur bening, jeruk

 

16.00

 

:  Pisang goreng

 

Malam :  Nasi, ikan goreng balado, kripik tempe, sayur kari, pisang raja sereh

 

 

 

 

Hari III

Pagi

 

:  Nasi goreng komplit, lalap ketimun + tomat

 

10.00

 

:  Puding agar

 

Siang

:  Nasi, perkedel  daging, soto daging +  ayam, sambal, nanas

 

16.00

 

:  Bubur kacang hijau

 

Malam :  Nasi, Fu Yung Hay, +  saos tomat, sup bakso tahu, sawo

 

 

 

 

 

Salah satu kesulitan dalam merencanakan menu untuk orang banyak adalah selera setiap orang tidak sama.

 

 

Di samping hal-hal yang prinsip seperti kebutuhan gizi, dana yang tersedia, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

 

1.   Rasa harus netral misalnya tidak terlalu asin, tidak terlalu pedas dan sebaiknya. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena makanan yang tidak dimakan/ dihabiskan akan merugikan baik konsumen maupun pihak penyelenggara.


 

 

 

2.   Mudah dikerjakan, misalnya perkedel jaung adalah hidangan yang cukup digemari, tetapi sulit dikerjakan.

 

3.   Mudah dibagikan, tidak rusak akibat alat atau penanganan yang dilakukan.

 

4.   Tidak memerlukan banyak alat pada waktu pengolahan

 

5.   Gunakan alat yang sederhana dalam pengolahan

 

6.   Harus dipikirkan bahan makanan penukar. Hal ini penting karena ada seorang yang peka/alergi terhadapt jenis bahan makanan tertentu.

 

7.   Dapat dipertimbnagkan pula kemungkinan “One dish meal” atau makanan penuh dalam satu resep, misalnya:

 

   Nasi/lontong soto

 

   Gado-gado lontong

 

   Mie kuah/goreng

 

 

5.    Daftar bahan makanan penukar

 

“Daftar Bahan Makanan Penukar” merupakan alat yang sangat berguna untuk menyusun menu yang bervariasi. Dengan berpedoman pada daftar Bahan Makanan Penukar dapat direncanakan suatu menu seimbang. Dalam daftar tersebut dicantumkan penggolongan bahan makanan menurut kandungan zat gizi. Bahan makanan pada tiap golongan dalam jumlah yang tercantum dalam daftar bernilai sama, oleh sebab itu satu sama lain dapat saling menukar.

 

Contoh :

 

a. 100 gram (3/4 gelas) nasi dapat ditukar dengan 200 gram (4 buah kecil) kentang atau ditukar dengan 150 gram (1 buah sedang) ubi atau ditukar dengan 80 gram (2 iris sedang) roti tawar.

 

b. 50 gram (1 potong sedang) daging sapi dapat ditukar dengan 60 gram (1 butir telur besar) telur ayam negeri atau dengan 50 gram (1 potong sedang) ikan segar atau dengan 25 gram (2 sendok makan) ikan teri.

 

c. 25 gram (2 ½ sendok makan) kacang hijau dapat ditukar dengan 100 gram (1 biji besar) tahu atau ditukar dengan 50 gram (2 potong sedang) tempe.

 

d. 100 gram (1 potong sedang) papaya dapat ditukar dengan 50 gram (1 buah kecil) pisang ambon atau dengan 75 gram (1/6 buah sedang) nenas.


 

 

 

e. 200 gram (1 gelas) susu sapi dapat ditukar dengan 25 gram ( 4 sendok makan) susu bubuk.

 

 

f.  5 gram (1/2 sendok makan) minyak goreng dapat ditukar dengan 5 gram (1/2 sendok makan) margarine atau 30 gram (5 sendok makan) kelapa parut.

 

 

Referensi :

 

1.   Buku SKK Krida Bina Gizi

 

2.   AKG 2005

 

3.   Penuntun Diet


 

 

 

V.      SKK Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat

 

Deskripsi :

 

Pramuka Penegak dan Pandega menguasai penanganan gizi dalam situasi darurat, menjelaskan mengenai makanan dan perencanaan menu dalam situasi darurat serta mampu menyelenggarakan dapur umum pada situasi darurat.

 

 

Tujuan Pembelajaran Umum      : Peserta mampu memahami SKK Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat

 

Tujuan Pembelajaran Khusus  : Peserta mampu :

 

1.        Menjelaskan tujuan penanganan gizi dalam situasi darurat

 

2.        Menjelaskan tahapan penanganan gizi dalam situasi darurat

 

3.        Menjelaskan syarat-syarat makanan darurat

 

4.        Menjelaskan perencanaan menu dalam situasi darurat

 

5.        Menyebutkan perlengkapan dapur umum

 

6.        Menjelaskan intervensi gizi dalam situasi darurat

 

7.        Menjelaskan pemantauan status gizi dalam situasi darurat

 

8.        Menjelaskan administrasi dapur umum

 

9.        Menjelaskan persiapan dapur umum

 

10.    menjelaskan pengorganisasian penanganan gizi dalam situasi darurat

 

 

Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan :

 

1.        Tujuan penanganan gizi dalam situasi darurat

 

2.        Tahapan penanganan gizi dalam situasi darurat

 

3.        Syarat-syarat makanan darurat

 

4.        Perencanaan menu dalam situasi darurat

 

5.        Perlengkapan dapur umum

 

6.        Intervensi gizi dalam situasi darurat

 

7.        Pemantauan status gizi dalam situasi darurat

 

8.        Administrasi dapur umum

 

9.        Persiapan dapur umum

 

10.    Pengorganisasian penanganan gizi dalam situasi darurat


 

Metode Pembelajaran


:


Curah pendapat, CTJ


 

Media dan Alat Bantu


:


Bahan


tayang


(slide


power


point),


LCD


Projector,


Notebook


 

Computer, Modul, White Board, Flipchart, Spidol, Tungku/kompor, Baskom, Panci besar, Wajan, Ceret, Alat menanak nasi, Talenan, Serok, Ulekan, Tampah, Cangkir, Alat untuk menakar, Susu Bubuk, Air Panas, Daftar Bahan Makanan Penukar, Bahan makanan.


 

 

 

Uraian Materi :

 

1.    Tujuan penanganan gizi dalam situasi darurat

 

Tujuan Umum: Menangani gizi dalam situasi darurat secara cepat dan tepat sehingga dapat mencegah terjadinya penurunan status gizi pengungsi.

 

Tujuan Khusus:

 

1.   Pemberian makanan kepada  pengungsi  dalam situasi darurat.

 

2.   Mendukung pemberian makanan yang baik dalam keadaan darurat

 

3.   Dapat mengenali dan memecahkan masalah pada pemberian makanan khususnya pada bayi

 

dan baduta dalam keadaan darurat di lapangan.

 

Ruang Lingkup:

 

Penanganan gizi darurat dimulai sejak terjadinya bencana sampai dikeluarkan pernyataan selesainya situasi darurat oleh Kepala Daerah.

 

 

2.    Tahapan penanganan gizi dalam situasi darurat

 

Penanganan gizi umum dalam situasi darurat terdiri dari 2 tahap yaitu tahap penyelamatan dan tahap tanggap darurat.

 

a.    Tahap Penyelamatan

 

Tahap penyelamatan terdiri dari 2 fase yaitu:

 

1)  Fase pertama

 

Ditandai dengan kondisi sebagai berikut:

 

-       Korban bencana bisa dalam pengungsian atau belum dalam pengungsian

 

-       Petugas belum sempat mengidentifikasi korban secara lengkap

 

-       Bantuan pangan sudah mulai berdatangan

 

-       Adanya penyelenggaraan dapur umum

 

-       Tenaga gizi mulai terlibat sebagai penyusun menu dan mengawasi penyelenggaran dapur umum, pada tahap ini anggota saka dapat membantu atau bekerjasama

 

-        Pemberian makanan pada fase ini bertujuan agar pengungsi tidak lapar dan dapat mempertahankan status gizinya. Lamanya fase pertama tergantung dari situasi dan kondisi setempat di daerah bencana.


 

 

 

2) Fase kedua

 

Fase kedua setelah selesai fase pertama. Pada fase ini sudah ada gambaran lebih rinci

 

tentang keadaan pengungsi seperti jumlah menurut golongan umur dan jenis kelamin,

 

keadaan  lingkungan,    keadaan   penyakit,   dan   sebagainya,   sehingga    perencanaan

 

pemberian makanan sudah lebih terinci.

 

Kegiatan yang dilakukan meliputi :

 

-       Membantu petugas melakukan skrining status gizi bayi dan balita serta ibu hamil, menggunakan pita LiLA.

 

-       Membantu pengumpulan dan pengolahan data status gizi sebagai tindak lanjut hasil skrining .

 

-       Membantu merencanakan kebutuhan suplementasi gizi, khususnya bagi kelompok sasaran yang membutuhkan.

 

-       Membantu menyediakan Paket Bantuan Pangan (ransum) yang cukup dan mudah di konsumsi oleh semua golongan umur dan diusahakan menu makanan dapat sesuai dengan kebiasaan makan setempat, mudah diangkut, disimpan dan didistribusikan serta memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.

 

 

b.   Tahap Tanggap Darurat

 

Tahap ini dimulai setelah selesai tahap penyelamatan. Kegiatan dalam tahap tanggap darurat meliputi:

 

-       Melaksanakan pemberian makanan sesuai dengan perkembangan kondisi kedaruratan.

 

-       Pemberian makanan tambahan dan suplementasi gizi.

 

-       Melakukan penyuluhan kelompok dan konseling perorangan dengan materi sesuai dengan kondisi saat itu.

 

-       Memantau perkembangan status gizi balita melalui surveilans.

 

 

3.        Syarat-syarat makanan darurat

 

-       Menu harus sederhana, tetapi memenuhi syarat gizi dan kesehatan.

 

-       Susunan hidangan dapat dengan cepat dikerjakan

 

-       Bentuk manakan praktis/mudah dibagikan

 

-       Perencanaan menu disusun berdasarkan suplai bahan yang tersedia


 

 

 

-       Bentuk  makanan disesuaikan bayi dan dewasa.

 

-       Menggunakan bahan makanan yang tidak banyak membuat sampah.

 

-       Menggunakan bumbu yang tidak merangsang

 

-       Makanan harus bersih dan aman

 

 

4.        Perencanaan menu dalam situasi darurat

 

Perencanaan menu dalam situasi demikian memegang peranan penting untuk mengatur pemakaian bahan makanan dan menyiapkan menu bergizi untuk setiap hari.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

 

-          Menu disusun menurut bahan yang tersedia dan sesuai dengan kecukupan gizi dalam keadaan darurat.

 

-          Walaupun sederhana, usahakan ada variasi yang serasi agar dapat menimbulkan selera makan.

 

-          Harus mudah dikerjakan, mengingat pertimbangan keadaan tenaga, alat dan lingkungan yang ada.

 

-          Menu dipilih yang tidak memerlukan banyak peralatan dan tenaga, baik pada waktu persiapan, pengolahan maupun pada waktu membagi dan bacalah label setiap akan menggunakan bahan makanan yang dikemas.

 

 

5.        Perlengkapan dapur umum Peralatan minimal yang harus ada: a. Tungku/kompor

 

b. Baskom

 

c. Panci besar d. Wajan

 

e.  Ceret

 

f.     Alat menanak nasi

 

g.    Talenan

 

h.    Serok

 

i.      Ulekan

 

j.      Tampah


 

 

 

Sebaiknya dipersiapkan alat makanan yang praktis, mudah dibawa dan ringan serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai fungsi. Bila alat makan yang digunakan adalah daun pisang, plastik atau besek perlu diberikan perhatian keamanan, kebersihan dan sanitasi dari bahan yang digunakan.

 

 

6.        Intervensi gizi dalam situasi darurat

 

1.   PENANGANAN GIZI PADA BAYI DAN ANAK DI BAWAH USIA DUA TAHUN (BADUTA)

 

Anak usia 0-24 bulan merupakan kelompok yang rawan ketika harus mengalami situasi darurat, mengingat kelompok anak ini sangat rentan dengan perubahan konsumsi makanan dan kondisi lingkungan yang terjadi tiba-tiba. Oleh karena itu, dari aspek penanganan gizi perlu perhatian khusus.

 

Prinsip pemberian makanan pada bayi dan anak (PMBA) dalam situasi darurat sebagai berikut :

-       PMBA dalam situasi darurat harus dilakukan dengan benar dan tepat waktu

 

-       Pemberian ASI pada bayi/baduta sangat penting tetap diberikan pada situasi darurat.

 

-       Institusi penyelenggara PMBA adalah Dinas Kesehatan setempat yang mempunyai tenaga terlatih penyelenggara PMBA dalam situasi darurat

 

-       Dalam hal Dinas Kesehatan setempat belum memiliki atau keterbatasan tenaga pelaksana PMBA dalam situasi darurat, dapat meminta bantuan tenaga dari Dinas Kesehatan lainnya

 

-       PMBA harus di integrasikan pada pelayanan kesehatan ibu, bayi dan anak

 

-       Penyelenggaraan PMBA diawali dengan penilaian cepat untuk mengidentifikasi kedaaan ibu, bayi dan anak termasuk bayi dan anak piatu.

 

-       Ransum pangan darurat harus mencakup kebutuhan makanan yang tepat dan aman dalam memenuhi kecukupan gizi bayi dan anak

 

-       Susu formula, produk susu lainnya, botol dan dot tidak termasuk dalam pengadaan ransum darurat.

 

Dukungan Untuk Keberhasilan PMBA :

 

-   Penyediaan tenaga konselor menyusui di pengungsian.


 

 

 

-       Tenaga kesehatan, relawan kesehatan dan LSM/NGO kesehatan memberikan perlindungan, promosi dan dukungan kepada ibu-ibu untuk keberhasilan menyusui termasuk ibu yang sebelumnya berhenti menyusui dibantu untuk menyusui kembali (relaktasi).

 

-       Memberikan konseling menyusui dan pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) di pengungsian, Rumah Sakit lapangan dan tempat pelayanan kesehatan lainnya yang ada dilokasi bencana.

 

-       Pembentukan pos pemeliharaan dan pemulihan gizi bayi dan baduta

 

-       Melakukan pendampingan kepada keluarga yang memiliki bayi atau anak yang menderita masalah gizi

 

a.      Bayi

 

1)   Bayi tetap diberi ASI

 

2)   Bila bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya atau ibu tidak dapat memberikan ASI, upayakan bayi mendapat bantuan ibu susu/donor.

 

3)   Bila tidak memungkinkan bayi mendapat ibu susu/donor, bayi diberikan susu formula dengan pengawasan atau didampingi oleh petugas kesehatan.

 

b.     Baduta

 

1)   Baduta tetap diberi ASI

 

2)   Pemberian MP-ASI yang difortifikasi dengan zat gizi mikro, pabrikan atau makanan lokal pada anak usia 6-23 bulan.

 

3)   Pemberian makanan olahan yang berasal dari bantuan ransum umum yang mempunyai nilai gizi tinggi.

 

4)   Pemberian kapsul vitamin A warna biru pada bayi usia 6-11 bulan dan kapsul vitamin A warna merah pada anak usia 12-59 bulan pada Bulan Februari dan Agustus.

 

5)   Dapur umum wajib menyediakan makanan olahan untuk untuk anak usia 6-24 bulan

 

6)   Air minum dalam kemasan diupayakan selalu tersedia di tempat pengungsian

 

c.      Penanganan Bantuan dan Persediaan Susu Formula/PASI

 

1)   Memberikan informasi kepada donor dan media massa bahwa bantuan berupa susu formula/PASI, botol dan dot pada korban bencana tidak diperlukan.


 

 

 

2)   Bantuan berupa susu formula/PASI harus mendapat izin dari Kepala Dinas Kesehatan setempat.

 

3)   Pendistribusian dan pemanfaatan susu formula/PASI harus diawasi secara ketat oleh petugas kesehatan, Puskesmas dan Dinas kesehatan setempat.

 

4)   Bila menggunakan susu formula harus diusahakan untuk mengurangi dampak buruk pemberian susu formula dengan memastikan cukup persediaan yang berkelanjutan, aman penyiapannya, tersedia air minum dan peralatan yang bersih dan cukup bahan bakar.

 

d.      Kriteria bayi dan baduta yang mendapat susu formula/PASI

 

1)   Bayi dan baduta yang benar-benar membutuhkan sesuai pertimbangan profesional tenaga kesehatan yang berkompeten (indikasi medis).

 

2)   Bayi dan baduta yang sudah menggunakan susu formula sebelum situasi darurat

 

 

3)   Bayi dan baduta yang terpisah dari Ibunya (tidak ada donor ASI)

 

4)   Bayi dan baduta yang ibunya meninggal, ibu sakit keras, ibu sedang menjalani relaktasi, ibu menderita HIV+ dan memilih tidak menyusui bayinya, ibu yang ketergantungan obat dan alkohol, ibu dalam penjara serta ibu cacat mental.

 

e.      Cara Penyiapan dan Pemberian Susu Formula

 

1)   Gunakan cangkir atau gelas yang mudah dibersihkan, diberikan sabun untuk mencuci alat yang digunakan

 

2)   Gunakan selalu alat yang bersih untuk membuat susu dan menyimpannya dengan benar

 

3)   Sediakan alat untuk menakar air dan susu bubuk (jangan menakar menggunakan botol susu)

 

4)   Sediakan bahan bakar untuk memasak air dan gunakan air bersih, jika memungkinkan gunakan air minum dalam kemasan

 

2.    PENANGANAN GIZI PADA ANAK USIA 2 - 5 TAHUN, IBU HAMIL, IBU MENYUSUI, DAN USIA LANJUT,

 

Jenis makanan :

 

-       Petugas gizi melakukan identifikasi ketersediaan bahan makanan yang diperlukan.

 

-       Petugas gizi menyusun menu dan porsi untuk setiap kelompok sasaran.


 

 

 

-       Hindari penggunaan susu dan makanan lain yang dalam penyiapannya menggunakan air, penyimpanan yang tidak higienis, karena berisiko terjadinya diare, infeksi dan

 

keracunan.

 

 

-       Keragaman menu makanan dan jadwal pemberian disesuaikan dengan kemampuan tenaga pelaksana, di bawah Koordinator dapur umum. Daftar Menu Harian ditempel di tempat yang mudah dilihat oleh pelaksana pengolahan makanan.

 

-       Pemberian kapsul Vitamin A untuk balita tetap dilaksanakan sesuai siklus distribusi Bulan Februari dan Agustus.

 

-       Ibu hamil tetap mendapatkan tablet Fe sesuai aturan.

 

3.  PENANGANAN GIZI PADA KELOMPOK DEWASA

 

 

-       Pemilihan bahan makanan disesuaikan dengan ketersediaan bahan makanan di gudang.

 

-       Keragaman menu makanan dan jadwal pemberian disesuaikan dengan kemampuan tenaga pelaksana, di bawah Koordinator dapur umum. Daftar Menu Harian ditempel di tempat yang mudah dilihat oleh pelaksana pengolahan makanan.

 

Pemberian makanan/minuman/ suplemen harus didasarkan kepada arahan Tim Dokter dan Ahli Gizi yang menangani agar terhindar dari dampak negatif yang ditimbulkan.

 

 

7.        Pemantauan status gizi dalam situasi darurat

 

Tahapan yang dilakukan pada pendataan korban/pengungsi dalam keadaan darurat adalah :

 

a.    Mendata korban/pengungsi yang meliputi jumlah KK, jumlah pengungsi (jiwa), jenis kelamin, umur dan bumil/buteki/usila. Di samping itu diperlukan data penunjang lainnya misalnya : luas wilayah, jumlah camp, dan sarana air bersih, yang dapat diperoleh dari sumber data lainnya. Data tersebut digunakan untuk menghitung kebutuhan bahan makanan pada tahap penyelamatan dan merencanakan tahapan berikutnya.

 

b.    Melakukan skreening status gizi bayi dan balita serta ibu hamil dengan menggunakan pita LiLA (Lingkar Lengan Atas)

 

c.    Tindak lanjut hasil screening melakukan pengumpulan data antropometri meliputi : berat badan (BB), tinggi badan (TB)/panjang badan (PB) untuk menentukan status gizi.


 

 

 

d. Mengumpulkan data penunjang lainnya seperti : diare, ISPA/Pneumonia, campak, malaria, angka kematian kasar dan kematian balita. Data ini digunakan untuk menentukan tingkat kedaruratan gizi dan jenis intervensi yang diperlukan.

 

e.    Membantu menghitung prevalensi status gizi balita berdasarkan indeks BB/TB-PB yang kemudian diklasifikasikan menjadi :

 

a.      sangat kurus (gizi buruk)

 

b.      kurus (gizi kurang)

 

c.      normal (gizi baik)

 

d.      gizi lebih

 

 

8.        Administrasi dapur umum

 

Dapur Umum Makanan Darurat diselenggarakan untuk melayani masyarakat yang tertimpa musibah disebabkan bencana alam, bencana sosial (pengungsi akibat kerusuhan sosial) yang mengakibatkan sejumlah besar masyarakat kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Misalnya pada peristiwa banjir, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, angin topan, kebakaran.

 

Walaupun kegiatan penyelenggaraan makanan di Dapur Umum Makanan Darurat dalam situasi darurat dan bersifat sementara, pertanggungjawaban terhadap kelangsungan seluruh kegiatan perlu mendapat perhatian. Oleh sebab itu kegiatan administrasi perlu dilakukan.

 

Kegiatan tersebut meliputi:

 

1.    Pencatatan barang-barang yang diterima

 

2.    Pencatatan barang-barang persediaan/gudang

 

3.    Pencatatan perbelanjaan

 

4.    Pencatatan jumlah orang yang dilayani

 

5.    Pencatatan jumlah petugas dengan tugas dan tanggungjawab

 

6.    Pencatatan inventarisasi barang dan perlengkapan

 

7.    Pencatatan pemakaian bahan makanan setiap kali makan.


 

 

 

9.        Persiapan dapur umum

 

a. Menentukan Lokasi Dapur Umum Makanan Darurat.

 

Pada dasarnya ada dua kemungkinan tempat/lokasi untuk menyelenggarakan makanan darurat, yaitu :

 

1)      Di luar ruangan, berarti membangun tempat baru di alam terbuka. Dalam hal ini beberapa persyaratan yang harus dipertimbangkan adalah:

 

-       Tempat harus datar, kering dan tidak banyak binatang kecil

 

-       Ada pohon-pohon sebagai pelindung

 

-       Dekat dengan sumber air bersih

 

-       Jauh dari tempat yang mudah menimbulkan kebakaran

 

-       Dekat dengan jalan yang mudah dilalui kendaraan pengangkut bahan, untuk keperluan dapur umum tersebut.

 

-       Dekat dengan tempat pemberian makanan.

 

2)       Di dalam ruangan, misalnya menggunakan rumah/gedung sekolah yang kosong, menggunakan markas Palang Merah setempat. Beberapa persyaratan antara lain:

 

-       Lokasi baik dan keadaan tempat tidak rusak

 

-       Tidak ada kemungkinan untuk terjadi kebakaran

 

-       Mempunyai lantai yang kuat untuk menahan peralatan yang banyak dan berat

 

-       Cukup cahaya dan penerangan

 

-       Ada fasilitas kamar mandi dan kakus

 

-       Dekat dengan jalan.

 

-       Cukup persediaan air/dekat dengan sumber air.

 

-       Dekat dengan tempat pemberian makan b. Menyiapkan Dapur Umum Makanan Darurat

 

1)       Bila diluar ruangan, diperlukan tenda-tenda

 

2)       Perhatikan saluran pembuangan air dari dapur. Bila tidak ada, perlu dibuatkan terlebih dahulu. Karena pembuangan air yang tidak baik dapat merupakan penghalang kelancaran kerja, dapat menimbulkan bau busuk dan sarang hama/bibit penyakit.

 

3)       Siapkan /letakkan tempat sampah jauh dari tempat memasak dan tempat makan.

 

4)       Ruang kerja harus diatur untuk kelancaran kerja meliputi:


 

 

 

-       Susun tempat memasak secara teratur

 

-       Meja pelayanan diletakkan berdekatan dengan tempat makan

 

-       Pintu masuk/keluar harus lebar c. Sumber Daya Manusia (SDM)

 

1)   SDM  yang bekerja di dapur umum makanan darurat, umumnya terdiri dari:

 

-     tenaga sukarelawan terlatih

 

-     anggota organisasi, terutama organisasi social

 

-     Pramuka yang telah terlatih dalam dapur umum (memiliki TKK Dapur Umum)

 

2)  Tenaga yang dikerjakan harus memiliki sikap tenang tetapi harus tangkas dan cekatan.

 

3)   Untuk meperlancar pekerjaan dan mempermudah pengawasan, petugas-petugas di dapur umum makanan darurat dibagi dalam kelompok-kelompok menurut jenis pekerjaan:

 

-           Kelompok  I : memasak nasi, bubur, air untuk minum dan mepersiapkan bumbu.

 

-           Kelompok II : mempersiapkan dan memasak lauk pauk

 

-           Kelompok  III : mempersiapan dan memasak sayuran

 

-           Kelompok IV : mempersiapkan buah, membagi/mendistribusikan makanan, mengembalikan semua alat-alat yang digunakan dan membersihkan.

 

-           Kelompok V: bertanggung jawab atas keberhasilan dapur dan keberhasilan lingkungan

 

-           Kelompok VI : bertanggung jawab atas penyediaan air bersih, dan seterusnya disesuaikan dengan situasi dan banyaknya jenis pekerjaan yang harus dilakukan

 

4)  Sikap bekerja

 

Sikap bekerja di dapur umum makanan darurat tidak sama dengan sikap bekerja di dapur lain, misalnya

 

-       Jangan membiasakan diri bekerja dengan sikap duduk, bersimpuh atau bersila

 

-       Bekerja dengan sikap berdiri menghadap meja

 

-       Para petugas menempati posisi berderet.

 

Hal-hal tersebut penting sebagai kesiap-siagaan dan untuk menghindari saling tubruk dan jauh, yang satu melompati atau menendang yang lain dan sebagainya, bilamana terjadi keadaan yang panik dalam situasi mendadak.


 

 

 

5) Pembagian Makanan

 

Dalam situasi seperti ini (bencana alam) biasanya manusia akan lebih cepat emosional. Sebab itu pelayanan yang diberikan harus cepat dan baik. Frekuensi makan dan jumlah makanan yang disajikan serta jumlah orang yang dilayani sangat mempengaruhi cara kerja. Untuk memberi pelayanan yang cepat dan baik, perlu diatur sebagai berikut :

 

-       Tempat makan dibuat  beberapa jalur dan berbaris

 

-       Alur cara pembagian makanan ditentukan dengan petunjuk yang jelas, usahakan agar pintu masuk dan pintu keluar waktu mengambil makanan dari arah yang berbeda.

 

-       Sebelum pelaksanaan pembagian semua makanan dan minuman benar-benar sudah siap di atas meja.

 

 

10.    Pengorganisasian Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat

 

Pengorganisasian penanganan gizi dalam situasi darurat merupakan bagian dari sistem penanggulangan bencana secara keseluruhan. Pengorganisasian penting dilakukan agar penyelenggaraan penanganan gizi berjalan efektif dan efisien yang terkoordinasi dengan baik.

 

Masing-masing instansi termasuk LSM mempunyai peranan yang jelas dalam penanganan gizi sehingga tidak terjadi tumpang tindih kegiatan, dan tidak ada kegiatan yang tidak ditangani.

 

Koordinasi dalam penyelenggaraan penanganan gizi dimulai sejak tahap penyelamatan fase pertama sampai keadaan darurat dinyatakan berakhir oleh Pemerintah Daerah setempat. Koordinator dalam penyelenggaraan penanganan gizi ini adalah pimpinan wilayah administratif mulai dari kepala desa/lurah, camat, bupati, walikota dan gubernur. Instansi lain, baik pemerintah maupun non-pemerintah bekerja dibawah koordinasi sesuai dengan bidang tugas, kewenangan dan kompetensi masing-masing.


 

 

 

Berikut ini adalah uraian tentang fungsi dan peran lintas sektor dalam penanganan gizi

 

dalam situasi darurat :

 

 

 

 

Koordinator Umum : Kepala Wilayah

 

 

 

Pelaksanaan di dapur umum

 

Koordinator : Aparatur Dinas Sosial setempat

 

 

 

 

 

Sektor Kesehatan

1. Menyediakan tenaga gizi

 

 

 

2. Menyusun menu 2100 Kkal dan 50 g protein

 

 

 

3. Menyusun menu untuk kelompok rawan.

 

 

 

4. Mengawasi penyelenggaraan makanan sejak dari

 

 

 

persiapan sampai distribusi

 

 

 

5. Mendistribusikan  dan  mengawasi  bantuan  bahan

 

 

 

makanan

 

 

 

 

 

Sektor PU/Kimpraswil

Menyediakan air bersih dan air minum

 

 

 

 

 

Sektor Sosial

Menyediakan ransum, fasilitas masak, tenda

 

 

 

 

 

TNI/POLRI

Menyediakan fasilitas tenda, pengamanan

 

 

 

 

 

PKK

Menyediakan   tenaga   pemasak   dan   membantu

 

 

 

distribusi.

 

 

 

 

Gerakan Pramuka

Menyediakan  tenaga  pemasak  dan  membantu

 

 

 

distribusi,  serta  membantu  pengumpulan  data

 

 

 

sasaran.

 

 

 

 

PMI

Penyediaan fasilitas dapur umum dan perlengkapan

 

 

 

makan, serta pelayanan pengobatan darurat.

 

 

 

 

Donor  Agencies  (WHO,  Unicef,

Membantu pelaksanaan rapid nutritional assessment,

 

WFP)

mengkoordinasikan NGO asing.

 

 

 

 

NGO

Penyediaan fasilitas dapur umum dan perlengkapan

 

 

 

makan

 

 

 

 

Pelaksanaan penanganan gizi di pengungsian

 

Koordinator : Dinas Sosial setempat

 

Sektor kesehatan

1. Menyediakan tenaga gizi

 

 


 

 

 

 

 

 

2.

Menyusun menu 2100 Kkal dan 50 g protein

 

 

 

3.

Menyusun menu untuk kelompok rawan.

 

 

 

4.

Mengawasi penyelenggaraan makanan dimulai dari

 

 

 

 

persiapan sampai distribusi

 

 

 

5.

Mendistribusikan  dan  mengawasi  bantuan  bahan

 

 

 

 

makanan

 

 

 

6.

Melaksanakan konseling gizi dan menyusui

 

 

 

 

 

BPOM/BBPOM

Mengawasi label makanan yang akan didistribusikan

 

 

 

kepada korban bencana.

 

 

 

 

 

PU/Kimpraswil

Menyediakan air bersih

 

 

 

 

 

Depsos

Menyediakan ransum, fasilitas masak, tenda,

 

 

 

 

 

TNI/POLRI

Penyediaan fasilitas tenda, pengamanan

 

 

 

 

 

PKK

Menyediakan tenaga pemasak dan distribusi

 

 

 

 

 

PMI

Penyediaan  fasilitas  dapur  umum  dan  perlengkapan

 

 

 

makan serta tenda.

 

 

 

 

Gerakan Pramuka

Menyediakan  tenaga  pemasak  dan  membantu

 

 

 

distribusi,  serta  membantu  pengumpulan  data

 

 

 

sasaran.

 

 

 

 

Donor Agencies (WHO, Unicef,

Membantu  pelaksanaan  surveilans  gizi,  pelatihan

 

WFP)

tenaga konselor laktasi, dan bantuan food aid.

 

 

 

 

NGO

Menyediakan fasilitas dapur umum dan perlengkapan

 

 

 

makan

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengorganisasian Lintas Program

 

 

Pusat Penanggulangan Krisis

Koordinator Sektor Kesehatan

 

 

 

 

 

 

 

 

Dit. Bina Kesehatan Ibu

Mendukung

pelaksanaan

dan

evaluasi

 

 

penanganan gizi untuk kelompok Bumil

 

 

dan Busui

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dit. Bina Kesehatan Anak

Mendukung

pelaksanaan

dan

evaluasi

 

 

 

 

 

 


 

 

 

penanganan  gizi  untuk kelompok bayi

 

dan anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dit. Pelayanan Medik Dasar

Mendukung

pelaksanaan

dan

evaluasi

 

perawatan balita gizi buruk.

 

 

 

 

 

 

 

Dit. Kesehatan Komunitas

Mendukung

pelaksanaan

dan

evaluasi

 

Pos Pemulihan Gizi dan pendampingan

 

Kader.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Subdit Surveilens

Mendukung

pelaksanaan

dan

evaluasi

 

surveilans gizi darurat

 

 

 

 

 

 

 

Dit. Penyehatan Lingkungan

Mendukung

dalam

meningkatkan

 

hygiene sanitasi perorangan.

 

 

 

 

 

 

Subdit Penanggulangan Diare

Mendukung

dalam  penurunan

angka

 

faktor-faktor pemburuk.

 

 

 

 

 

 

 

Subdit Imunisasi

Mendukung

dalam  penurunan

angka

 

faktor-faktor pemburuk.

 

 

 

 

 

 

 

Subdit Pemberantasan Vektor

Mendukung

dalam  penurunan

angka

 

faktor-faktor pemburuk.

 

 

 

 

 

 

 

 

Badan Litbangkes

Mendukung

pelaksanaan

dan

evaluasi

 

surveilans  gizi  darurat  serta  dampak

 

bencana

terhadap

status

 

gizi

 

masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengawasan bantuan bahan makanan untuk melindungi korban bencana dari dampak buruk akibat bantuan tersebut seperti diare, infeksi, keracunan, dan lain-lain, yang meliputi :

 

1.    Tempat penyimpanan bantuan bahan makanan harus dipisah antara bahan makanan umum dan bahan makanan khusus untuk bayi dan anak.

 

2.    Jenis-jenis bahan makanan yang diwaspadai termasuk makanan dalam kemasan, susu formula dan makanan suplemen.

 

3.    Untuk bantuan bahan makanan produk dalam negeri harus diteliti nomor registrasi (MD), tanggal kadaluarsa, sertifikasi halal, aturan cara penyiapan dan target konsumen.


 

 

 

4.    Untuk bantuan bahan makanan produk luar negeri harus diteliti nomor registrasi (ML), bahasa, tanggal kadaluarsa, aturan cara penyiapan dan target konsumen.

 

5.    Untuk bantuan bahan makanan yang langsung berasal dari luar negeri harus diteliti bahasa, tanggal kadaluarsa, aturan cara penyiapan dan target konsumen.

 

6.    Jika tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, petugas harus mengeluarkan bahan makanan tersebut dari daftar logistik, dan segera melaporkan kepada Koordinator Pelaksana.

 

 

Referensi :

 

1.       Buku SKK Krida Bina Gizi

 

2.       Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)

 

3.       Strategi Peningkatan Makanan Bayi dan Anak

 

4.       Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar