SKK PENANGGULANGAN PENYAKIT MALARIA
TUJUAN SKK PENANGGULANGAN PENYAKIT MALARIA
PRAMUKA
SIAGA ( 7 – 10 Tahun)
Mengetahui penyebab penyakit Malaria
Mengetahui penular penyakit Malaria
Mengetahui ciri-ciri nyamuk penular penyakit
Malaria
Mengetahui perilaku nyamuk penular penyakit
Malaria
Mengetahui tempat perkembang biakan nyamuk
penular penyakit Malaria
PRAMUKA
PENGGALANG ( 11 – 15 Tahun)
Mampu menerapkan semua SKK Penanggulangan
penyakit Malaria untuk Pramuka Siaga
Mengetahui cara penularan penyakit Malaria
Mengetahui tanda/gejala penyakit Malaria
Mengetahui cara pencegahan penyakit Malaria
Mengetahui cara pemberantasan tempat perindukan
nyamuk
Mampu melakukan
pemberantasan tempat perindukan nyamuk di lingkungan sekolah dan rumah
Mengetahui ciri-ciri telur, jentik nyamuk
penular penyakit Malaria
PRAMUKA
PENEGAK ( 16 – 20 Tahun)
Mampu menerapkan semua SKK
Penanggulangan penyakit Malaria untuk Pramuka Penggalang
Mampu menjelaskan penyebab penyakit Malaria
Mampu menjelaskan cara penularan penyakit
Malaria
Mampu menjelaskan tanda/gejala penyakit Malaria
Mampu menjelaskan cara pencegahan penyakit
Malaria
Mampu menjelaskan akibat penyakit Malaria
Mampu menemukan kasus demam
di daerah endemis Malaria sebagai kasus tersangkapenyakit Malaria
Mampu mengajak penderita untuk mencari
pengobatan di sarana pelayanan kesehatan
Mengetahui Jenis Obat Anti Malaria yang
digunakan
IV. PRAMUKA PANDEGA ( 21–
25 Tahun)
Mampu menerapkan semua SKK
Penanggulangan penyakit Malaria untuk Pramuka Penegak
Mampu membina dan
memberikan penyuluhan kepada anggota pramuka dan masyarakat tentang
pengendalian Malaria
MATERI SKK PENANGGULANGAN
PENYAKIT MALARIA
I. PRAMUKA SIAGA ( 7 – 10
Tahun)
Penyebab penyakit Malaria adalah parasit Plasmodium,
Penular penyakit Malaria adalah nyamuk Anopheles betina
Ciri-ciri nyamuk penular Malaria
Gambar

Nyamuk Anopheles
Betina
Perilaku nyamuk Anopheles :
Tempat hinggap atau istirahat : suka di luar
rumah dan di dalam rumah
Tempat menggigit : suka di luar rumah dan di
dalam rumah
Obyek yang digigit : manusia dan hewan : sapi,
kerbau, kambing dll
Waktu menggigit : mulai senja sampai fajar
Tempat perkembangbiakan nyamuk penular Malaria :
Tempat perkembangbiakan
utama Anopheles adalah tempat-tempat
berupa genangan air maupun yang mengalir perlahan. Nyamuk ini biasanya
berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah di luar
rumah, seperti selokan yang tersumbat, rawa, danau dan lagun.
II. PRAMUKA PENGGALANG ( 11
– 15 Tahun)
Cara
Penularan Malaria:
Orang Sakit Nyamuk Orang sehat Orang sakit
Penularan yang lain :
- Malaria
bawaan, terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria.
- Secara mekanik, penularan melalui transfusi
darah atau jarum suntik.
Tanda/gejala
Malaria
Demam
berkala (Trias Malaria) : Dingin/menggigil (15 - 60 menit), Panas (1 - 2 jam)
dan Berkeringat
Sakit kepala
Mual & muntah, nyeri
ulu hati
Cara
pencegahan Malaria
a. Hindarilah gigitan nyamuk dengan cara:
Tidur memakai kelambu
berinsektisida
Menggunakan kassa atau
kawat nyamuk untuk menutup lubang-lubang ventilasi rumah Menggunakan obat anti
nyamuk oles/repellent
Menggunakan obat nyamuk
bakar
Menyemprot kamar dengan
obat semprot nyamuk
Tidak berada di luar
setelah hari gelap atau menggunakan penutup seperti baju lengan panjang
Membunuh jentik nyamuk dengan menggunakan obat pembunuh jentik, menebar
ikan pemakan jentik serta menimbun atau mengalirkan genangan air
Gambar ikan pemakan jentik nyamuk Malaria

Ciri-ciri telur, jentik dan nyamuk penular
Malaria
Gambar

Telur nyamuk Anopheles Jentik
nyamuk Anopheles Nyamuk Anopheles Betina
PRAMUKA PENEGAK ( 16 – 20 Tahun)
Penyebab
Malaria
Makluk kecil (parasit)
yang disebut Plasmodium yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Plasmamodium
adalah parasit yang hidupnya merusak dan memakan sel-sel darah merah
Ada 4 macam Plasmodium
, yaitu:
a.
Plasmodium falciparum (malaria tropika)
b.
Plasmodium vivax (malaria tertiana)
c.
Plasmodium malariae (malaria kuartana)
d. Plasmodium
ovale (jarang, umumnya di Afrika)
2. Penjelasan Penularan Malaria
Selain jenis gigitan
nyamuk, parasit malaria dapat ditularkan melalui transfusi darah yang
mengandung parasit atau ditularkan pada janin oleh ibu yang menderita malaria,
Nyamuk Anopheles yang dapat
menularkan malaria adalah jenis betina saja, karena untuk dapat bertelur
membutuhkan darah, sedangkan nyamuk jantan hanya makan cairan gula yang berasal
dari bunga dan tidak menggigit manusia maupun hewan. Darah yang diperlukan
nyamuk betina dapat berasal dari manusia maupun hewan.
Gambar Siklus
Penularan
Tanda/Gejala Malaria
Demam menggigil yang berkala disertai sakit
kepala
Penderita pucat karena kurang darah
Badan merasa lemah
Mengingat gejala pokok
penyakit malaria berupa demam, sulit dibedakan dengan gejala demam pada
penyakit lainnya, maka untuk menentukan penyakit malaria, darahnya perlu
diperiksa di bawah mikroskop.
Dengan pemeriksaan darah
ini, diketahui jenis parasitnya, lalu dapat ditentukan pengobatan yang tepat
sehingga sembuh sempurna dan tidak kambuh
Gambar orang dengan gejala Malaria

4. Cara Pencegahan Malaria
a. Hindari gigitan nyamuk dengan cara:
Tidur di dalam kelambu berinsektisida
Gambar kelambu berinsektisida

Membakar obat pengusir nyamuk atau menyemprot
kamar dengan obat semprot
Tidak berada di luar rumah setelah hari gelap
Menjauhkan
kandang ternak dari tempat tinggal
Memasang kawat kasa pada lubang angin rumah dan jendela. b. Membunuh
nyamuk
Nyamuk dewasa dengan obat
semprot. Menyemprot dinding rumah bagian dalam dengan racun serangga, misalnya
DDT atau Fenitrothion.
Hanya dinding bagian dalam
yang disemprot racun, karena nyamuk yang masuk rumah akan hinggap di dinding.
Racun akan masuk ke dalam tubuh nyamuk sewaktu nyamuk hinggap di dinding.
Nyamuk anopheles akan mati
dengan cara ini dalam waktu 1-2 hari, sehingga tidak sempat menularkan penyakit
malaria kepada orang lain.
Gambar penyemprotan dinding dalam rumah

c. Membasmi Jentik
Membunuh jentik nyamuk dengan obat pembasmi jentik, menebarkan ikan
pemakan jentik dan menghilangkan/mengurangi genangan air dengan cara menimbun
atau mengalirkan airnya.

d. Minum obat anti malaria
– Sebagai pencegahan
– Sebagai pengobatan saat sakit dan sudah dilkukan
pemeriksaan darah, pasien yang diduga sakit Malaria harus dilakukan pemeriksaan
darah sebelum diberikan obat anti
malaria. Contoh obat anti
Malaria : ACT (Artemisinin Combination Therapy), Kina dan Primakuin.
Obat untuk kedua keperluan
tersebut di atas selalu tersedia di Puskesmas. Gambar Obat Anti Malaria

e. Akibat Malaria
Menyebabkan kekurangan
darah pada penderita malaria karena sel-sel darah merah banyak yang hancur
karena dirusak/dimakan oleh Plasmodium.
Akibat kurang darah akan
menyebabkan daya tahan tubuh kurang sehingga mudah terkena infeksi lain dan
daya kerja kurang. Dan pertumbuhan otak pada anak-anak terhambat sehingga
menyebabkan terganggunya perkembangan kecerdasan dengan akibat anak-anak
menjadi bodoh.
Pada ibu hamil penyakit
malaria dapat menyebabkan keguguran.Pada penderita penyakit malaria tropika
yang berat dan tidak diobati, pembuluh darah otaknya dapat tersumbat, sehingga
dapat menyebabkan kematian atau menjadi gila.
IV. PRAMUKA
PENEGAK DAN PANDEGA
Di samping mendapat SKK dan
melatih adik Pramuka atau anggota masyarakat, maka perlu ditambah pengetahuan
sebagai berikut:
Siklus Parasit Malaria dalam Tubuh Manusia dan dalam Tubuh Nyamuk.
Dalam tubuh
manusia
1). Perkembangan dalam jaringan :
Parasit yang
berasal dari nyamuk (disebut:Sporozoit) masuk ke dalam sel-sel jaringan hati
untuk tumbuh menjadi sizon jaringan yang kemudian menjadi merozit yang menyebar
dalam peredaran darah. Sebagian merozoit jaringan pada Plasmodium vivax dapat
bertahan dalam hati dan menyebabkan penyakit malaria menahun (sering kambuh)
2).
Perkembangan dalam peredaran darah : a). Dalam sel-sel darah merah :
Parasit yang
berasal dari hati (merozoit jaringan) kemudian menyerang dan memakan sel-sel
darah merah sambil berkembang biak di dalam sel-sel tersebut, yang disebut
bentuk Skizon.
Skizon kemudian pecah dan
menghasilkan merozoit eritrositer yang akan kembali menyerang sel-sel darah
merah lainnya.
Siklus ini
terjadi berulang-ulang sehingga menyebabkan banyak sel-sel darah merah yang
rusak, menyebabkan penderita menjadi pucat dan lemah.
Pada waktu sel darah merah
pecah mengeluarkan merozoid, timbulah serangan demam pada diri penderita.
Serangan demam tersebut terjadi secara berkala
(lihat grafik 1).
GAMBAR / GRAFIK
Limpa membengkak karena
harus bekerja lebih keras mengganti sel-sel darah merah dan membersihkannya.
b). Di luar sel-sel darah merah
Sebagian dari merozoit
darah berkembang menjadio gametosit jantan dan betina (keduanya disebut bentuk
seksual).
Dalam
tubuh nyamuk.
Gametosit jantan dan betina
yang terhisap melalui nyamuk, kemudian bersatu dan berkembang menjadi Ookinet.
Ookinet kemudian menerobos
dinding lambung nyamuk dan berkembang menjadi Ookista, yang akan menghasilkan
ribuan sporozoit.
Sporozoit-sporozoit
tersebut kemudian bergerak menuju kelenjar ludah nyamuk dan siap ditularkan
melalui gigitan berikutnya.
Siklus
Parasit Malaria.
Dalam tubuh manusia dan dalam tubuh nyamuk.
![]()
|
Dalam tubuh nyamuk |
Dalam tubuh manusia: |
||
|
|
|
|
|
|
b. |
Gametotosit |
e. |
Sporozoit |
|
c. |
Ookinet |
f. |
Merozoit jaringan |
|
d. |
Ookista |
g. |
Merozoit eritrositer |
|
|
|
h. |
Sizon |
|
|
|
|
|
Pengobatan Malaria
Karena siklus hidup parasit
malaria terdiri dari beberapa tahap/bentuk, maka diperlukan obat yang berlainan
sesuai denagn tahapan/bentuk parasitnya.
Penyakit malaria yang
menahun yang disebabkan oleh plasmodium vivax akan lebih sulit diobati karena
parasitnya dapat bersembunyi di dalam hati
Dikenal 3
macam pengobatan malaria:
Pengobatan
profilaksis
Diberikan sebagai cara
untuk mencegah berkembang biaknya parasit sebagai akibat dari penularan pertama
kali.
1). Obat diminum setiap hari sekali satu tablet.
2). Obat mulai
diminum seminggu sebelum masuk daerah malaria dan diteruskan sampai 2 minggu
setelah meninggalkan daerah tersebut.
3). Jenis obatnya adalah doksisiklin yang setiap
tabletnya berisi 100 mg.
Pengobatan
malaria klinis
Diberikan kepada penderita
tersangka malaria yang diagnosanya berdasarkan gejala klinis, yaitu:
Malaria
akut (diagnosa oleh petugas kesehatan/kader):
Demam
menggigil yang berkala dan sakit kepala
Penderita
demam yang ditemukan di daerah non endemis dengan
|
|
riwayat kunjungan ke daerah malaria. |
|
2). |
Malaria kronis (hanya petugas kesehatan) |
Ada riwayat malaria akut ditambah adanya anemia akut dan adanya anemia,
pembesaran limpa, dan lain-lain.
Pengobatan radikal
Diberikan kepada penderita
malaria yang sudah dapat dipastikan jenis penyakitnya melalui pemeriksaan
darah.
Tujuan
pengobatan ini adalah membasmi segala bentuk parasit malaria di dalam tubuh,
sehingga penderita menjadi sembuh sempurna (tidak kambuh). Tujuan ini hanya
dapat dicapai manakala obat diminum sesuai petunjuk yang diberikan oleh
Puskesmas atau petugas kesehatan lainnya.
Pramuka Penegak
dan Pandega harus dapat meberikan pengobatan profilaksis, pengobatan klinis dan
penyuluhan tentang pentingnya pengobatan sesuai jadwal yang ditentukan oleh
Puskesmas.
Pengambilan Darah untuk Pemeriksaan
Meskipun tidak perlu
mengerjakan sendiri Pramuka Penegak dan Pandega perlu mengetahui hal-hal
sebagai berikut:
Dapat menyebarluaskan pengetahuan tentang pentingnya pemeriksaan darah
malaria.
Jumlah darah yang diperlukan untuk pemeriksaan hanya sedikit hingga
diambil dari ujung jari.
Untuk
dapat diperiksa darah tersebut harus diwarnai lebih dahulu.
Pemeriksaan selanjutnya dikerjakan di bawah mikroskop oleh petugas
kesehatan/Puskesmas.
Semua orang harus hadir pada saat dilakukan pengembilan darah untuk
pemeriksaan malaria agar supaya tidak ada penderita yang terlewat dari
pemeriksaan dan pengobatan.
Selama masih ada penderita malaria di masyarakat tanpa diobati selama
itu pula penderita tersebut menjadi sumber penularan bagi anggota masyarakat
lainnya.
Di samping mendapat SKK
penanggulangan penyakit malaria, seorang Pramuka Penegak dan Pandega harus
telah melatih sedikitnya seorang Pramuka atau anggota masyarakat dan mengetahui
serta dapat melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
Program Pengendalian Penyakit Malaria
Secara
operasional pelaksanaan program pemberantasan penyakit malaria di
Indonesia dibagi menjadi
program di Jawa-Bali dan di luar Jawa-Bali. Program di Jawa-Bali telah mencakup
semua daerah, sedang kegiatan di
Daerah
transmigrasi
Daerah
pembangunan ekonomi (pertambangan dan perkebunan).
Daerah
perbatasan dngan negara tetangga
Daerah
Hankamnas yang malarious
Daerah yang terkena wabah malaria. B. Tujuan program pada Pelita VI.
Jawa-Bali, menurunkan
jumlah kecamatan yang bermalaria tinggi (dengan jumlah penderita malaria
positif 5 orang atau lebih per 1000 penduduk
setahun),
menjadi < 15 kecamatan pada akhir Pelita Vi dan angka penderita malaria
menjadi kurang dari 0,08 penderita per 1000 penduduk setahun.
Luar Jawa-Bali, mengurangi prevalensi (persentase sediaan darah positif
terhadap sediaan darah yang diperiksa) menjadi 3 persen di daerah prioritas dan
angka kesakitan 170 per 1000 penduduk di daerah lainnya pada akhir Pelita VI.
Kegiatan
pemberantasan.
1). Penanganan penyakit
Peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan
Penemuan
Penderita
Pencarian penderita secara aktif oleh petugas malaria desa dengan
kunjungan rumah ke rumah.
Penemuan
secara pasif:
. Terhadap semua pengunjung
unit pelayanan kesehatan (Puskesmas, Pustu, Poliklinik pemerintah maupun
swasta)
. Melalui peran serta masyarakat,
misalnya perorangan, keluarga atau masyarakat, kader, Pramuka, guru UKS,PKK,
tokoh masyarakat, dukun penyembuh.
Pemenuhan hak atas semua penduduk daerah endemis untuk mendapatkan
pengobatan malaria.
b). Diagnosa malaria
Diagnosa klinis
malaria menjadi unsur utama tercapainya diagnosis cepat dan pemberian
pengobatan dini dalam upaya pelayanan penderita untuk menekan kesakitan dan
mencegah kematian.
Diagnosa cepat
dan pengobatan dini adalah: identitas penderita secepatnya agar dapat diobati
sedini mungkin untuk mengurangi penderitaan dan mencegah terjadinya sumber
penularan.
Pemeriksaan laboratorium: dalam penanganan
penderita
*
Laboratorium malaria harus ada setiap
Rumah Sakit rujukan, Puskesmas dengan perawatan di daerah endemis dan Puskesmas
di daerah resisten.
Survey epidemiologi:
Malariometrik Survey, kejadian Luar Biasa, tes resistensi.
c). Pengobatan : dalam penanganan penderita
Pengobatan
malaria klinis
Diberikan
kepada penderita suspek malaria berdasarkan gejala klinis, obat yang digunakan
adalah obat standar, yaitu klorokuin dosis 3 hari dan primakuin dosis tunggal
hari pertama. Primakuin
tidak diberikan kepada ibu
hamil dan anak < 1 tahun serta pengobatan malaria klinis oleh kaser.
.
Pengobatan
radikal
Diberikan
sesuai dengan spesies parasit berdasarkan pemeriksaan laboratorium, pengobatan
ini digunakan di daerah yang sudah rendah penularannya (dengan obat standar)
atau di daerah malaria resisten (dengan obat alternatif).
Pencegahan Penyakit.
Pencegahan penyakit
dimaksudkan untuk melindungi seseorang terhadap: Pencegahan perkembangan
penyakit dalam diri penderita:
Cara ini
menekan angka kesakitan tanpa mencegah inteksi dilakukan dengan pengobatan
profilaksis (kemoprofilaksis).
Kegiatan
ini sasarannya terbatas pada kelompok penduduk non-imun yang berada di daerah
indemis. Dilakukan untuk jangka waktu terbatas. Obat yang digunakan adalah obat
standar klorokuin.
Pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara:
Pengobatan profilaksis (kemoprofilaksis) Sasaran:
Secara terprogram (bagian dari kegiatan program P2 malaria) :
Transmigrasi baru (12 minggu), pekerja musiman ibu hamil di daerah endemis.
Secara individual: Turis, anggota ABRI/Polri, pegawai pindahan,
pendatang baru.
Pencegahan
gigitan nyamuk (personal protection)
Kelambu, repelent, dan lain-lain:
Kegiatan
pemberantasan vektor
(a) terhadap nyamuk dewasa:
Pemakaian kelambu celup untuk mencegah gigitan
nyamuk
Penyemprotan
rumah
Terhadap
jentik (larva)
Larvaciding: menutup permukaan air dengan semprotan minyak solar atau
racun jentik
Biological control: menebarkan ikan pemakan jentik, mina padi.
Penataan
lingkungan :
-
Sources reduction (SR)
Site-selection
Zooprofilaksis
Pengaturan
pola tanam padi
Membersihkan lumut, membersihkan tebing sungai-sungai kecil dan lumut/semak
belukar
Menanam
hutan bakau
3). Wabah (Kejadian Luar Biasa) Malaria
a). Penanggulangan KLB.
b). Pencegahan KLB
c). Sistem Kewaspadaan Dini (SKD)
4). Pelatihan.
5). Penyuluhan Malaria
a).Tujuan penyuluhan adalah untuk meluruskan pengetahuan masyarakat di
daerah endemis malaria tentang penyakit malaria dan termotivasi dalam mendukung
program.
b). Materi penyuluhan terdiri dari:
mengenai gejala,penularan dan pencegahannya; cara pengobatan penderita klinis
dengan obat standar secara benar, dan mengenai gejala penyakit malaria yang
perlu dirujuk dan ditolong oleh petugas sarkes; menerima pengobatan yang
diberikan petugas sarkes dalam penanggulangan wabah.
c). Sasaran penyuluhan dalah penduduk, pemilik toko obat, apotik, dukun
penyembuh (healer), tokoh masyarakat, kader, ibu-ibu PKK, guru, pengambil
keputusan proyek pembangunan yang rawan malaria, dan
lain-lain.
Penyuluhan malaria diprioritaskan di daerah yang merencanakan meperluas
jangkauan pelayanan pengobatan malaria oleh kader.
D. Membantu Petugas Kesehatan (malaria)
Membantu petugas penyemprotan rumah.
1). Memberikan penyuluhan tentang kegunaan
penyemprotan rumah.
2). Membantu menyioapkan rumah-rumah yang
disemprot dlam hal:
a).
Mengeluarkan alat-alat rumah tangga seperti: kasus, bantal, tikar dan
lain-lain.
b). Mengeluarkan alat-alat makan minum dari
dapur
c).
Melepaskan/mengeluarkan gambar-gambar dan hiasan dinding yang menempel di
dinding.
3). Memberi
penyuluhan pada penduduk agar tidak menghapus bekas semprotan. Bila akan
mengapur, kerjakan sebelum penyemprotan
4). Membantu mengamankan racun serangga :
Bendiocarb,
L-Sihalotrion dan Fenitrothion serta racun serangga lainnya adalah bahan kimia
yang berbahaya dn dapat menimbulkan keracunan. Jangan digunakan untuk keperluan
dari racun serangga tersebut. Memperjual-belikan bahan-bahan tersebut di atas
dapat dihukum.
Membantu penebaran ikan pemakan jentik
Jenis ikan ini dapat
dikenal dari sifatnya yang suka berenang pada permukaan air tempat
jentik-jentik hidup.
Misalnya ikan kepala timah
(depan titik putih di kepalanya)gupi (wader cendol), mujair, nila dan gambusia.
Penebaran ikan dimulai pada
musin kering dan diulangi setiap kali musim hujan berakhir.
Membantu menjaga lingkungan dari nyamuk malaria
Selain menghindarkan adanya
genangan-genangan air, pohon-pohon yang terlalu rimbun di sekitar rumah perlu
dihindari, saluran-saluran air disekitar
Membantu memishkan kandang
ternak besar dari rumah tinggal agar nyamuk tidak sempat menggigit manusia
karena sudah kenyang darah hewan/ternak.
KEPUSTAKAAN :
Buku Pedoman Pemberantasan Malaria, yang
diterbitkan oleh Dit. Jen PPM & PLP yang terdiri dan 10 jilid.
|
Jilid |
1 |
: |
Epidemiologi |
|
Jilid |
2 : |
Program Pmberantasan |
|
|
Jilid |
3 : |
Pengobatan |
|
|
Jilid 4 : |
Penyemprotan Rumah |
||
|
Jilid |
5 : |
Tindakan Anti Larva |
|
|
Jilid |
6 : |
Survey Malariometrik |
|
|
Jilid |
7 : |
Pemeriksaan Parasit Malaria secara Mikroskopik |
|
|
Jilid |
8 : |
Pengenalan wabah (GR) |
|
|
Jilid |
9 : |
Tes Resistensi In-vivo dan In-vitro untuk P.
Fassiparum |
|
|
Jilid 10: |
Entomologi |
||
KRIDA PENANGGULANGAN
PENYAKIT
S K K
Penanggulangan Penyakit Demam
Berdarah
Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang
Direktorat Jenderal PP-PL
Kementerian Kesehatan RI
Tahun 2010
TUJUAN SKK PENANGGULANGAN
PENYAKIT DEMAM BERDARAH
PRAMUKA SIAGA ( 7 – 10 Tahun)
– Mengetahui penyebab DBD
– Mengetahui penular DBD
– Mengetahui ciri-ciri nyamuk penular DBD
– Mengetahui tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD
PRAMUKA PENGGALANG ( 11 – 15 Tahun)
– Mampu menerapkan semua SKK Penanggulangan DBD Pramuka Siaga
– Mengetahui cara penularan DBD
– Mengetahui tanda/gejala DBD
– Mengetahui cara pertolongan pertama pada penderita DBD
– Mengetahui cara pencegahan DBD
– Mengetahui jenis tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD
– Mengetahui prilaku dan siklus nyamuk penular DBD
– Mengetahui cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
– Mampu melakukan PSN di lingkungan sekolah dan rumah
PRAMUKA PENEGAK ( 16 – 20 Tahun)
– Mampu menerapkan semua SKK Penanggulangan DBD Pramuka Penggalang
– Mampu menjelaskan penyebab DBD
– Mampu menjelaskan cara penularan DBD
– Mampu menjelaskan tanda/gejala DBD
– Mampu menjelaskan cara pencegahan DBD
– Mampu menjelaskan prilaku dan siklus nyamuk Aedes
aegypty
– Mampu menjelaskan PSN 3M Plus
– Mampu menjelaskan cara survei jentik dan cara menghitung Angka Bebas
Jentik (ABJ)
– Mampu melakukan cara pertologan pertama pada penderita DBD
– Mampu melakukan PSN di lingkungan sekolah, rumah dan tempat-tempat umum
IV. PRAMUKA
PANDEGA ( 21– 25 Tahun)
– Mampu menerapkan semua SKK Penanggulangan DBD Pramuka Penegak
– Mampu melakukan uji torniquet
– Mampu melakukan pertolongan pertama pada penderita DBD
– Mampu melakukan survei jentik dan menghitung ABJ
– Mampu membina dan memberikan penyuluhan kepada anggota pramuka dan masyarakat
tentang pengendalian DBD
MATERI SKK
PENANGGULANGAN DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD)
di Indonesia merupakan salah satu penyakit endemis dengan angka kesakitan yang
cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sejak ditemukan kasus DBD pada tahun
1968 di Surabaya dan Jakarta, kejadian dan daerah terjangkit DBD terus
meningkat hampir di semua wilayah Indonesi. Sampai dengan tahun 2009 DBD sudah
sudah menjangkiti 427 kabupaten/kota.
Sebagian besar propinsi
masih menunjukkan angka kesakitan (Inciden
Rate)yang tinggi di atas 25 per 100.000 penduduk walaupun angka kematian (Case Fatality Rate) sudah dapat
diturunkan di bawah satu persen Sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 terjadi
peningkatan kasus yang signifikan. Kasus yang dilaporkan pada tahun 2004
sebanyak 79.462 penderita (IR= 37.01) dengan kematian sebanyak 957 orang (CFR =
1.2 %) dan pada tahun 2009 terjadi kematian 1420 orang (CFR=0,89 %) dari jumlah
kasus sebanyak 158.901 penderita (IR= 68,22).
Langkah-langkah antisipasi
dan upaya penanggulangan telah dilakukan mulai dari tingkat Pusat, Propinsi,
Kab/Kota hingga Puskesmas diantaranya ; surveilens kasus (memperkuat jejaring
sistem pelaporan), surveilens vektor, pemutusan rantai penularan dengan
penanggulangan fokus (Penyelidikan Epidemiologi dan Fogging Fokus),
penatalaksanaan kasus terhadap penderita.
Strategi pengendalian DBD
selanjutnya lebih difokuskan pada upaya preventif dengan pemutusan mata rantai
penularan melalui gerakan PSN-DBD, walaupun kegiatan ini telah diintensifkan
sejak tahun 1992 dalam bentuk gerakan 3M (menutup, menguras, mengubur), namun
masih belum juga mampu menurunkan angka kesakitan dan kematian secara
signifikan. Upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut belum juga berhasil
menurunkan angka kesakitan di beberapa propinsi maupun di kabupaten/kota yang
endemis DBD.
Mengingat masih
tersebarluasnya nyamuk penular DBD dan kecenderungan mobilitas masyarakat yang
tinggi serta kepadatan penduduk yang meningkat, sementara partisipasi
masyarakat dalam upaya PSN-DBD masih rendah. Belum seluruh masyarakat menyadari
bahwa melalui gerakan PSN-3M dapat memutus siklus penularan nyamuk Aedes Aegypty secara efektif. Sehingga
perlu dilakkan upaya pemberdayaan masyarakat secara terus menerus dan
berkesinambungan.
Pramuka sebagai salah satu
komponen masyarakat yang potensial sebagai agen perubahan perilaku masyarakat
dalam pengendalian DBD. Pramuka merupakan suatu organisasi pendidikan kepanduan
yang memiliki anggota terbesar di dunia dan sebagai organisasi non-formal
terbesar di Indonesia yang memiliki segmen peserta didik dari anak-anak, remaja
dan orang dewasa.
Melalui pemberdayaan
pramuka diharapkan dapat menjadi suritauladan bagi masyarakat dalam mendorong
pembangunan bidang kesehatan serta berperan dalam peningkatan derajat kesehatan
masyarakat melalui kegaiatan saka bakti husada.
PRAMUKA SIAGA ( 7 – 10 Tahun)
– Penyebab DBD adalah virus dengue
– Penular DBD adalah nyamuk Aedes aegypty
– Ciri-ciri nyamuk penular DBD adalah nyamuk Aedes aegypty dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata
nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada
bagian badan dan kaki.

– Tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD :
Tempat perkembangbiakan utama ialah
tempat-tempat penampungan air berupa genangan air yang tertampung disuatu
tempat atau bejana di dalam atau sekitar rumah atau tempat-tempat umum,
biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Nyamuk ini biasanya tidak
dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah.
PRAMUKA PENGGALANG ( 11 – 15 Tahun)
– Cara penularan DBD
DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty betina.
Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit/menghisap darah orang
yang sakit DBD atau orang yang tidak sakit , tetapi dalam darahnya sudah
terdapat virus dengue. Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap kembali
seseorag, maka orang tersebut dapat tertular/terkena DBD
Virus matang dalam
tubuh nyamuk1 mg
(inkubasi
ekstrinsik)
Virus
berkembang dalam tubuh orang
(inkubasi
instriksik)
Demam 5-7 hari
Tandanya
viremia
(menular)
Nyamuk betina menggigit
penderita sedang viremia
![]()
– Tanda/gejala DBD
Panas tinggi tanpa sebab jelas yang timbul
mendadak, terus-menerus selama 2-7 hari, badan terasa lemah/lesu, disertai
nyeri pada ulu hati selanjutnya akan timbul bintik-bintik merah pada kulit.

– Cara pertolongan pertama pada penderita DBD
Apabila keluarga/masyarakat menemukan gejala dan tanda di atas, maka
pertolongan pertama oleh keluarga adalah sebagai berikut:
Berikan minum 4-6 gelas per hari (1-2 liter/hari), air putih yang sudah
dimasak, teh manis, sirup, jus buah atau larutan oralit
Kompres
dengan air hangat
Berikan
obat penurun demam bila diperlukan
– Cara pencegahan DBD
Pencegahan DBD yang tepat sampai saat ini adalah
dengan memutus rantai penularan yaitu dengan pengendalian vektornya (contohnya
PSN), karena vaksin dan obatnya masih dalam proses penelitian.
– Jenis tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD
Jenis tempat perk embang-biakan nyamuk Aedes aegypti d apat dikelompokkan sebagai berikut:
Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum,
tangki reservoi r, tempayan, bak
mandi/wc, dan ember.
Tempat penam pungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti:
tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan baran g-barang bekas (ban,
kaleng, botol, plastik dan lain-lain).
Tempat penam pungan air alamiah seperti: lobang p ohon, lobang batu,
pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan po tongan bambu.
![]()
![]()


















![]()
![]()
POTONGAN POHON BAMBU
|
|
|
VAS BUNGA |
|
DRUM |
TEMPAT |
|
|
|
|
|
|
PENAMPUNG |
PERINDUKAN |
LUBANG KAYU |
|
AIR |
NYAMUK |
|
|
|
|
|
|
POT TANAMAN |
|
BAK MANDI |
|
|
PENAMPUNGAN |
|
|
|
AIR KULKAS |
|









– Perilaku dan siklus nyamuk penular DBD
Nyamuk Aedes aegypti hidup
di dalam dan sekitar ru mah, juga ditemukan ditempat-tempa t umum, seperti
tempat ibadah, sekolah dan pasar
Nyamuk betina aktif
mengigigit/menghisap darah pada p agi hari sampai sore hari. Sedangk an nyamuk
jantan hanya menghisap sari bunga/tumbuhan yang mengand ung gula
Tempat hingga p yang
disenangi adalah benda-benda yang tergantung ( misal : pakian y ang tergantung)

|
TELUR |
|
|
1-2 hari |
LAR |
|
|
|
|
|
VA |
5-7
HR
PUP
A
BETI 1-2
NA HR
2-8
MGG
Siklus Aedes aegypti
– Mengetahui cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus
PSN DBD
dilakukan dengan cara ‘3M-Plus’, 3M yang
dimaksud yaitu:
Menguras dan menyikat
tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, drum, dan lain-lain
seminggu sekali (M1)
Menutup rapat-rapat tempat
penampungan air, seperti gentong air/tempayan, dan lain-lain (M2)
Mengubur atau menyingkirkan
barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3).
III. PRAMUKA PENEGAK ( 16 – 20 Tahun)
– Mampu menerapkan semua SKK Pengendalian DBD Pramuka Penggalang
– Mampu menjelaskan penyebab DBD
Penyebab penyakit Dengue adalah Arthrophod borne virus, genus flavivirus dan terdiri dari 4 serotipe
yaitu serotipe 1,2,3 dan 4. Ke empat serotipe virus ini telah ditemukan di
berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa
Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan serotipe yang
paling luas distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue -4. Di
Indonesia beredar ke-4 serotipe virus Dengue dengan serotipe yang dominan
adalah serotipe Den-3.
– Mampu menjelaskan tanda/gejala DBD
Pada awal perjalanan DBD gejala dan tanda tidak
spesifik, oleh karena itu masyarakat/keluarga diharapkan waspada jika terdapat
gejala dan tanda yang mungkin merupakan awal perjalanan penyakit tersebut.
Gejala dan tanda awal DBD dapat berupa :
Panas tinggi tanpa sebab jelas yang timbul mendadak, terus-menerus
selama 2-7 hari,
Badan
lemah/lesu,
Ulu hati
terasa nyeri,
4. Timbul
bintik-bintik merah pada
kulit (seperti bekas
gigitan nyamuk disebabkan pecahnya pembuluh
darah kapiler di
kulit. Untuk
membedakannya kulit diregangkan bila bintik merah itu hilang, bukan
tanda penyakit DBD)
Anak
dengan gejala DBD

– Mampu menjelaskan cara penularan DBD
Seseorang yang di dalam darahnya mengandung
virus Dengue merupakan sumber penular Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus Dengue
berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.

Bila penderita DBD digigit nyamuk penular
(nyamuk betina), maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk ke dalam
lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di
berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1
(satu) minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk
menularkan kepada orang lain (masa
inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk
sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes
aegypti yang telah mengisap virus Dengue menjadi penular (infektif)
sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk
(menggigit), sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran
alat tusuknya (proboscis), agar darah
yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus Dengue dipindahkan
dari nyamuk ke manusia.
– Mampu menjelaskan cara pencegahan DBD
Pencegahan DBD yang tepat sampai saat ini adalah
dengan memutus rantai penularan yaitu dengan pengendalian vektornya (contohnya
PSN), karena vaksin dan obatnya masih dalam proses penelitian.
Metode pengendalian vektor DBD bersifat spesifik
lokal, dengan mempertimbangkan faktor–faktor lingkungan fisik (cu aca/iklim,
pemukiman, habitat perkembangbiakan); lingkungan sosial-budaya (Pengetahuan
Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor.
Pada dasarnya metode pengendalian vektor DBD
yang paling efektif adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat (PSM).
Sehingga berbagai metode pengendalian vektor cara lain merupakan upaya
pelengkap untuk secara cepat memutus rantai penularan.
Berbagai
metode PengendalianVektor (PV) DBD, yaitu:
Kimiawi
Biologi
Manajemen lingkungan
Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN
Pengendalian Vektor Terpadu
– Perilaku dan siklus nyamuk Aedes aegypty
Setelah lahir (keluar dari kepompong), nyamuk istrirahat di kulit
kepompong untuk sementara waktu. Beberapa saat setelah itu sayap meregang
menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang mencari makanan.
Nyamuk Aedes aegypti jantan
mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan
yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia dari
pada binatang (bersifat antropofilik).
Darah (proteinnya) diperlukan untuk mematangkan telur agar jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan,
dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur
mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan biasanya bervariasi
antara 3-4 hari. Kondisi ini disebut satu siklus gonotropik (gonotropic cycle) .
Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas
menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari, dengan 2 puncak aktifitas
antara pukul 09.00 -10.00 dan 16.00 -17.00. Tidak seperti nyamuk lain, Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu siklus gonotropik,
untuk memenuhi lambungnya dengan darah.
Dengan
demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit.
Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau
kadang-kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat
perkembangbiakannya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Di
tempat-tempat ini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya.
Setelah beristirahat dan proses pematangan telur
selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di dinding tempat
perkembangbiakannya, sedikit di atas permukaan air. Pada umumnya telur akan
menetas menjadi jentik dalam waktu ±2 hari setelah telur terendam air. Setiap
kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur
itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu
-2ºC sampai 42ºC, dan bila tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau
kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.
Siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti seperti juga nyamuk lainnya mengalami metamorfosis sempurna, yaitu:
telur - jentik - kepompong - nyamuk. Stadium telur, jentik dan kepompong hidup
di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ± 2
hari setelah telur terendam air. Stadium jentik biasanya berlangsung 5-7 hari,
dan stadium kepompong (Pupa) berlangsung antara 1-2 hari. Pertumbuhan dari
telur menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai
2-8 minggu.
TELUR
1-2 hari
LARV
A
5-7
HR
PUPA
1-2
BETIN HR
A
2-8
MGG
Siklus Aedes aegypti
– PSN 3M Plus adala h
PSN DBD dilaku kan dengan cara ‘3M-Plus’, selain
me lakukan gerakan 3M (menguras, menutup dan mengubur , juga dilakukan kegi
atan tambahan (plus) dengan cara lainnya, seperti:
Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau te mpat-tempat lainnya
yang sejenis se minggu sekali.
Memperbaiki
s aluran dan talang air yang tidak lancar/rus ak
Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain (dengan
tanah, dan lain- lain)
Menaburkan b ubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat yang sulit
dikuras atau di daerah yang sulit air
Memelihara
ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penam pungan air
Memasang
kaw at kasa
Menghindari
ke biasaan menggantung pakaian dalam ka mar
Mengupayakan
pencahayaan dan ventilasi ruang yang m emadai
Menggunakan
kelambu
Memakai
obat y ang dapat mencegah gigitan nyamuk
Cara-cara
spesifik lainnya di masing-masing daerah.
– Cara survei jentik dan menghitung Angka Bebas Jentik (ABJ)
Metode
survei jentik:
Single larva
Cara ini dilaku kan dengan mengambil satu jentik di seti ap tempat
genangan air yang ditemu kan jentik untuk diidentifikasi lebih lanju t.
Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tida knya jentik di
setiap tempat genang an air tanpa mengambil jentiknya. Biasanya dalam program
DBD mengunakan cara visual.
Ukuran
yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti adalah
Angka
Bebas Jentik (ABJ), dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
1) Angka
Bebas Jentik (ABJ):
Jumlah
rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik x 100%
![]()
Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa
– Mampu melakukan cara pertologan pertama pada penderita DBD
– Mampu melakukan PSN di lingkungan sekolah, rumah dan tempat-tempat umum
IV. PRAMUKA PANDEGA ( 21– 25
Tahun)
– Mampu menerapkan semua SKK Penanggulangan DBD Pramuka Penegak
– Mampu melakukan uji torniquet
Penyebab perdarahan pada pasien DBD ialah
vaskulopati, trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit, serta koagulasi
intravaskular yang menyeluruh. Jenis perdarahan yang terbanyak adalah
perdarahan kulit seperti uji Tourniguet (uji Rumple Leede/uji bendung) positif,
petekie, purpura, ekimosis dan perdarahan konjungtiva. Petekia merupakan tanda
perdarahan yang tersering ditemukan. Petekie dapat muncul pada hari-hari
pertama demam tetapi dapat pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam.
Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas
gigitan nyamuk, untuk membedakannya: lakukan penekanan pada bintik merah yang
dicurigai dengan kaca obyek atau penggaris plastik transparan, atau dengan
meregangkan kulit. Jika bintik merah menghilang berarti bukan petekie.
Perdarahan lain yaitu epitaksis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis. Pada
anak yang belum pernah mengalami mimisan, maka mimisan merupakan tanda penting.
Kadang-kadang dijumpai pula perdarahan konjungtiva atau hematuria.
Tanda perdarahan seperti tersebut diatas tidak
semua terjadi pada seorang pasien DBD. Perdarahan yang paling ringan adalah uji
Tourniquet positif berarti fragilitas kapiler meningkat. Perlu diingat bahwa
hal ini juga dapat dijumpai pada penyakit virus lain (misalnya, campak, demam
chikungunya), infeksi bakteri (tifus abdominalis) dan lain-lain. Uji Tourniquet
positif akan banyak kegunaannya apabila secara klinis diduga DBD, oleh karena
pada awal perjalanan penyakit 70,2% kasus DBD mempunyai hasil uji Tourniquet
positif. Uji tourniquet dinyatakan positif jika terdapat lebih dari 10 petekia
pada area 1 inci persegi (2,8 cm x 2,8 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) termasuk pada lipatan siku (fossa cubiti).
Cara
menghitung hasil uji Torniquet
Bintik-bintik perdarahan di
bawah kulit
di area
seluas 1 inci persegi.
Cara
melakukan uji Tourniquet sebagai berikut :
Pasang manset anak pada
lengan atas (ukuran manset sesuaikan dengan umur anak, yaitu lebar manset = 2/3
lengan atas)
Pompa tensimeter untuk mendapatkan tekanan
sistolik dan tekanan diastolik
Aliran darah pada lengan
atas dibendung pada tekanan antara sistolik dan diastolik (rata-rata tekanan
sistolik dan diastolik) selama 5 menit. (Bila telah terlihat adanya
bintik-bintik merah ≥ 10 buah, pemben-dungan dapat
dihentikan).
Lihat pada bagian bawah
lengan depan (daerah volar) dan atau daerah lipatan siku (fossa cubiti), apakah timbul bintik-bintik merah, tanda perdarahan
(petekie)
Hasil Uji Tourniquet
dinyatakan positif (+) bila ditemukan ≥ 10
bintik perdarahan (petekia), pada luas 1 inci persegi ( 2,8 cm2.)
– Mampu melakukan pertolongan pertama pada penderita DBD
Apabila keluarga/masyarakat menemukan gejala dan tanda di atas, maka
pertolongan pertama oleh keluarga adalah sebagai berikut:
Baringkan
selama demam
Berikan minum 4-6 gelas per
hari (1-2 liter/hari), air putih yang sudah dimasak, teh manis, sirup, jus buah
atau larutan oralit
Kompres dengan air hangat
Berikan obat penurun panas
antipiretik (parasetamol) 3 kali 1 tablet untuk dewasa, 10-15 mg/kgBB/kali
untuk anak. Asetosal, salisilat, ibuprofen jangan dipergunakan karena dapat
menyebabkan gastritis atau perdarahan.
Bila terjadi kejang:
Jaga lidah agar tidak tergigit Kosongkan mulut
Longgarkan pakaian
Tidak memberikan apapun lewat mulut selama kejang
Jika dalam 2 hari panas tidak turun atau panas
turun disertai timbulnya gejala dan tanda lanjut seperti perdarahan di kulit
(seperti bekas gigitan nyamuk), muntah-muntah, gelisah, mimisan dianjurkan
segera dibawa berobat/periksakan ke dokter atau ke unit pelayanan kesehatan untuk
segera mendapat pemeriksaan dan pertolongan.
– Mampu melakukan survei jentik dan menghitung ABJ
– Mampu membina dan memberikan penyuluhan kepada anggota pramuka dan masyarakat
tentang pengendalian DBD.
SKK PENANGGULANGAN RABIES
TUJUAN SKK PENANGGULANGAN
RABIES
Pramuka Siaga: (7-10 tahun)
Mengetahui secara sederhana penyebab, cara penularan dan gejala penyakit
anjing gila pada manusia dan Hewan Penular Rabies/HPR (terutama anjing)
Mengetahui
cara pencucian luka gigitan HPR (anjing).
Mengetahui pentingnya memberikan suntikan vaksin rabies pada manusia dan
hewan peliharaan (anjing, kucing, kera dan hewan bertaring lainnya).
Pramuka Penggalang ( 11-15 tahun )
Menjelaskan secara sederhana penyebab, cara penularan dan gejala
penyakit Rabies/anjing gila pada manusia dan HPR (terutama anjing).
Menjelaskan
cara pencucian luka gigitan HPR (anjing).
Menjelaskan pentingnya memberikan suntikan vaksin rabies pada
manusia/hewan peliharaan (anjing, kucing, kera dan hewan bertaring lainnya).
Pramuka Penegak dan
Pandega ( 16 – 20 tahun )
Mengaplikasikan/membuat contoh secara sederhana penyebab, cara penularan
dan gejala penyakit rabies pada manusia dan HPR (terutama anjing).
Mengaplikasikan/membuat
contoh cara pencucian luka gigitan HPR (anjing).
mengaplikasikan/membuat contoh cara memberikan suntikan vaksin rabies
pada hewan peliharaan (anjing, kucing, kera dan hewan bertaring lainnya)
Memberikan
penyuluhan tentang penyakit Rabies/anjing gila.
PRAMUKA SIAGA ( 7 – 10 tahun )
A. TANDA-TANDA RABIES PADA MANUSIA
Phase awal (Prodromal):
• Demam
• Lesu
• Mual
• Nyeri di tenggorokan
Pashe kedua (Sensorik): a. Merasa Nyeri tidak jelas
Rasa panas pada bekas luka
Cemas
gelisah
. Phase ketiga (Exitasi/Gila)
• Berteriak-teriak
• Menjambak-jambak rambut
• Berlari-lari dan melompat-lompat
• Takut air
• Takut Angin
• takut Cahaya
• Takut Suara
Phase
Akhir (Lu mpuh):
• Mulut menga nga, air liur banyak/hiper salifasi
• Lumpuh mulai dari kaki
• Susah bernaf as
• Diakhiri dengan meninggal
B. TANDA-TANDA R ABIES PADA ANJING (HPR)
Permulaan:
. Malas makan
. Lebih jinak
. Mata merah

GAMBAR
Gila:
Lari
tanpa tujuan
Mengejar
da n Menggigit apa saja yang bergerak
”Lupa” pulang / linglung
Berkelahi
tak mau kalah
Tidak
kenal t uannya lagi
Makan semua n benda yg masuk ke mulutnya seperti
batu beling dll.
Air liur menet es terus tanpa henti
Takut angin,suara,cahaya,air ,dll
Berjalan
ters eok-seok
Ekor
terjepit di kedua kaki belakang
Lidah menjul ur
Rahang
baw ah menggantung/menganga terus
diakhiri denga n kematian
PENYEBAB
Bibit
penyakit yang disebut virus rabies
Terdapat
pada air liur hewan penderita rabies
Bentuknya
seperti peluru
Ukurannya
sangat kecil
Tak
dapat dilihat oleh mata biasa (harus pake mikroskop)
CARA PENULARAN

GAMBAR

Melalui
Kasus gigitan Hewan Penular Rabies/Anjing , segera
mendapat vaksin
PENGOBATAN
Bila digigit anjing, kucing, kera atau hewan penular rabies lain,
cucilah luka dengan sabun dan air bersih yang mengalir sekitar 15 menit
Sesudah kering, obatilah dengan obat merah atau alkohol 70% atau
bathadin
Selanjutnya
berobatlah ke dokter/sarana kesehatan terdekat
Hewannya
jangan dibunuh/diobservasi 14 hari
PENCEGAHANNYA.
Peliharalah anjing, kucing dan kera dengan baik/
dirawat.
Suntikan vaksin anti rabies secara teratur ke
dokter hewan.
Pakailah berongsong kalau anjingnya dibawa
berjalan.
Ikatlah anjing dengan tali 2 meter.
II. PRAMUKA PENGGALANG

GAMBAR


Anjing yang sudah kena rabies/tidak nafsu
makan
Selain bahan pengetahuan SKK-Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang perlu
ditambah pengetahuan bahwa:
Anjing penggigit jangan dibunuh tetapi diobservasi
di Dinas Peternakan.
Korban tergigit dibawa ke puskesmas, dokter praktek
atau rumah sakit.
Kalau anjingnya terbunuh,
kepalanya dibawa ke Dinas Peternakan untuk pemeriksaan rabiesnya.
Penyebab rabies adalah virus rabies.
Virus Rabies dari golongan rhabdovirus, bersifat neurotrop (merusak
Jaringan syaraf). Virus yang masuk ke luka akan menuju otak melalui tali
syaraf.
Virus
dapat ditemukan juga di air liur, air
mata, dan cairan tubuh lainnya dari penderita.
Masa inkubasi rabies berkisar
Antara 2 minggu hingga 2 tahun, tergantung dari letak gigitan,
parahnya
luka dan pokok virus.
Selain lewat gigitan, penular
rabies juga dapat lewat pencangkokan kornea mata yang donornya kebetulan
menderita rabies, ataupun secara aerobic/udara pada keadaan khusus
PRAMUKA
PENEGAK DAN PANDEGA
Selain harus mengetahui dan memahami bahan SKK-Pramuka Siaga dan
Penggalang, Pramuka Penegak dan Pandega perlu juga mengetahui tentang:
|
A. SYNONIM
RABIES |
|
|
|
|
1. |
Anjing
gila |
6. |
Lissa (Yunani) |
|
2. |
Rage (Perancis) |
7. |
Rabiosa (Spanyol) |
|
3. |
Tollwut
(Jerman) |
8. |
Rabere (Romawi) |
|
4. |
Canine
madness (Inggris) |
9. |
Kyo Kem
Ryo (jepang) |
|
5. |
Rabbia (Italia) |
10. |
Hydrophobia (Latin) |
PENYEBARAN
Seluruh daratan Eropa
Seluruh daratan Asia kecuali Semenanjung Malaysia
Seluruh
Afrika
Seluruh Amerika
Filipina
Indonesia
Srilangka
Daerah penyebaran di Indonesia terdiri atas 20 provinsi GAMBAR PETA
INDONESIA
Daerah yang rabies ialah provinsi : Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung,
Lampung, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat,
Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur, Maluku dan Maluku Utara.
SEJARAH
Abad ke
X sebelum Masehi Democritus sudah mengetahui
penyakit ini.
Tanggal 6 Juli 1885 Luis Pasteur berhasil mencegah kematian korban
gigitan hewan rabies dengan vaksin rabies.
Tahun
1884 Esses melaporkan rabies pertama kali di Indonesia pada hewan.
Pada
tahun 1894 De Haan, melaporkan rabies
pada orang pertama kali di Indonesia.
Pada
tanggal 18 Mei 1895, vaksinasi pada
orang pertama kali di Indonesia.
Tahun 1926 keluar Hondsdolheit Ordonante dalam Staablat No. 451
(Undang-undang Pemberantasan Rabies di Indonesia).
|
D. GEJALA RABIES |
|
|
|
|
|
Pada
anjing dan pada orang ada 4 |
stadium,
yaitu : |
|||
|
1. |
Stadium permulaan |
= |
Prodomal |
|
|
2. |
Stadium
kedua |
= |
|
Sensoris |
|
3. |
Stadium ketiga |
|
= |
Exitasi/gila |
|
4. |
Stadium
akhir |
= |
Paralyse/lumpuh |
|
E. DIAGNOSE RABIES
Diagnosa rabies pada penderita biasanya tidak
tertolong lagi . Diagnosa rabies sangat perlu untuk menentukan apakah si
penderita gigitan perlu mendapat vaksin atau campuran vaksin dan serum anti
rabies.
Oleh karena itu hewan penggigit JANGAN dibunuh tetapi ditangkap untuk
diamati selama 10 hari.
Jikalau mati otaknya diambil lalu diperiksa dengan mikroskop, maupun
secara biologis memakai tikus putih.
PERAN
SERTA
Melatih
Pramuka Siaga dan Penggalang untuk mencapai SKK
Melatih memasang tali dan berongsong anjing.
Melatih
memegangi anjing waktu divaksinasi rabies
Membantu
menangkap anjing liar.
Membantu
mengirim spesimen hewan yang menggigit
pada manusia .
Membantu
melaporkan kasus gigitan ke Puskesmas dan ke Dinas Peternakan.

GAMBAR
Pemberian vaksin rabies pada kasus gigitan anjing
G. PRINSIP PEMBERANTASAN
Vaksinasi hewan penular rabies terutama anjing,
kucing dan kera
Penangkapan anjing liar dan dibunuh
Mentaati undang-undang dan peraturan rabies.
Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang rabies.
SKK
PENANGGULANGAN DIARE
TUJUAN SKK PENANGGULANGAN
DIARE:
Pramuka Siaga:
Mengetahui
apakah diare itu
Mengetahui
penyebab yang dapat mengakibatkan diare
Mengetahui
gejala diare dan akibat diare
Mengetahui
manfaat oralit dan cara membuatnya.
Mengetahui
pencegahannya secara sederhana
Pramuka Penggalang:
Menjelaskan
penyakit yang sering menimbulkan wabah
Menjelaskan
penyakit yang bisa menyebabkan diare
Menjelaskan
gejala diare dan akibat diare
Menjelaskan
manfaat oralit dan cara membuatnya
Menjelaskan
cara pencegahannya
Pramuka Penegak dan Pandega
:
Dapat
mengaplikasikan diare secara sederhana dan cara pengobatannya.
Dapat
mengaplikasikan tentang gejala-gejala dan akibatnya
Dapat
memberikan penyuluhan/contoh akibat diare termasuk pencegah.
PRAMUKA SIAGA
A. PENGERTIAN DIARE
GAMBAR
Diare adalah
berak encer atau bahkan berupa air saja (mencret) yang terjadi lebih sering
dari biasanya (3 kali atau lebih) dalam 1 hari. Penyakit ini sering timbul
sebagai wabah, karena dalam waktu singkat memakan banyak korban.
GEJALA
POKOK PENYAKIT DIARE
Gejala utama penyakit diare
adalah siring berak-berak encer lebih dari biasanya bahkan dapat berupa air.
Kadang-kadang disertai dengan muntah, panas dan lain-lain.
PENYEBAB
DIARE
Diare dpat diseabkan oleh bermacam-macam hal,
diantaranya adalah:
Karena
peradangan usus (infeksi kuman)
Karena
keracunan makanan dan minuman
Karena
tidak tahan terhadap makanan tertentu
Karena
kekurangan Gizi
AKIBAT
DIARE
Apabila seorang
anak penderita diare tidak segera ditolong, maka anak tersebut akan kekurangan
CAIRAN TUBUH dan ZAT GARAM-GARAMAN yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup
manusia. Anak tersebut menjadi lemas dan akhirnya meninggal.
Hal ini dapat diibaratkan
sebatang pohon yang kekurangan air, lama-kelamaan akan layu dan mati.
CARA
MENOLONG PENDERITA DIARE.
Apabila orang
diare, jangan sampai kehausan. Maka berilah minum air apa saja yang ada di
rumah, misalnya air teh encer, air buah, air sop dan lain sebaginya. Yang
paling baik adalah memberikan minum larutan ORALIT dan ZINC.
ORALIT adalah bubuk garam
gula, yang selalu dilarutkan dalam air masak dan diminumkan pada orang diare
dapat mencegah bahaya kehabisan cairan tubuh.
ZINC merupakan
salah satu zat gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Zinc
yang ada dalam tubuh akan menurun dalam jumlah besar ketika anak mengalami
diare. Untuk menggantikan Zinc yang hilang selama diare, anak dapat diberikan
Zinc yang akan membantu penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap sehat.
Perhatikan gambar dibawah
ini : Pohon layu dan diberi air:
GAMBAR
PRAMUKA PENGGALANG
1. Lingkungan Penularan Penyakit Diare.
GAMBAR
Cara penularan penyakit
diare secara lintas dubur – mulut: airtinya kuman dikeluarkan melalui kotoran
manusia dan masuk ke dalam tubuh manusia bersama-sama makanan dan minuman yang
tercemari melalui mulut.
Proses
Penularan Diare.
Penderita dapat
mengeluarkan kuman penyebab diare bersama-sama tinja waktu buang air besar.
Bila penderita buang air besar di sembarang tempat, maka dapat mencemari
lingkungan (air, tanah, dan sebagainya).
Kuman pada tinja dapat ditularkan kepada orang lain apabila melekat pada
tangan, dan kemudian dipakai untuk memegang makanan
Kuman yang keluar bersama-sama tinja dapat mencemari air. Kalau air yang
tercermar tersebut dipergunakan sehari-hari tanpa dimasak, misalnya untuk
berkumur, menggosok gigi, mencuci sayur, diminum dan sebagainya maka mereka
akan tertular penyakit diare.
Kuman tersebut dapat pula mencemari makanan atau minuman, melalui lalat
atau air yang tercermar tersebut yang dipergunakan untuk mencuci makanan atau
minuman.
GAMBAR
Cara
memberikan Larutan Oralit dan Zinc kepada Penderita :
Untuk mencegah hal-hal yang
tidak diinginkan dalam menolong penderita diare, perlu diketahui cara-cara
memberikan larutan oralit yang benar.
Berikanlah larutan oralit
tersebut sedikit demi sedikit, walaupun sedikit tapi sering, dapat dipergunakan
sendok. Pemberian sebanyak-banyaknya sampai anak tidak haus lagi.
Apabila penderita muntah, istirahat sebentar dan diteruskan lagi.
Sebaiknya air yang dipergunakan untuk melarutkan oralit air yang hangat-hangat
kuku.
Setelah
habis satu gelas buatlah larutan lagi. Dan berikan seperti cara di atas.
Pada saat
diare, anak akan kehilangan Zinc dalam tubuhnya. Pemberian Zinc mampu
menggantikan kandungan Zinc alami tubuh yang hilang tersebut dan mempercepat
penyembuan diare. Zinc juga meningkatkan sistim kekebalan tubuh sehingga dapat
mencegah risiko terulangnya diare selma 2-3 bulan setelah anak sembuh dari
diare. Pemberian zinc selama 10 hari berturut-turut dengan dosis sebagai
berikut:
Balita
umur <6 bulan : ½ tablet (10mg) perh hari .
Balita
umur > b bulan : 1 tablet (20 mg) per hari.
PERHATIAN:
![]()
![]()
![]()
![]()
Walaupun anak
muntah, pemberian ORALIT tidak boleh dihentikan. Zinc aman dikonsumsi bersamaan
dengan Oralit. Saat ini Zinc tersedia di pasaran atau fasilitas pelayanan
kesehatan berupa tablet dispersible, sirup, serbuk dalam saset. Tablet Zinc
akan larut segera dalam waktu sekitar 30 detik. Mintalah nasehat kepada Seorang
Kader Kesehatan atau petugas Kesehatan terdekat.
Cara
Pencegahan Penyakit Diare:
Agar tidak terserang penyakit diare, maka
diperlukan upaya sebagai berikut:
Hanya memberikan ASI pada 4-6 bulan pertama dan meneruskannya sampai paling
kurang umur 1 tahun
Membiasakan
makan makanan dan minum minuman yang telah dimasak.
Menggunakan sumber air minum yang brsih, misalnya air perpipaan, pompa
tangan, sumur gali yang memenuhi syarat dan sebagainya.
mencuci seluruh bagian tangan dengan sabun dan menggunakan air yang
cukup sebelum makan, sesudah buang air besar, sebelum memegang makanan dan
sesudah bermain.
GAMBAR
Buang air besar di jamban atau kakus yang sehat. Jangan mebiasakan
membuang air besar di sembarang tempat, misalnya di kebun, di kali dan
lain-lain.
Membudayakan kebersihan perirangan seperti menggunting kuku, mencuci
tangan sebelum makan dan sesudah buag air besar, mandi.
Membudayakan menjaga kebersihan alat-alat rumah tangga , seperti mencuci
peralatan makan dan minum dengan sabun. Dan meletakkan di rak piring, serta
menjemurnya di panas matahari.
Memberikan
makanan yang bergizi
Dengan memberikan makanan
yang bergizi dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap diare.
Makanan bergizi bukan
berarti makanan mahal. Dapat berupa: tahu, tempe, ikan , daging, sayur-mayur,
buah-buahan.
Menjaga
lingkungan agar tetap sehat, dengan :
. Menjaga kebersihan halaman dan sampah dan
kotoran.
. Jika memelihara hewan,
misalnya anjing, babi dan sebagainya, dibuatkan kandang tersendiri sedemikian
rupa sehingga kotoran tidak terjamah oleh anak-anak.
. membuat jarak jamban dengan sumber air minum
paling sedikit 10 meter
memberikan
imunisasi campak pada bayi umur 9 bulan
PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA
Dismping harus
memahami pengetahuan yang telah diuraikan diatas, Pramuka golongan Penegak dan
Pandega juga harus telah melatih sedikitnya seorang Pramuka Penggalang atau
anak seusia itu, sehingga mencapai TKK Penanggulangan Diare. Ditambah
ketrampilan menolong/merawat penderita siare, membuat oralit dan memberikan
pada penderita sesuai dengan aturan.
Memberi pertolongan/merawat
penderita diare. Prinsip menolong
penderita diare adalah:
Mencegah
terjadinya dehidrasi
Mengobatan
dehidrasi (ORALIT)
Mempercepat kesembuhan (Obat ZINC)
Memberikan
makanan pada anak
Mengobati Masalah lain
Bila anak menderita diare, tanda-tanda yang
paling awal adalah haus, maka:
Berilah cairan apa saja yang ada di rumah tangga, misalnya air teh, air
susu, air buah, air sop, air tajin dan sebainya.
Kalau
dia masih menyusui, agar diberikan ASI tambahan lebih dari biasanya.
Makanan
yang biasa diberikan dapat diteruskan.
Bila anak diare disertai
slah satu gejala dari: nafsu makan berkurang, kelincahan menurun, panas,
muntah, maka carilah ORALIT pada kader kesehatan.
Aturan pemberian larutan pada penderita diare :
Anak dibawah 1 tahun : 2 jam pertama harus habis 2 gelas, selanjutnya ½
gelas setiap kali berak.
Anak 1 - 5 tahun : : 2 jam pertama harus habis 4 gelas, selanjutnya 1
gelas setiap kali berak
Anak di atas 5 tahun dan dewasa : 2 jam pertama harus habis 6 gelas,
selanjutnya setiap kali berak.
Untuk mempercepat proses
penyembuhan penderita diharuskan istirahat yang cukup. Sebaiknya diberikan
makanan yang bergizi, seperti: tempe, tahun, ayam, daging, buah-buahan.
Tidak dianjurkan memberikan obat-obatan lain
kepada penderita.
Bila penderita sudah
ditolong dengan oralit belum teratasi bawalah ke Puksesmas terdekat.
MENENTUKAN DERAJAT
DEHIDRASI
1. Tanda-tanda Dehidrasi
Penderita deiara yang tidak
segera mendapatkan pertolongan akan mengalami kekurangan cairan tubuh.
Kekurangan cairan tubuh ini disebut DEHIDRASI. Menurut derajat dihidrasinya,
diare dibedakan dalam 3 (tiga) tingkatan :
Tanpa Dehidrasi
Keadaan
umum baik dan sadar
Tidak
haus
mata
normal
Air mata
ada
Mulut
dan lidah basah
Kulit
kalau dicubit cepat kembali.
Dehidrasi Ringan/sedang
Merasa
haus (minum banyak)
Keadaan
umum gelisah, rewel
Air mata
tidak ada
Mulut
dan lidah kering
Mata
cekung
Kulit
dicubit kembali lambat
Dehidrasi Berat
Tiak bisa
minum atau malas minum
Tidak
sadar atau lesu
Air mata
tidak ada
Mata
sangat cekung
Mulut
dan lidah sangat kering
Kulit
dicubit kembali sangat lambat
Rasa haus dan
cubitan kulit merupakan tanda kunci (penting). Untuk menentukan derajat
kedehidrasian minimal harus ada satu tanda kunci ditambah minimal satu tanda
lainnya (bukan tanda kunci).
2. Bahaya
penderita Diare yang jatuh dalam keadaan Dehidrasi.
Ada 2 bahaya yang ditimbulkan oleh diare yang
jatuh dalam keadaan dehigrasi, yaitu:
Kekurangan Gizi dan kematian.
3. Manfaat
Air Susu ibu (ASI) Bagi GAMBAR
Penderita Diare.
Disamping ASI mengandung zat gizi yang
Sangat bermanfaat bagi pertumbuhan bayi
Atau anak ASI juga mengandung zat ANTI
INFEKSI.
ASI juga lebih steril dibandingkan dengan
Susu botol
Bagi penderita diare:
Apabila anak yang menyusu
menderita diare, berikanlah ASI tersebut lebih banyak dari biasanya.
Pemberian ASI diteruskan
berselang-Seling dengan pemberian ORALIT.
Manfaat
Makanan yang Bergizi pada Penderita
Diare.
Diare dpat menyebabkan
kurang gizi, karena zat-zat makanan hilang dari tubuh waktu diare.
Kebiasaan
ibu-ibu, bila anaknya diare maka memberhentikan makanan anaknya. Ini sangat
meperburuk kekurangan gizi. Semua anak umur 4 bulan agar tetap diberikan makanan
padat selama diare. Makanan yang baik adalah: ”yangmudah dicerna”, seperti
nasi, bubur havermounth, sop, produk-produk susu, daging l;embut, telur ikan.
Makanan-makanan yang
mengandung kekuatan: sari nanas, jeruk, pisang, sntan kelapa, beberapa jenis lemak
dan minyak dapat diberikan.
Jnagan
memberikan makanan yang pedas, makanan yang banyak seratnya, buah-buahan yang
berserat, sayuran atau kupasan buah buahan atau serat butir gandum. Anak diare
agar diberikan makanan lebih sering (6 kali setiap hari), selama diare dn
paling sedikit 1 kali makanan tambahan tiap hari selama 2 minggu setelah diare
berhenti.
KHUSUS PRAMUKA PENEGAK DAN
PANDEGA
Di samping harus memahami
pengetahuan yang telah diuraikan, harus telah melatih sedikitnya seorang atau
anggota masyarakat sehingga dapat mencapai SKK (memperoleh TKK) Penanggulangan
Penyakit Diare.
Juga harus memahami
pengetahuan di bawah ini agar dapat membantu melakukan tindkan yang tetap
apabila menghadapi penderita diare.
1. Tindakan Bila Menghadapi Penderita Diare.
GAMBAR
Dalam menolong penderita diare, yang penting adalah:
Mencegah
agar tidak terjadi dehidrasi (kekurangan cairan)
Kalau
telah jatuh dalam keadaan dehidrasi ditolong secepatnya agar tidak menjadi
berat.
Caranya yaitu dengan menggantikan cairan tubuh
yang hilang karna diare dengan memberikan cairan apa saja yang ada di rumah
atau dengan oralit. Tindakan ini disebut: REHIDRASI. Jadi dpat dikatakan
tindakan rehidrasi diberikan berdasarkan tingkat-tingkat DEHIDRASI.
Kalau penderita Diare Tidak ada Tanda-Tanda Dehidrasi 1). Berikanlah
cairan lebih banyak dari biasanya
Apabila anak minum ASI, berikanlah ASI lebih banyak. Bila tidak minum
ASI, berikanlah susu buatan lebih banyak dari biasanya.
Berikanlah pada penderita :minuman atau cairan yang tersedia di rumah,
misalnya: air tajin, sop, air teh encer, air kelapa, sari buah dan sebagainya.
2). Teruskanlah memberi makan pada penderita
diare.
Jangan
mempuasakan penderita. Ini akan menambah penderita lebih parah.
Berikanlah makanan yang biasa diberikan. Sesua anak umur di atas 4 bulan
agar tetap diberikan makanan padat selama diare : nasi, bubur havermouth, sop,
produk-produk susu, telur, ikan, daging lembut, sari nanas, jeruk, pisang,
santan kelapa.
Anak agar diberikan makan lebih sering ( 6 kali sehari) selama diare,
dan agar diberikan maknaan tambahan paling sedikit 1 kali tiap hari selama 2
minggu setelah diare berhenti.
Kalau
penderita diare menunjukan tanda-tanda dehidrasi.
Berikanlah
ORALIT kalau anda mempunyainya.
Bawalah
ke kader kesehatan atau Puskesmas terdekat
2. Cara Pemberian ORALIT dan ZINC
Satu bungkus
oralit dimasukkan ke dalam satu gelas air matang (200cc). Anak kurang dari 1
tahun diberi 50-100 cc cairan oralit setiap kali berak. Anak lebih dari 1 tahun
diberi 100-200cc cairan oraliit setiap berak.
Pemberian zinc selama 10 hari berturut-turut
dengan dosis sebagai berikut:
Balita umur <6 bulan : ½ tablet (10mg) perh
hari .
Balita umur > b bulan : 1 tablet (20 mg) per
hari.
Untuk mendapatkan TKK,
Pramuka Penegak dan Pandega harus memahami bahan-bahan untuk memperoleh TKK, di
samping itu harus:
Dapat mendemontrasikan cara
merawat penderita diare yang mengalami dehidrasi ringan sampai sembuh.
Dapat menjelaskan kepada
kelompok Pramuka atau masyarkaat tentang penyebab penyakit diare, cara
penularan, gejala, bahayanya, cara pertolongan da cara pencegahanya.
Langkah-langkah
dalam melakukan pertolongan/perawatan penderita diare.
Tanyakan kapan mulai diare, apakah tinjanya ada darahnya, apakah
disertai penyakit lain.
Mengadakan
pemeriksaan pada penderita .
Untuk menentukan derajat
dehidarasi perlu melihat dan melakukan pemeriksaan. Lihatlah:
Bagaimana
keadaan umum anak tersebut?
. Apakah dia baik dan gesit?
. Apakah dia sakit, mengantuk atau cengeng?
. Apakah dia sangat mengantuk, tidak berbahaya
atau tidak sadar?
Apakah
anak mengeluarkan air mata waktu menangis?
Apakah
matanya normal, cekung atau sangat kering dan cekung?
Apakah
mulut dan lidahnya basah, kering atau sangat kering?
Saat
saudara memberikan minum, apakah anak:
. Minum biasa atau tampak tidak haus?
. Minum banyak dan tempak haus?
. Minum sedikit atau tampak tidak bisa minum?
Sewaktu kulitnya ditarik/dicubit, apakah kembali cepat, lambat atau
sangat lambat (lebih lama dari 2 detik).
Catatan : Penarikan kulit dapat memberikan
keterangan yang salah.
. Pada penderita yang gizinya
sangat buruk, kulitnya mungkin saja kembali dengan lambat, walaupun dia tidak
dehidrasi.
. Pada penderita yang
obesitas (terlalu gemuk) kulitnya mungkin saja kembali dengan cepat walaupun
penderita mengalami dehidrasi.
Menetapkan pengobatan yang cocok Menetapkan pengobatan yang cocok
(Seperti
yang telah diuraikan terdahulu)
Kapan
dapat ditolong dengan cairan yang ada di rumah.
Kapan
harus dngan oralit
Kapan
harus mengirim ke Puksesmas atau ke Rumah sakit.
Muntah-muntah
terus
Mencret
terus dan banyak
Rasa
haus yang nyata
Tidak
mau makan dan minum
Panas
Tinggi
Tinjanya
berdarah
Kalau di kirim ke
Puskesmas, penderita tetap diberi minum larutan Oralit selama dalam perjalanan.
Melakukan
Penyuluhan Di kalangan Pramuka atau Kelompok Masyarakat.
Dalam menjelaskan tentang pemberantasan penyakit diare ini dapat dengan
ceramah, diskusi atau demontrasi, misalnya demontrasi pembuatan larutan Oralit
dan sebagainya.
Di samping
harus memahami bahan-bahan tersebut di atas, Pramuka Penegak dan Pandega harus
telah melatih sedikitnya seorang Pramuka atau anggota masyarakat, sehingga
mencapai SKK penanggulangan pengakit diare. Juga dapat mengetahui dan
menganalisa situasi penyakit diare, atau dapat membantu program pemerintah.
SITUASI PENYAKIT DIARE DI
INDONESIA
Hingga saat ini penyakit
diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, hal ini dapat
dilihat dengan meningkatnya angka kesakita diare dari tahun ke tahun. Di dunia,
sebanyak 6 juta anak meninggal setiap tahun karena diare, sebagian kematian
tersebut terjadi di negara berkembang (Parashar, 2003). Menurut WHO, di negara
berkembang pada tahun 2003 diperkirakan 1,87 juta anak balita meninggal karena
diare, 6 dari 10 kematian tersebut pada umur <2 tahun. Rata-rata anak usia
<3 tahun di negara berkembang mengalami episode diare 3 kali dalam setahun
(WH), 2005)
Hasil survei Subdit Diare
angka kesakitan diare semua umur tahun 2000, angka kesakitan diare semua umur
301 per 1000 penduduk, tahun 2003 adalah 374 per 1000 penduduk, tahun 2006
adalah 423 per 1000 penduduk. Kematian diare pada balita 75,3 per 100.000
balita dan semua umur 23,2 per 100.000 penduduk semua umur (Hasil SKRT 2001).
Diare merupakan penyebab kematian no.4 (13,2%) pada semua umur dalam kelompok
peyakit menular. Proporsi diare sebagai penyabab kematian nomor 1 pada bayi
postneonatal (31,4%) dan pada anak balita (25,3%) (Hasil Riskesdas 2007)
Disamping itu, di Indonesia
penyakit diare ini masih sering timbul sebagai wabah yang sering menghebohkan
masyarakat atau sosial politik, karena dalam waktu yang singkat dapat memakan
banyak korban.
Tujuan Pembangunan
Kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk, agar
dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu
unsur kesejahteraan umur dan Tujuan Nasional.
Dewasa ini, dengan masih
tingginya angka kematian bayi dan Balita menggambarkan belum terwujudnya
derajat kesehatan masyarakat yang optimal serta merupakan tantangan pembangunan
kesehatan yang utama. Maka untuk menghadapi tantangan tersebut penanggulangan
diare merupakan salah satu masalah yang prioritas.
PROGRAM PENGENDALIAN
PENYAKIT DIARE
Kegiatan pokok penanggulangan penyakit diare adalah:
memberikan tata laksana yang tepat dan efektif kepada penderita diare
yang ditemukan, baik sarana kesehatan maupun apotik, toko obat dan kader.
Mencegah terjadinya penyakit diare melalui keiatan lintas program dan
lintas sektor. Pelaksanaan program dilakukan secara terpadu, baik lintas
program maupun lintas sektoral, dengan pendekatan PKMD, yaitu dengan melibatkan
peranserta masyarakat, melalui kader-kader pembangunan bidang kesehatan.
Sejak Pelita IV:
Pelaksanaan
Program Pengendalian Penyakit Diare dilakukan dengan kegiatan terpadu Keluaraga
Berencana Kesehatan (KB, KIA,GIZI IMUNISASI dan DIARE
![]()
![]()
![]()
![]()
KEPUSTAKAAN
Buku penuntun Kader Pembangunan Desa Dalam penanggulangan Penyakit
Diare. Ditjen P3M, 1983
Diare
dan Upaya Pemberantasannya, Ditjen P3M, 1981
Rehidrasi Oral, Pemantapan dan Pembudayaan dalam upaya Penanggulangan
Diare, Ditjen PPM & PLP, 1984.
Pedoman
Supervisor tentang ”Pengobatan Penderita Diare”, Ditjen PPM & PLP 1983.
TUJUAN SKK PENANGGULANGAN
PENYAKIT TB PARU
I. Pramuka Siaga
Mengetahui
penyebab, cara penularan dan gejala TB Paru
Mengetahui
jenis TB
Mengetahui
cara pencegahan dan pengobatan secara teratur
II. Pramuka Penggalang:
Dapat
menjelaskan tentang cara penularan dan gejala TB Paru
Dapat
menjelaskan cara pencegahan dan pengobatan secara teratur
III. Pramuka Penegak dan
Pandega :
Dapat
mengaplikasikan/memberi contoh cara pencegahan TB Paru
Dapat
mengaplikasikan/memberi contoh cara pengobatan secara teratur
Dapat
memberikan penyuluhan tentang pencegahan TB Paru
Dapat memberikan contoh pencegahan TB Paru (rumah harus ada jendela,
jangan meludah di sembarang tempat)
Dapat
memberikan penyuluhan tentang pentingnya TB Paru
I. PRAMUKA SIAGA
Seorang Pramuka harus mengerti hal-hal sebagai berikut:
PENYEBAB
Tuberkulosis
(TB) yang dulu dikenal dengan TBC adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB (Mycobarterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ atau bagian tubuh lainnya
(misalnya: tulang, kelenjar, kulit, dll). TB dapat menyerang siapa saja,
terutama usia produktif/masih aktif bekerja (15-50 tahun) dan anak-anak.
GEJALA TB
Gejala utama TB adalah :
Batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih Gejala lainnya:
Batuk
bercampur darah
Sesak
nafas dan nyeri dada
Nafsu
makan berkurang
Berat
badan turun
Rasa
kurang enak badan (lemas)
Demam/meriang
berkepanjangan
Berkeringat
di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan
D. CARA
PENULARAN TB
Sumber penularan adalah pasien TB yang dahaknya mengandung kuman TB BTA
Positif.
Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak. Sekali batuk
dapat menyebarkan 3.000 kuman dalam percikan dahak.
Penularan terjadi melalui percikan dahak yang dapat bertahan selama
beberapa jam dalam ruangan yang tidak terkena sinar matahari dan lembab.
Semakin banyak kuman yang ditemukan dalam tubuh pasien berarti semakin
besar kemungkinan menularkan kepada orang lain.
- TB tidak menular melalui
perlengkapan pribadi pasien yang sudah dibersihkan, seperti: peralatan makan,
pakaian dan tempat tidur yang digunakan pasien TB.

JENIS TB
TB Paru : Tuberkulosis paru
adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru
TB Ekstra Paru :
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya: selaput otak,
selaput jantung (pericardium), tulang, persendian, kelenjar getah bening,
kulit, ginjal, usus, dll.
TB PARU
DAPAT DISEMBUHKAN .
Apabila
terdapat gejala-gejala TB paru pada diri kita atau keluarga kita, bawalah
secepat mengkin ke Puskesmas atau dokter untuk memastikan bahwa yang
bersangkutan benar-benar terserang penyakit TB paru.
G. CARA PENCEGAHAN TBC.
Seorang Pramuka
Siaga diharapkan dapat melakukan tindakan pencegahan TB paru bagi dirinya
sendiri dan bagi keluarga serta teman sebaya, antara lain dapat menjaga
kebersihan diri, kebersihan lingkungan (tidak meludah di sembarang tempat),
kalau batuk (menutup mulut, menjauhkan diri dari orang yang sedang batuk dan
mengupayakan olah raga yang teratur serta makan malam yang bergizi (menu
seimbang).
PRAMUKA PENGGALANG
Selain hal-hal tersebut di
atas, seorang Pramuka Penggalang harus mengetahui hal-hal sebagai berikut:
Hal-hal yang dapat mematikan kuman TB: Kuman TB dapat mati bila :
Terkena
sinar matahari langsung
Terkena
panas api atau air mendidih
Terkena
sabun, lisol (obat sejenis lisol).
Cara
Pencegahan Penularan TB
Untuk mencegah penularan kepada orang sehat, seorang penderita TB Paru
hendaknya:
Menutup
mulut pada waktu batuk dan bersin
Penderita
tidur terpisah dari keluarga
Ventilasi rumah yang cukup, sehingga udara segar dapat masuk ke dalam
rumah.
Mengusahakan
sinar matahari masuk ke ruang tidur.
Menjemur alat-alat tidur
sesering mungkin, karena kuman TB mati oleh sinar matahari.
Tidak meludah disembarang tempat, tetapi meludah di tempat tertentu
seperti tempolong atu kaleng yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol,
karena kuman TB mati oleh zat-zat tersebut.
Mampu menjelaskan mengenai usaha-usaha pencegahan penularan TB paru pada
penderita TB paru, sehingga penderita tersebut mau melakukan usaha-usaha
tersebut.
Selain hal tersebut di atas
seorang Pramuka Penggalang juga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut:
Penderita
tersangka TB Paru
Penderita tersangka TB Paru
yaitu penderita yang mempunyai gejala-gejala menyerupai TB paru.
Apa yang harus dilakukan terhadap Penderita tersangka TB Paru.
Melaporkan kepada petugas kesehatan atau Puskesmas setempat, sehingga
petugas Puskesmas dapat
mengunjungi rumah penderita tersebut untuk diteiti lebih lanjut.
Selain hal-hal tersebut di
atas, seorang Pramuka Penggalang juga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut:
Mengetahui perlunya penderita tersangka TB Paru memeriksakan dahaknya,
yakni untuk memastikan apakah penderita tersebut benar menderita TB.
Dapat memotivasi penderita tersangka TB Paru untuk segera memeriksakan
dahaknya (sebaiknya dahak pagi hari).
Dahak yang diperiksa adalah cairan yang keluar dari rongga paru ( bukan
air ludah). Sebelum dahak ditampung terlebih dahulu mulut harus dibersihkan
dengan berkumur-kumur/gosok gigi tanpa odol.
Mengetahui cara pengobatan penyakit TB Paru yang mutakhir menurut
panduan pengobatan yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB di
Indonesia.
OAT
Kategori 1
Diberikan
kepada pasien baru TB paru BTA positif, pasien TB paru BTA negatif Rontgen
positif, dan paien TB ekstra paru. Lama pengobatan 6-8 bulan, terbagi dalam 2
tahap, berupa obat yang diminum (oral).
OAT
Kategori 2
Diberikan
kepada pasien TB BTA positif yang telah diobati sebelumnya (pasien kambuh,
pasien gagal, dan pasien pengobatan setelah putus berobat). Lama pengobatan 8
bulan, terbagi dalam 2 tahap, dan obat
yang diberikan selain
berupa suntikan (hanya 2 bulan pertama) juga berupa obat yang diminum/oral (8
bulan).
Kategori
Anak
Diberikan kepada pasien TB Anak. Lama
pengobatan 6 bulan, terbagi
dalam 2 tahap, berupa obat yang diminum (oral).
5.Seorang
Pramuka diharapkan dapat membantu petugas kesehatan untuk memotivasi penderita
TB Paru. Sehingga penderita berobat secara teratur hingga sembuh. (Dinyatakan
sembuh oleh dokter)
PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA
Selain mengetahui
hal-hal tersebut di
atas, seorang Pramuka
Penegak dan
Pandega harus mengetahui hal-hal sebagai
berikut:
Sejak tahun
1995, program pemberantasan Tuberkolosis Paru, telah dilaksanakan dengan
strategi DOTS (Directly Observed
Treatment Shortcourse therapy), yang direkomendasikan oleh WHO.
Penanggulangan dengan strategi DOTS yang merupakan pengobatan jangka pendek
dengan pengawasan langsung dapat memberi angka kesembuhan yang tinggi, dan
merupakan strategi dengan biaya paling efektif.
Komponen Strategi DOTS
Komitmen
politis dari pengambil keputusan, termasuk dukungan dana.
Pemeriksaan
TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.
Pengobatan dengan panduan Obat Anti Tuberkolosis (OAT) jangka pendek
dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).
Kesinambungan
OAT jangka pendek dengan mutu terjamin.
Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan
evaluasi program penanggulangan TB.
Masalah TB di Indonesia
Penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit
jantung dan penyakit saluran pernapasan, dan nomor satu (1) dari golongan penyakit
infeksi.
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja (15 s/d 50
tahun)
Selain hal-hal tersebut di
atas, seorang Pramuka Penegak dan Pandega harus memiliki kemampuan sebagai
berikut:
Integrasi pelayanan TB di desa melalui UKBM (Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat).
Upaya untuk
memandirikan masyarakat dalam bidang kesehatan melalui kegiatan pemberdayaan
masyarakat. Petugas kesehatan, LSM lokal, Tokoh masyarakat dan kader melibatkan
pelayanan TB di desa melalui Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM).
Hal ini diharapkan agar upaya terobosan dalam mendekatkan layanan TB kepada
masyarakat sebagai salah satu strategi pengendalian TB dapat meraih hasil yang
optimal.
A. Tujuan Umum
Memberikan
akses pelayanan TB bagi masyarakat di daerah yang sulit dijangkau dalam rangka
mewujudkan masyarakat sehat yang peduli dan tanggap terhadap permasalahan TB di
wilayahnya.
B. Khusus
1. Meningkatkan angka penemuan suspek TB
2. Menurunkan angka putus berobat
3. Meningkatkan peran
lembaga desa dan perangkatnya dalam program penanggulangan TB
4. Meningkatkan
keterlibatan masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM dan dunia usaha dalam
penanggulangan TB
5. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
TB
Telah melatih sedikitnya seorang Pramuka atau anggota masyarakat,
sehingga mencapai SKK (memperoleh TKK) Penanggulangan Penyakit TB paru.
Selain hal-hal tersebut di
atas, seorang Pramuka Penegak dan Pandega harus memiliki kemampuan sebagai
berikut:
Mampu menggerakkan masyarakat/organisasi masyarakat untuk turut
melaksanakan pengawasan dan pengendalian pengobatan penyakit.
Dapat memberikan penyuluhan tentang Penanggulangan TB paru kepada
kelompok Pramuka atau anggota masyarakat.
Telah melatih sedikitnya seorang Pramuka atau anggota masyarakat,
sehingga mencapai SKK (memperoleh TKK) Penanggulangan penyakit TB paru.
KEPUSTAKAAN
Departemen Kesehatan RI aku tekun aku Sembuh. Yakarta 1983, Sub.Dit P2TB
Paru. Ditjen P3M dan Dit. PKM
Departemen Kesehatan RI, Buku Pedoman Perawat Pelaksana Pengobatan dalam
program pemberantasan Penyakit TB Paru, Jakarta 1983, Ditjen P3M.
Departemen Kesehatan RI, Tuberkulosa Paru, Jakarta, Pusat penyuluhan
Kesehatan Masyarakat, Depkes RI, 1984.
TUJUAN SKK PENANGGULANGAN PENYAKIT KECACINGAN
Pramuka
Siaga:
Mengetahui penyebab, cara penularan dan tanda
penyakit cacingan
Mengetahui cara pencegahan penyakit cacingan
Mengetahui cara pengobatan penyakit cacingan
Pramuka
Penggalang:
Menjelaskan penyebab, cara penularan dan tanda
penyakit cacingan
Menjelaskan cara pencegahan penyakit cacingan
Menjelaskan cara pengobatan penyakit cacingan
Pramuka
Penegak dan Pandega:
- Dapat mengaplikasikan cara pencegahan
penyakit cacingan
- Dapat mengaplikasikan cara pengobatan
penyakit cacingan
- Dapat memberikan penyuluhan tentang pencegahan penyakit
mengetahui cara pengobatan penyakit cacingan.
cacingan,
PRAMUKA SIAGA
PENGERTIAN
Seorang dikatakan cacingan,
bila dalam pemeriksaan tinjanya terdapat telur cacing.
TANDA-TANDA CACINGAN
Pucat,
kurang darah
Lesu,
kurus, malas
Mual,
kurang nafsu makan
Perut
buncit
Mata
cembung
Rambut
jarana
Keluar
cacing dari dubur atau mulut
GAMBAR
PENYEBAB
CACINGAN
Penyebab cacingan
disebabkan oleh jenis cacing tanah yang terdapat pada usus, adalah:
Cacing
gelang
Cacing
cambur
cacing
tambang
CARA
PENULARAN
Apabila penderita cacingan Luang air besar sembarangan. Tinja yang
mengandung telur cacing mengotori tanah.
GAMBAR
Di tanah lembab dengan suhu dan waktu tertentu telur menjadi matang dan
Siap menulari orang lain.
penularan dapat melalui makanan dan minutan yang dikotori oleh telur
cacing yang telah matang tadi atau melalui tangan yang kotor.
GAMBAR
Dapat juga penularan melalui digitan tempayak pada kulit kaki yang tidak
memakai alas kaki.
BAHAYA
DAN KERUGIAN BAGI PENDERITA CACINGAN
- Cacing menghisap makanan
dalam usus sehingga penderita kurang gizi - Cacing menghisap darah dalam usus
sehingga penderita kurang darah - Pertumbuhan anak terganggu
- Cacing dewasa
dapat menéalas keluar usus dan merusak alat-alat tubuh sehingga menumbuhkan
penyakit lain.
- Jika jumlah cacing banyak
dapat menyumbat usus sehingga penderita dapat meninggal.
- Anak yang
menderita cacingan mudah terserang penyakit lain dan sukar mencerna pelajaran.
- Penderita
cacingan pada orang dewasa dapat menurunkan kemampuan kerja.
CARA
MENCEGAH PENYAKIT CACINGAN
Mencuci tangan bersih-bersih dengan sabun sebelum makan dan sesudah buah
air besar serta saat mau menyuapi anak.
GAMBAR
2. Mandi dan membersihkan badan paling sedikt 2
kali setiap hari
GAMBAR
Memotong
dan membersihkan kuku
Memakai
alas kaki sewaktu diluar rumah
GAMBAR
5. Mencuci dan memasak makanan dan minuman
sebelum makan.
GAMBAR
6. Membuang tinja di jamban
GAMBAR
7. Menjaga kebersihan, menutup makanan dengan
tudung saji.
PRAMUKA PENGGALANG
Cara
pencegahan penyakit cacingan
Mencegah
pengotoran sungai dan saluran air
Menjaga
kebersihan rumah.
Menjaga
kebersihan lingkungan
Menggunakan
air bersih untuk keperluan makan, minum dan mandi
Memasak
air minum
GAMBAR
Memakai
alas kaki (sepatu atau sandal)
Mengusahakan
pengaliran pembuangan air kotor/air limbah
Membuang
sampah di tempat yang semestinya.
Memberantas
binatang yang menyebabkan telur cacing lalat, lipas dan tikus.
IV. PRAMUKA
PENEGAK DAN PANDEGA
1.
Lingkaran kehidupan dan Proses Penularan cacing Gelang.
|
Orang sehat
yang makan makanan |
Telur-telur
terbawa angin air, debu |
||||||
|
dan |
minuman |
minuman |
yang |
dan
terselip dikuku dan sebagainya, |
|||
|
mengandung telur cacing. |
|
kemudian
hinggap pada: makanan |
|||||
|
|
|
|
|
dan
minuman |
|
|
|
|
|
|
|
|
Setelah
lebih kurang 1 minggu telur |
|||
|
|
|
|
|
menjadi |
larva |
perkembangan |
telur |
|
|
|
|
|
cacing |
di |
permukaan |
tanah |
|
|
|
|
|
menandung
larva. |
|
||
|
Penderita kecacingan
buang air besar |
|
|
|
|
|||
|
di sembarang tempat |
|
|
|
|
|
||
2.
Lingkaran Kehidupan dan Proses Penularan Cacing Tambang
GAMBAR
3.
Lingkaran kehidupan dari proses penularan cacing cambuk
KHUSUS UNTUK PRAMUKA PENEGAK
DAN PANDEGA
Disamping harus memahami
bahan-bahan untuk memperoleh TKK, Pramuka Penegak dan Pandega harus telah
melatih sedikitnya seorang Pramuka Siaga dan Penggalang atau seorang anak
seusia itu, sehingga memperoleh TKK Penanggulangan Penyakit Kecacingan.
KEGIATAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT CACINGAN.
a. Penyuluhan
kesehatan masyarakat tentang pencegahan penyakit cacingan oleh petugas
kesehatan maupun kader-kader pembangunan bidang kesehatan.
Membantu memberikan pengobatan dengan obat cacing yang dapat diperoleh
di Puskesmas atau toko-toko obat (diutamakan bagi umur di bawah 13 tahun).
Meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan dengan
melibatkan peran serta masyarakat.
Program
dilakukan dengan memperhatikan program/sektor terkait.
Pengobatan
Penderita Cacingan.
Bila seorang sakit cacingan, maka orang tersebut perlu diberikan obat
cacing. Petunjuk pemakaian obat cacing di toko atau tanyakanlah kepada petugas
kesehatan atau kader pembangunan bidang kesehatan.
Apabila menggunakan obat cacing pyrantel pamoat dengan dosis 10 mg/kg
berat badan dosis tunggal. Obat tidak diberikan terhadap orang yang sedang
demam, ibu hamil dan bayi berumur kurang dari 4 bulan.
Selain obat
pyrantel pamoat dapat
pula digunakan obat-obatan
lain:
albendazale, membendazale
dan obat-obat tradisional (petai cina, temulawak, dan lain-lain). Perhatikanlah
aturan pemakaiannya.
Untuk meyakini bahwa orang tersebut telah sembuh dari cacingan maka
perlu diperiksa tinjanya di Puskesmas. Bina ternyata orang tersebut masih
cacingan, pengobatan dapat diberikan lagi sampai tinjanya negatif. Karena angka
penularan cacing dan terinfeksi (infeksi ulang) di Indonesia pada umumnya masih
tinggi, maka membiasakan makan obat cacing secara teratur 3-4 bulan sekali dapat
dilakukan, tetapi kegiatan pencegahan lebih penting dan sangat dianjurkan.
Penyuluhan kepada masyarakat atau kelompok
Pramuka.
Menjelaskan bahwa penyakit cacingan adalah merupakan salah satu penyakit
menular yang sering dijumpai di kalangan masyarakat Indonesia. Setiap 100 orang
lebih kurang 60-80 diantaranya mengandung cacing dalam perutnya.
menjelaskan
dengan baik dan benar tentang:
Kebersihan
lingkungan
1). Setiap anggota keluarga
agar selalu buang air besar ke dalam jamban. Jangan buang air besar di
sembarang tempat.
2). Setiap
anggota keluarga agar selalu menggunakan air bersih yang memenuhi syarat-syarat
kesehatan.
3). Keluarga
agar selalu memasak makanan dan minuman sebelum dimakan dan diminum.
4). Keluarga
agar selalu menggunakan tudung saji (penutup makanan) agar makanan terhindah
dari jamahan lalat dan debu.
Kebersihan
diri pribadi
Setiap anggota keluarga agar membiasakan hidup
bersih dengan cara:
1). Cuci tangan
dengan sabun sebelum dan sesudah makan serta setelah buang air besar.
2). Memotong kuku seminggu sekali
3). Memakai alas kaki (sandal, sepatu, dan
sebagainya)
4). Memelihara kebersihan Jiwa/rohani.
Hal ini sangat
penting dan erat hubungan dengan kebersihan badani, bahkan oleh agama
disebutkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari pada iman. Pokoknya semua
bersih, lingkungan, badan, hati dan cita-cita.
Disamping
bahan-bahan yang telah diuraikan, harus telah melatih sedikitnya seorang
Pramuka atau seorang anggota masyarakat sehingga memperoleh TKK Penanggulangan
Penyakit Kecacingan.
Juga harus
dapat menganjurkan atau membimbing masyarakat atau keluarga dan mengusahakan
pengobatan:
Membimbing masyarakat (keluarga) untuk melaksanakan peranannya dengan
cara antara lain:
Menambah pengetahuan mengenai penyakit cacingan ini terutama tentang
pencegahan serta pemberantasannya dengan meminjam dan mempelajari, buku pedoman
pelaksana pemberantasan cacing yang ditularkan melalui tanah dari Departemen
Kesehatan.
Pengetahuan Lain:
Daerah-daerah yang mempunyai angka kesakitan
tinggi
Daerah yang mempunyai angka
kesakitan cacingan (prevalensi) tinggi adalah dengan kriteria sebagai berikut:
Letak daerah dengan iklim yang panas dan lembab yang cocok dengan
pertumbuhan cacing perut.
Penduduk
padat
Sarana penunjang lingkungan (air bersih, jamban, keberhasilan makanan
dan minuman) belum memenuhi syarat kesehatan atau belum dimanfaatkan.
pendidikan
masyarakat masih rendah.
Sosial
ekonomi masih rendah.
Pramuka
golongan Penegak dan Pandega diharapkan dapat menjelaskan dan menjadi contoh tauladan
terhadap sekelompok Pramuka golongan Siaga dan Penggalang atau masyarakat dalam
penyuluhan pencegahan dan pengobatan penyakit cacing.
Khusus Pramuka
Penegak dan Pandega, di samping hal-hal tersebut di atas, juga harus :
Dapat membantu atau bekerja sama dengan petugas kesehatan dalam
pelaksanaan program. Misalnya dalam pelaksanaan penyuluhan, pengobatan melalui
program terpadu baik lintas program maupun lintas sektoral.
Telah melatih sedikitnya seorang Pramuka atau seorang anggota masyarkaat
sehingga TKK Penangulangan penyakit Cacingan tingkat madya.
KEPUSTAKAAN.
Mengenal cacing perut dan cara pencegahannya, Sub Dit. Cacing Tambang
dan Parasit Perut lainnya, Ditjen P3M Departemen Kesehatan RI, 1981.
Keluarga sehat karena bebas dari cacing, Departemen Kesehatan Jakarta,
1983.
Program Pelita IV Subdit Penanggulangan Diare, Kecacingan dan Parasit
Perut, Ditjen PPM & PLP.
Pedoman Program
pemberantasan Penyakit Cacingan, Ditjen PKM & PLP, 1998.
Marilah memberantas dan mencegah cacingan,
Depkes 1992.
SKK
PENANGGULANGAN HIV / AIDS DAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL LAINNYA
PRAMUKA PENGGALANG (usia 11 - 15
th)
Mengetahui
pengertian IMS, HIV dan AIDS
Mengetahui
gejala-gejala IMS, Infeksi HIV dan AIDS.
Mengetahui
cara-cara penularan IMS, infeksi HIV dan AIDS
Mengetahui
bagaimana cara pencegahan IMS, infeksi HIV dan AIDS
Mengetahui
hubungan IMS dan HIV/AIDS
Mengetahui dimana virus HIV ditemukan dalam tubuh, cara HIV melemahkan
kekebalan tubuh dan siapa saja yang dapat terkena infeksi HIV/AIDS
Dapat
menyampaikan kepada teman sebaya di kelompoknya
PRAMUKA PENEGAK
SKK tentang IMS
Mengetahui
dan dapat menjelaskan pengertian IMS.
Mengetahui
dan dapat menjelaskan gejala dan akibat IMS yang diobati tidak menular.
Mengetahui
dan dapat menjelaskan cara penularan IMS
Mengetahui
dan dapat menjelaskan bagaimana cara pencegahan IMS.
Mengetahui
dan menjelaskan hubungan IMS dan HIV/AIDS.
Mengetahui dimana dapat memperoleh pengobatan dan akibat IMS yang
diobati tidak teratur.
Mengetahui
perilaku dan faktor yang mepengaruhi penyebaran IMS.
Dapat
memberi tahu kepada teman sebaya dikelompoknya
SKK tentang HIV/AIDS
Mengetahui
dan dapat menjalaskan pengertian HIV/AIDS.
Mengetahui
dan dapat menjelaskan perjalanan penyakit dan gejala HIV/AIDS
Mengetahui
dan dapat menjelaskan cara penjularan HIV/AIDS
Mengetahui
dan dapat menjelaskan bagaimana cara pencegahan HIV/AIDS
Mengetahui
perilaku dan faktor yang mempengaruhi penyebaran HIV/AIDS
Dapat
memberi tahu kepada semua sebaya dikelompoknya.
HIV DAN AIDS
Pengertian HIV dan AIDS
Pengertian
HIV
HIV adalah kependekan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu
virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Orang yang mengidap HIV di
dalam tubuhnya disebut HIV positif atau pengidap HIV.
Orang yang telah terinfeksi
HIV dalam beberapa tahun pertama belum menunjukkan gejala apapun, secara fisik
kelihatan tidak berbeda dengan orang lain yang sehat. Namun dia mempunyai
potensi sebagai sumber penularan, artinya dia dapat menularkan virus pada orang
lain.
Pengertian
AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunedeficiency Syndrome. Syndrome,
yang bahasa Indonesianya adalah Sindroma,
merupakan kumpulan gejala dan tanda penyakit. Deficiency dalam bahasa Indonesia berarti kekurangan. Immune berarti kekebalan tubuh,
sedangkan Acquired berarti diperoleh
atau didapat. Dalam hal ini, “diperoleh” mempunyai pengertian bahwa AIDS bukan
penyakit keturunan. Seseorang menderita AIDS bukan karena ia keturunan dari
penderita AIDS, tetapi karena ia terjangkit atau terinfeksi virus penyebab
AIDS. Dengan demikian AIDS dapat diartikan sebagai sekumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya/menurunnya sistem
kekebalan tubuh seseorang. AIDS
merupakan fase terminal (akhir) dari infeksi HIV.
Gejala HIV & AIDS
Untuk memahami gejala HIV
dan AIDS, perlu dipahami sistem kekebalan tubuh sebagai mana digambarkan dalam
komik berikut

Penjelasan :
Komik kekebalan tubuh
menggambarkan tentang fungsi darah putih dalam tubuh seseorang sebagai sistem
kekebalan tubuh dalam menghadapi serangan kuman, virus, dan lainnya.
Bila virus masuk ke dalam
tubuh, maka sel darah putih akan berusaha melumpuhkan virus tersebut. Misalnya,
virus influenza, diare dan batuk akan dilumpuhkan oleh sel darah putih.
Berbeda dengan virus
lainnya, HIV adalah virus yang tidak mudah dilumpuhkan oleh sel darah putih.
Apabila masuk ke dalam tubuh kita justru akan melumpuhkan sel darah putih,
terutama menyerang CD 4 dan menggunakannya untuk memperbanyak HIV dalam tubuh
yang bersangkutan sehingga tubuh tidak mampu melawan penyakit dan infeksi.
Tahapan perkembangan perjalanan HIV secara umum dibagi dalam beberapa
tahapan:
Tahap Primer
HIV positif dimana
seseorang positif terkena HIV, namun belum menunjukkan gejala berarti.
Gejala-gejala yang timbul adalah mirip dengan gejala flu (pusing, lemas, agak
demam, dan lain-lain) sehingga sering terabaikan. Tahap ini biasanya terjadi
antara 2-4 minggu setelah seseorang terinfeksi HIV. Dengan kata lain, setelah
HIV masuk tubuh untuk pertama kalinya, apabila orang tersebut melakukan tes
HIV, maka hasil tes mungkin negatif.
Tahapan Asimptomatik atau Tanpa Gejala
Seseorang yang HIV positif
tidak menunjukkan gejala sama sekali. Perlahan-lahan jumlah CD4 dalam darah
menurun. Kadang ada keluhan berkaitan dengan pembengkakan di kelenjar getah
bening, tempat dimana sel darah putih diproduksi.
Tahapan Simptomatik atau Bergejala
Seseorang yang sudah
terkena HIV mengalami gejala-gejala ringan, namun tidak mengancam nyawanya,
seperti: demam yang bertahan lebih dari sebulan, menurunnya berat badan lebih
dari 10 %, diare selama sebulan (konsisten atau terputus-putus), berkeringat di
malam hari, batuk lebih dari sebulan dan gejala kelelahan yang berkepanjangan (fatigue). Sering kali gejala-gejala
dermatitis mulai muncul pada kulit, infeksi pada mulut (oral thrush, hairy leukoplakia) dimana lidah sering terlihat
dilapisi oleh lapisan putih, herpes, dan lainnya. Kehadiran satu atau lebih
tanda-tanda terakhir ini menunjukkan seseorang sudah berpindah dari tahap
infeksi HIV menuju AIDS. Bila hitungan CD4 turun pesat di bawah 200 sel/mm3,
umumnya gejala menjadi kian parah sehingga membutuhkan perawatan yang lebih
intensif.
Tahapan Akhir
Pada tahapan ini, seseorang
telah menunjukkan gejala-gejala penuh AIDS. Ini menyangkut tanda-tanda yang
khas AIDS, yaitu adanya penyakit-penyakit oportunistik seperti: Pneumocytis Carinii (PCP), Candidiasis, Sarkoma Kaposis,
Tuberkulosis (TB),
berat badan menurun
drastis, diare tanpa henti, dan penyakit lainnya yang berakibat fatal. Gangguan
syaraf juga sering dilaporkan, diantaranya: hilangnya ketajaman daya ingat,
timbulnya gejala gangguan mental (dementia), dan perubahan perilaku secara
progresif (umumnya akibat encephalopathy). Disfungsi kognitif sering terjadi,
dengan tanda awal diantaranya adalah tremor (gemetar tubuh) serta kelambanan
bergerak. Hilangnya kemampuan melihat dan paraplegia (kelumpuhan kaki) juga
bisa timbul di tahapan akhir.
Perjalanan cepat atau
lamanya perkembangan HIV seseorang sangatlah individual. Setiap orang cenderung
memiliki gejala yang berlainan. Secara umum, pesatnya perkembangan penyakit
dari HIV positif ke arah Fullblown
AIDS tergantung pada berbagai faktor: riwayat medis, status kekebalan tubuh
atau immunitas, adanya infeksi lain, perawatan yang diperoleh dan lain-lain. Di
samping itu, gizi dan kebersihan lingkungan hidupnya juga berpengaruh pada
taraf kesehatannya secara umum. Polusi udara dan udara yang lembab tanpa
ventilasi yang memadai, dapat dengan cepat menurunkan kesehatan paru-paru
pengidap HIV. Pola makan yang kurang sehat dan gizi yang buruk juga dapat
memperburuk kesehatan dari orang yang HIV positif.
Menurut WHO, awalnya
diperkirakan hanya sebagian kecil dari mereka terinfeksi HIV akan menunjukkan
gejala AIDS. Namun, kini ditemukan bahwa sekitar 20% dari mereka yang HIV
positif akan berkembang menjadi AIDS dalam waktu 5 tahun setelah terinfeksi.
Sedangkan 50% lainnya, dalam waktu 10 tahun setelah pertama kali tertular.
Setelah dalam tahap fullblown,
harapan untuk bertahan hidup menipis secara drastis.
Berdasarkan keterangan di
atas, seseorang bisa saja terkena HIV dan tidak menunjukkan gejala apapun (Asymptomatic) dalam waktu yang cukup
lama (3-10 tahun). Karenanya, kita sering tidak mampu mendeteksi apakah
seseorang HIV positif atau tidak berdasarkan penampilan saja. Meskipun
seseorang tidak menunjukkan gejala apapun, ia sudah dapat menularkan HIV pada
orang lain. Seringkali orang tersebut tidak menyadari dirinya sudah terkena HIV
bila gejalanya belum tampak. Lebih jauh lagi, meskipun ia sudah tahu dirinya
HIV positif, mungkin ia tidak bisa membuka statusnya dengan mudah karena tidak
yakin terhadap reaksi orang lain.

C. Cara Penularan HIV
Sehubungan dengan
penularan, perlu diketahui tentang periode jendela (window period) yaitu masa seseorang telah terinfeksi HIV tetapi
bila dilakukan pemeriksaan darah maka belum menunjukkan hasil (negatif) yang
berarti antibodi terhadap HIV belum dapat dideteksi dengan pemeriksaan
laboratorium. Periode jendela ini biasanya berlangsung antara 3-6 bulan sejak
dimulainya infeksi. Hal yang perlu diingat adalah sejak masuknya virus HIV,
seseorang telah mengidap HIV dan dapat menularkan HIV sepanjang hidupnya.
Sehingga walaupun dalam masa periode jendela, orang

tersebut sudah menjadi sumber penularan.
Penularan HIV dapat terjadi bila ada kontak atau
masuknya cairan tubuh yang mengandung
HIV, yaitu :
Melalui hubungan seksual
dengan seseorang yang mengidap HIV yang dapat terjadi melalui perilaku seksual
dengan lawan jenis atau sesama jenis.
Melalui tranfusi darah dan
transplantasi organ yang tercemar HIV. Transfusi darah yang tercemar HIV secara
langsung membuat orang yang menerima darah tersebut tertular HIV karena virus
langsung masuk ke dalam sistem peredaran darah penerima.
Melalui alat/jarum suntik
atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tindik, tatto) yang tercemar oleh HIV. Oleh
sebab itu pemakaian jarum suntik secara bersama-sama oleh para pecandu
narkotika akan mempermudah penularan HIV di antara mereka bila salah satu di
antara mereka merupakan pengidap HIV.
Pemindahan dari ibu hamil
yang mengidap HIV kepada janin yang dikandungnya, anak yang dilahirkan dan
melalui pemberian ASI.
Mengingat pola penularan HIV seperti disebutkan di atas, maka terdapat
orang-orang yang memiliki perilaku risiko tinggi untuk terinfeksi HIV, yaitu :

Perempuan dan laki-laki yang berganti-ganti pasangan hubungan seksual,
beserta pasangan mereka.
Penjaja
seks, serta pelanggannya.
Laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan seksual anal.
Pengguna narkotika dengan suntik yang menggunakan jarum suntik secara
bersama.
Hal-Hal yang Tidak Menularkan HIV.

HIV mudah mati di luar
tubuh manusia, oleh sebab itu HIV tidak dapat ditularkan melalui kontak sosial
sehari-hari seperti:
Bersentuhan
dengan pengidap HIV.
Berjabat
tangan.
Bersentuhan dengan pakaian dan barang-barang bekas pakai orang dengan
HIV atau sudah AIDS.
Bersin
atau batuk-batuk orang dengan HIV atau sudah AIDS di depan kita.
Berciuman
kering.
Melalui
makanan dan minuman.
Berenang
bersama di kolam renang.
Menggunakan
WC yang sama dengan pengidap HIV.
Melalui
gigitan nyamuk atau serangga lain.
D.
Pencegahan dan Pengobatan HIV dan AIDS

Penting untuk mengetahui
cara melindungi diri dari HIV dan AIDS karena pandemi AIDS merupakan suatu
kedaan darurat. Yang dimaksud keadaan darurat adalah suatu keadaan gawat yang
memerlukan tindakan segera untuk mencegah perkembangannya ke arah kondisi yang
lebih fatal.
Kedaruratan pandemi AIDS
terletak pada kemungkinan penularannya karena sekali tertular HIV belum ada
obat yang dapat menyembuhkannya. Berdasarkan hal itulah, salah satu cara
penanggulangan HIV dan AIDS terbaik adalah dengan melakukan pencegahan.
Pencegahan tentu harus dikaitkan dengan cara-cara penularan HIV. Ada beberapa
upaya yang dapat dilakukan seseorang dalam mencegah tertularnya HIV dan AIDS,
seperti berikut:
Pencegahan
Penularan Melalui Kontak Seksual
Sebagian besar penularan
HIV di Indonesia terjadi melalui penularan seksual, sehingga pencegahan HIV dan
AIDS perlu difokuskan pada hubungan seksual yang berisiko. Untuk itu kepada
setiap orang perlu memperoleh informasi yang akurat agar memiliki perilaku
seksual yang aman dan bertanggung jawab, yaitu :
Tidak
melakukan hubungan seksual.
Hanya
melakukan hubungan seksual dengan satu orang dan saling setia.
Apabila salah satu pasangan sudah terinfeksi HIV atau tidak dapat saling
setia, gunakan kondom secara benar setiap kali berhubungan seksual.
Konsep pencegahan dikenal
dengan istilah A B C (Abstinence, Be
Faithfull, Condom).
Pencegahan Penularan melalui Darah
Penularan HIV melalui darah
menuntut kita untuk berhati-hati dalam berbagai tindakan yang berhubungan
dengan darah, produk darah dan plasma:
a. Transfusi Darah
Harus dipastikan bahwa
darah yang digunakan untuk transfusi tidak tercemar HIV. Perlu dianjurkan pada
seseorang yang HIV positif agar tidak menjadi donor darah. Begitu pula mereka
yang berperilaku risiko tinggi, misalnya sering melakukan hubungan seks dengan
ganti-ganti pasangan.
Penggunaan
Produk Darah dan Plasma
Sama halnya dengan darah
yang digunakan untuk transfusi, maka produk darah dan plasma harus dipastikan
tidak tercemar HIV.
Penggunaan
alat suntik dan alat-alat lain yang dapat melukai kulit
Penggunaan alat-alat
seperti jarum, jarum suntik, alat cukur dan alat tusuk untuk tindik perlu
diperhatikan sterilisasinya. Tindakan mensterilkan dengan pemanasan atau
larutan desinfektan merupakan tindakan yang sangat penting.
Pencegahan
Penularan dari Ibu kepada Anak
Janin dari orangtua
terinfeksi HIV berrisiko tertular HIV penularan cukup besar sekitar 25 %.
Risiko akan semakin besar bila orangtua telah berada dalam tahap AIDS, oleh
karena itu orangtua yang sudah terinfeksi HIV dianjurkan untuk mempertimbangkan
kembali tentang rencana kehamilan. Risiko bayi terinfeksi HIV melalui ASI
kecil, sehingga tetap dianjurkan bagi si ibu untuk memberikan ASI pada bayinya.
Jika ibu berniat untuk memberikan ASI, maka:
Berikan
ASI ekslusif selama 6 bulan menggunakan cangkir atau sendok.
Setelah
6 bulan, hentikan ASI dan berikan makanan tambahan.
Situasi Epidemiologi HIV dan AIDS Terkini Di
Wilayah Kerja
Dalam epidemiologi, epidemi (dari bahasa Yunani epi-
penyakit + demos rakyat) adalah penyakit yang timbul sebagai kasus baru pada suatu populasi tertentu
manusia, dalam suatu
periode waktu tertentu, dengan laju yang melampaui laju "estimasi"
(dugaan), yang didasarkan pada pengalaman mutakhir. Dengan kata lain, epidemi
adalah wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga.
Epidemi AIDS
adalah kejadian wabah AIDS yang terjadi secara cepat dari yang diduga dalam
suatu periode waktu tertentu pada suatu masyarakat. Epidemi AIDS merupakan
distribusi dan determinant (penentu)
dari kejadian AIDS yang terjadi di masyarakat.
Sehubungan hal tersebut,
maka epidemi AIDS terkini pada suatu wilayah menggambarkan jumlah kasus, pola
penyebaran, faktor risiko, kelompok risiko, pengendalian dan perkembangan AIDS
tersebut. Oleh karena itu situasi epidemi AIDS di setiap daerah akan berbeda.
Pada umumnya, penggambaran
suatu epidemi AIDS tidak hanya terbatas pengungkapan fakta kejadian wabah saja,
akan tetapi fakta tersebut dianalisis dan dikembangkan kebijakan dalam rangka
penanggulangannya.
Seorang manajer program dan
petugas lapangan sangat penting memahami suatu epidemi AIDS yang ada di
daerahnya. Memahami epidemi akan mempermudah mereka untuk menguasai situasi dan
permasalahan serta rencana strategi yang akan dikembangkan.
F. Jenis Pelayanan Yang
terkait dengan HIV dan AIDS
Salah satu dari
penanggulangan HIV dan AIDS adalah penyediaan layanan-layanan masyarakat selain
Komunikasi Informasi dan Edukasi.
Pelayanan HIV dan AIDS, diantaranya kita mengenal Voluntary Counseling and Testing (VCT)), Prevention from Parent To Child Transmission (PPTCT),
Provider Initiated Test and Counseling (PITC) and Care Support and Treatment
(CST).
VCT adalah konseling dan
tes HIV yang dilakukan secara sukarela untuk mengetahui status HIV seseorang,
dikenal juga sebagai Konseling Testing secara Sukarela (KTS). Tes ini merupakan
pengambilan darah dan pemeriksaan laboratorium yang harus disertai konseling.
KTS merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk
ke seluruh layanan kesehatan HIV dan AIDS.
Pada KTS dikenal dua model layanan, diantaranya
:
KTS yang statis (klinik KTS tetap)
KTS
terintegrasi dalam sarana kesehatan HIV dan AIDS, serta sarana kesehatan
lainnya, artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang ada.
Mobile KTS (Jemput bola dan keliling)
KTS dapat dilaksanakan oleh
LSM atau layanan kesehatan yang langsung mengunjungi kelompok dampingan dengan
risiko tinggi di wilayah tertentu.
PPTCT atau Pencegahan
penularan dari orangtua ke anak merupakan pelayanan yang dikhususkan terhadap
para ibu yang terinfeksi HIV. Setiap ibu berstatus HIV yang hamil menjadi
perhatian dari pelayanan ini. Seorang ibu hamil dengan HIV positif rentan
menularkan terhadap janinnya. Penularan ini mungkin terjadi saat kehamilan
sampai proses kelahiran, sehingga sangat perlu pendampingan dan penanganan
khusus melalui pelayanan PPTCT. Diantara pelayanan yang didapat adalah
konseling, pemeriksaan rutin kehamilan, terapi ARV, proses kelahiran dan
penanganan Ibu dan anak dari pasca kelahiran termasuk gizi dan nutrisi bayi dan
pemeriksaan untuk kepentingan status HIV bayi.
PITC merupakan layanan
pemeriksaan darah untuk mengetahui status HIV seseorang, dimana pasien yang
datang dengan simptom atau penyakit terkait HIV, diagnosis dan tatalaksana
klinik berdasarkan diagnosis HIV. Tes HIV ditawarkan sebagai bagian dari
evaluasi klinis di tempat dimana prevalensi HIV menonjol.
Layanan PITC adalah :
Individu mencari layanan medis.
Konseling HIV diberikan dan tes ditawarkan oleh
petugas kesehatan.
Hasil tes digunakan petugas
kesehatan untuk melakukan diagnosis dan memberikan terapi yang tepat.
Layanan yang diberikan
bersifat kerahasiaan dan status didokumentasikan di status catatan medik agar
dapat dilakukan tindak lanjut.
Prinsip dari PITC adalah
sama dengan VCT, seperti : kerahasiaan, konseling dan informed-consent.
CST merupakan pelayanan
terkait dengan pemberian dukungan kepada orang yang berstatus HIV positif.
Pelayanan ini akan diberikan setelah orang melalui proses tes darah atau ketika
seseorang tersebut HIV positif. Pasca tes, seseorang yang HIV positif akan
dirujuk ke CST dan manajer kasus di CST akan menawarkan beberapa dukungan dan
layanan, misalnya: pemeriksaan laboratorium terkait dengan tingkat CD4, viral load, SGPT, SGOT dan lain-lain.
Dukungan terapi ARV (antiretroviral)
akan diberikan dalam pelayanan CST. Selain dukungan medis, bila yang
bersangkutan membutuhkan, dapat memperoleh dukungan sosial, ekonomi, atau
spiritual beserta layanan-layanan lain yang ada di masyarakat.
G. Tes
HIV
1. Tes Antibodi HIV
Tes antibodi HIV adalah tes darah yang dipakai
untuk memastikan apakah seseorang telah
terinfeksi HIV atau tidak.
Manfaat tes ini adalah :
Membantu melindungi
persediaan darah di bank darah. Adanya skrining darah donor untuk antibodi HIV
terbukti telah menurunkan secara drastis risiko penularan HIV melalui tranfusi
darah.
Menggambarkan besarnya masalah epidemi HIV dan
AIDS di masyarakat.
Mengetahui status HIV
secara dini, sehingga memberikan kesempatan pada orang tersebut segera memulai
pengobatan dan konseling.
Proses Tes Antibodi HIV
Tes HIV dilakukan untuk
mendeteksi keberadaan antibodi terhadap HIV di dalam darah. Antibodi adalah
reaksi tubuh terhadap kehadiran virus tertentu di dalam tubuh. Oleh sebab itu
tes semacam ini secara lengkap disebut tes antibodi HIV, walaupun kadang-kadang
orang sering menyebut tes HIV saja. Tes jenis inilah yang sering dipakai untuk
penapisan atau skrining darah donor sebelum digunakan.
Selain itu ada pula tes
untuk mengetahui keberadaan HIV itu sendiri, atau disebut antigen. Perlu
diketahui bila tubuh kemasukan suatu bibit penyakit, baik bakteri, virus, atau
lainnya
(ini semua disebut antigen)
maka tubuh kita akan membuat antibodi sebagai reaksi terhadap antigen tersebut.
Zat ini disebut antibodi, yang keberadaannya di dalam darah dapat dideteksi
dengan pemeriksaan yang menggunakan zat-zat tertentu (yang disebut reagens).
Tubuh membutuhkan waktu tertentu untuk membentuk antibodi agar dapat terdeteksi
dengan pemeriksaan laboratorium.
Pada HIV, keberadaan
antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium dalam waktu 3-6
bulan setelah seseorang terpapar HIV. Sebelum jangka waktu ini, pemeriksaan
darah tidak akan menunjukkan adanya antibodi HIV. Walaupun pemeriksaan darahnya
masih negatif, orang tersebut sudah dapat menularkan NIV kepada orang lain.
3. Jenis tes untuk mendeteksi HIV.
Saat ini tersedia beberapa
jenis tes darah yang dapat membantu memastikan apakah seseorang, yang mungkin
nampak sehat, sudah terkena HIV. Beberapa tes darah yang tersedia saat ini
diantaranya:
ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay). Tes yang dilakukan untuk
mencari antibodi yang ada dalam darah. Tes ini bersifat sensitif membaca
kelainan darah.
Western Blot. Tes ini juga
untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV. Tes ini lebih akurat dan lebih
mahal dibandingkan dengan ELISA dan lebih spesifik dalam mendiagnosis kelainan
dalam darah.
DIPSTICK HIV (En Te Be).
Tes ini adalah tes cepat yang murah dan pelaksanaannya cepat. Tes yang
dikembangkan oleh PATH ini sudah diproduksi di NTB, Indonesia. Sifatnya cukup
sensitif dan spesifik dalam melihat kelainan dalam darah.
Agar KD bersedia melakukan
tes HIV, PL harus mampu memotivasi KD melalui pendekatan lapangan, konseling
serta memberikan informasi lain yang diperlukan.
H. Stigma dan Diskriminasi
ODHA
Stigma sering kali
menyebabkan diskriminasi dan dapat mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi
ODHA dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi dapat memperparah epidemi HIV dan
AIDS karena dapat menghambat usaha pencegahan dan perawatan dengan memelihara
kebisuan dan penyangkalan tentang HIV dan AIDS seperti juga mendorong keterpinggiran
ODHA dan mereka yang rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV dan AIDS sering
dikaitkan dengan perilaku seksual, penggunaan narkoba dan kematian sehingga
banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima dan takut terhadap penyakit ini.
Stigma berhubungan dengan
kekuasaan dan dominasi di masyarakat. Pada puncaknya, stigma akan menciptakan
ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur masyarakat, norma
dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa
kelompok merasa kurang dihargai dan menjadi malu, sedangkan kelompok lainnya
merasa superior.
Diskriminasi terjadi ketika
pandangan-pandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan
seseorang secara tidak adil berdasarkan atas prasangka mereka terhadap status
HIV seseorang. Contoh diskriminasi yang terjadi dalam situasi HIV dan AIDS
antara lain: sikap staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan
pelayanan kesehatan kepada ODHA, atasan yang memberhentikan pegawainya
berdasarkan status atau prasangka atas status HIV mereka, keluarga/masyarakat
yang menolak mereka yang hidup dengan HIV atau dipercaya terinfeksi dengan HIV.
Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak azasi
manusia.
Stigma dan diskriminasi
dapat terjadi dimana saja dan kapan saja baik di keluarga, masyarakat, sekolah,
tempat peribadatan, tempat kerja, juga tempat layanan hukum dan kesehatan.
Orang dapat melakukan diskriminasi, baik dalam kapasitas pribadi maupun
profesional, sementara lembaga bisa melakukan diskriminasi melalui kebijakan
dan kegiatan yang dilakukan.
Bentuk lain dari stigma
berkembang melalui internalisasi oleh ODHA dengan persepsi negatif tentang diri
mereka sendiri. Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit menimbulkan
efek psikologi yang berat tentang bagaimana ODHA melihat diri mereka sendiri.
Hal ini dapat mendorong terjadinya depresi, harga diri rendah dan putus asa.
Stigma dan diskriminasi dapat menghambat upaya pencegahan karena membuat orang
tidak berani untuk mencari tahu status mereka, atau bisa pula menyebabkan
mereka yang telah terinfeksi HIV tetap melakukan perilaku seksual dan non
seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga terhadap status
HIV mereka. Akhirnya, ODHA dilihat sebagai "masalah" bukan sebagai
bagian dari solusi untuk mengatasi epidemi ini.
Di banyak negara, hukum,
kebijakan, dan peraturan memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang
mendukung pencegahan, dukungan dan perawatan HIV dan AIDS. Meskipun kebijakan
dan hukum yang mendukung telah ada, upaya penegakan hukum yang lemah
menyebabkan stigma dan diskriminasi terus berlangsung. Hal ini mungkin
disebabkan oleh hanya sedikit pertanggungjawaban terhadap tindakan-tindakan
diskriminasi atau ganti rugi bagi mereka yang telah mengalami stigma dan
diskriminasi. Berbagai negara dan lembaga menciptakan dan mempersubur stigma
dan diskriminasi melalui hukum, peraturan, dan kebijakan yang mendiskriminasi
ODHA atau orang-orang di sekitarnya.
I. Peran ODHA dalam
Pencegahan
Memberikan motivasi pada
lingkungan teman-teman sesamanya dan pasangannya yang non reaktif untuk
melakukan tes darah.
Saling memberikan dukungan antara sesama ODHA
dalam melakukan hidup yang sehat.
Melakukan penyebaran
informasi dan advokasi terkait untuk menghapus diskriminasi dan stigmatisasi
terhadap ODHA.
Memperluas jaringan
pelayanan dalam untuk memudahkan dukungan dan pemberian layanan terkait dengan
kebutuhan ODHA.
Pemutusan mata rantai
penularan terhadap pasangan melalui pencegahan dan perilaku aman.
Tugas Petugas
Lapangan
PL mempunyai tugas sebagai berikut dalam
pencegahan HIV dan AIDS:
Menyebarkan informasi tentang pengetahuan dasar
HIV dan AIDS.
Melakukan promosi pencegahan.
Melakukan promosi layanan-layanan yang terkait
dengan HIV dan AIDS.
Merujuk KD melakukan KTS.
Melakukan tindak lanjut hasil rujukan KTS sesuai
dengan kewenangannya.
REFERENSI
ASA-FHI Prosedur Operasional Standard, 2009, Membangun Jaringan
Rujukan Berbasis Komunitas.
Citra
Usadha Indonesia, 2008, Mengenal Terapi ARV (Pengalaman Odha).
K. Tuti Parwati Merati, 2008 , Kepedulian Bersama, Tuntutan Dalam
Penanggulangan HIV dan AIDS (Pidato pengukuhan jabatan guru besar
tetap bidang ilmu penyakit dalam).
Citra Usadha Indonesia,2007, Prosedur Layanan Konseling Tes HIV Sukarela
dan Terapi ARV.
ASA-FHI
, 2004, Mengenal Konseling dan Testing HIV Sukarela.
ASA-FHI,
2004, Jangan Cuma Ragu? Ikut VCT , Hidup Lebih Pasti.
AIDSCAP-FHI, 2004, Control of Sexually Transmitted Diseases: Handbook
For The Design And Management Program.
Departemen Kesehatan Replubik Indonesia, Direktorat Jendral Pembrantasan
Penyeakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta, 2004, Pedoman
Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual.
Departemen Kesehatan Replubik Indonesia, PUSDIKNAKES Kerjasama dengan FF
dan Studio Driya Media ,1997, AIDS Dan Penanggulangannya.
SKK
IMUNISASI
TUJUAN SKK IMUNISASI
Pramuka Siaga:
Mengetahui
tentang imunisasi secara sederhana
Mengetahui
manfaat imunisasi
Mengetahui
bahaya bila tidak diimunisasi
Mengetahui
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
Pramuka Penggalang:
Dapat
menjelaskan kerugian bila tidak diimunisasi
Dapat
menjelaskan siapa yang perlu diimunisasi
Dapat
menjelaskan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
Pramuka Penegak dan Pandega:
Dapat
mengaplikasikan tentang manfaat imunisasi
Dapat
mengaplikasikan tentang siapa yang perlu mendapatkan imunisasi
Dapat
memberikan penyuluhan tentang imunisasi
Dapat membantu petugas dalam mengajak dan mendorong orang lain agar mau
diimunisasi.
PRAMUKA
SIAGA
Seorang Pramuka Siaga harus mengetahui :
Apakah
Imunisasi Itu ?
Imunisasi ialah upaya pemberian kekebalan dengan pemberian vaksinasi
untuk mencegah timbulnya penyakit-penyakit berbahaya, seperti : TB, Difteri,
Pertusis, Tetanus, Polio, Campak dan Hepatitis B.
PENYAKIT-PENYAKIT BERBAHAYA
APA YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI SAAT INI ?
Penyakit-penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi ialah :
. TB
. Difteri
. Pertusis (Batuk Rejan)
. Tetanus
. Campak
. Polio
. Hepatitis B
Banyak lagi penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi namun belum masuk ke dalam program
imunisasi (yang ditanggung oleh pemerintah) oleh karena keterbatasan dana.
1. TB (Tuberkulosis)
Tuberkulosis
(TB) atau yang dulu dikenal TBC adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). TB bukan disebabkan oleh guna-guna atau kutukan. TB juga
bukan penyakit keturunan. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
juga mengenai organ atau bagian tubuh lainnya (misalnya: tulang, kelenjar,
kulit, dll).
TB dapat
menyerang siapa saja, terutama menyerang usia produktif/masih aktif bekerja
(15-50 tahun) dan anak-anak. TB dapat menyebabkan kematian. Apabila tidak
diobati, 50% dari pasien akan meninggal setelah 5 tahun.
.
Difteri (Indrak)
Penyakit tenggorokan dan
hidung yang sangat berbahaya yang kadang-kadang menyumbat pernafasan sehingga
anak dapat meninggal.
PRAMUKA PENGGALANG
A. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
:
TB (TUBERKULOSIS)
Penyebab: Basil tuberkulosa
(Mycobactrium tuberculosis) Gejala utama:
∗ Batuk
terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih Gejala lainnya:
∗ Batuk bercampur darah
∗ Sesak
nafas dan nyeri dada ∗ Badan lemah
∗ Nafsu
makan berkurang ∗ Berat badan turun
∗ Rasa kurang enak badan (lemas) ∗ Demam meriang berkepanjangan
∗
Berkeringat di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan Jenis TB:
|
1. |
TB Paru |
: Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang |
|
|
|
menyerang jaringan paru |
|
2. |
TB Ekstra Paru |
:
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain |
paru, misalnya
: selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar getah bening, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Cara penularan:
Sumber penularan adalah
pasien TB yang dahaknya mengandung kuman TB BTA Positif.
![]()
Pada waktu
batuk atau bersin, pasien menye-barkan kuman ke udara dalam bentuk percikan
dahak. Sekali batuk dapat menyebarkan
3.000 kuman dalam percikan dahak.
![]()
Penularan
terjadi melalui percikan dahak yang dapat bertahan selama beberapa jam dalam
ruangan yang tidak terkena sinar matahari dan lembab.
![]()
Semakin banyak
kuman yang ditemukan dalam tubuh pasien berarti semakin besar kemungkinan
menularkan kepada orang lain.
![]()
TB tidak
menular melalui perlengkapan pribadi pasien yang sudah dibersihkan, seperti:
peralatan makan, pakaian dan tempat tidur yang digunakan pasien TB.
![]()
Tindakan:
Rujuklah ke Puskesmas untuk dicari kepastian diagnosa penyakit dan untuk
mendapatkan pengobatan serta nasehat-nasehat.
Vitamin-vitamin, obat cacing, zat besi. Pencegahan :
Imunisasi BCG pada bayi (terutama untuk mencegah
TB selaput otak)
DIFTERI
Penyebab : Kuman
Terutama menyerang anak-anak kecil
Masa inkubasi
: 2 – 4 hari
Penularan:
Secara kontak
langsung maupun tidak langsung, misal dari pakaian/barang-barang milik
penderita/alas tidur. Penderita (yang tidak diobati) sangat menular selama 2 –
4 minggu.
Gejala:
Gejala umumnya adalah sumeng, malas, sakit
kepala, badan linu.
Jenis:
Difteri
hidung
Pilek-pilek beberapa hari yang tidak sembuh-sembuh, hingga kulit di atas
bibir dapat lecet.
Sesaat
kemudian pileknya bercampur darah dan bau.
Tampak
semacam selaput kotor di hidung.
Difteri
Pharynx (tenggorokan)
Sakit
waktu menelan, kadang-kadang suara bindeng/sengau
Bila
sudah lanjut, maka leher anak membengkak macam Bullneck
Dalam pharinx tampak semacam selaput putih kotor, kadang kala berdarah
(ini bila anak disuruh buka mulut).
Terutama terdapat pada anak kecil gelisah karena biasanya sesak yang
makin lama makin bertambah sesaknya.
Berbunyi
waktu menarik napas (stidor)
Penarikan
otot-otot pernapasan.
4). Difteri di lain tempat (mata, kulit,
vagina)
Pencegahan :
Isolasi penderita sampai
sembuh (hasil pemeriksaan pulasan 2 - 3 x berturut-turut negatif).
Untuk anak-anak/orang yang
kontak dengan penderita harus diamati dan dilakukan pemeriksaan pulasan kuman
Desinfeksi barang-barang milik penderita
Imunisasi dengan Difteri
Tetanus (DT) / Difteri Pertusis-Tetanus (DPT). Pengobatan :
Harus dirawat di Rumah Sakit untuk Sakit untuk
pemberian antitoksin (A.D.S)
Penicilin atau
Erytromycin 40 mg/kg/BB/hari selama 7-10 hari
Istirahat
Makan/minum yang bergizi
Bila jalan nafas tersumbat dibuat lubang untuk
nafas.
Batuk rejan (Pertusis / Kinkhoest = Batuk 100
hari)
Batuk berbulan-bulan dengan
bunyi yang khas diakhiri muntah, mata ikut membengkak. Akibatnya anak menjadi
kurus karena tidak mau makan. Kebanyakan anak akan terserang penyakit ini,
paling berat pada bayi berumur kurang dari 1 tahun.
Penyebab : kuman
Banyak menyerang pada anak-anak kecil, laki-laki
atau perempuan
Masa Inkubasi : 7-14 hari
Penularan : secara langsung
Penderita sangat menular pada saat mulai sakit
hingga 4 minggu kemudian.
Gejala : - mula-mula batuk/pilek bisa menyerang 7-14
hari lamanya,
- kemudian
diikuti dengan batuk yang lebih khas,yaitu penderita batuk-batuknya lebih keras
dan berturut-turut (menyambung terus) untuk kemudian diakhiri dengan tarikan
napas yang panjang dan berbunyi, sering kali diikuti dengan muntah. saat
serangan ini biasanya mata anak merah sampai biru dan mata berair.
- Batuk-batuk
tersebut beberapa minggu kemudian akan menjadi berkurang.
Pencegahan:
isolasi penderita sedikitnya 3 minggu mulai dari
batuk-batuk yang khas.
imunisasi DPT pada bayi
yang khusus penyakit ini tidak ada
Eritromisin 40-50 mg/kg/bb/hari selam 7 hari
atau
Kloramfenikol / Tetrasiklin
Tetanus
Penyakit
ini bisa terjadi pada segala umur. Tetapi yang merupakan masalah cukup besar di
Indonesia adalah banyaknya penderita Tetanus pada bayi yang baru lahir (Tetanus
neonatorum) yang sering menyebabkan kematian.
Penyebab:
Penyebab
tetanus adalah kuman tetanus (clostiridium tetani) yang dapat mengeluarkan
racun yang sangat berbahaya.
Cara penularan :
Pada bayi
Melalui luka
waktu pemotongan tali pusat dengan pisau yang tidak steril atau diberi
bobok/ramuan yang tidak steril atau diberi bobok/ramuan yang tidak bersih.
Pada anak:
Spora tetanus masuk ke
dalam tubuh melalui luka di kulit ataupun melalui lubang pada gedung telinga
dari penderita radang telinga.
Kejang/kaku di seluruh
tubuh (sukar membuka mulut, muka dan punggung kaku). Kejang ini dirasakan
sangat sakit oleh karena kesadaran penderita tetap baik. Rangsangan yang sangat
ringan sudah dapat menimbulkan kesakitan seperti sentuhan suara dan sinar.
Pada bayi yang baru lahir (usia
5 – 28 hari) mendadak tidak mau menetek lagi,
karena, mulutnya kaku dan
mencucu seperti mulut ikan. kematian umunya disebabkan oleh kegagalan
pernafasan akibat kejang otot pernafasan.
Imunisasi TT (Tetanus
Toxoid) pada wanita usia subur (15-39 tahun) termasuk ibu hamil.
Imunisasi DPT pada bayi
Imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada anak sekolah
(SD kelas I-III).
Polio (kelumpuhan).
Penyakit yang ditandai
dengan gejala dengan kaki lemas dan anak menjadi lumpuh seumur hidup.
Penyebab:
Merupakan penyakit menular pada anak yang
disebabkan oleh virus Polio.
Sebagian besar penderita
terserang pada waktu berusia di bawah 3 tahun. Kadang-kadang bisa pula
menyerang anak yang lebih besar.
Virus polio masuk tubuh
seseorang melalui saluran pencernakan. Virus berasal dari kotoran penderita
yang dikeluarkan di sembarang tempat. Apabila keadaan sanitasi lingkungan
kurang baik, maka penularan terjadi melalui tangan/makanan/minuman yang
tercemar, kemudian masuk ke mulur anak lain.
• Kadang-kadang penularan
bisa terjadi melalui titik ludah penderita yang dibatukkan dan terhirup oleh
anak lain.
Gejala-gejala:
Biasanya didahului dngan panas badan.
Bisa disertai batuk-batuk atau diare atau leher
kaku.
Selanjutnya disusul dengan kelumpuhan anggota
badan yang sifatnya lemas,
tanpa adanya gangguan rasa
raba dan biasanya hanya satu sisi pada kaki atau lengan.
Yang sering
menimbulkan masalah adalah kelumpuhan yang terjadi biasanya nenetap (sukar
sembuh sempurna) terutama apabila tidak dilakukan fisioterapi secara teratur.
Penyakit ini
bisa menimbulkan kematian, yaitu apabila virus penyerang pusat pernafasan.
Pencegahan:
Cara terebaik
untuk mencegah agar anak tak terserang penyakit polio, adalah dengan memberikan
vaksinasi Polio melalui mulutnya. Setelah anak mendapatkan vaksinasi Polio
sebanyak 3 kali, haruslah tubuhnya akan mampu melawan penyakit polio.
Campak (Morbili / Gabag)
Penyebab : Virus
Masa
inkubasi : 10 - 12
hari
Penularan:
Secara droplet infection.
pnderita sangat menular
pada 5 hari dari masa tunas sampai 4 hari sesudah timbulnya bercak merah di
kulit.
Badan mula-mula panas, pilek, batuk
Mata merah berair dan takut sinar
Mulut dan bibir kering dan merah
Beberapa hari kemudian
mulai keluar bercak-bercak merah kulit, dimulai di belakang telinga. leher,
muka, dahi untuk seterusnya ke dada dan seluruh badan.
Penderita dapat meningkat karena komplikasinya,
yaitu Pneumonia (radang
paru-paru) dan Encephalitis (radang otak)
Isolasi penderita mulai
saat diketahui sakit (diagnosa) hingga 7 hari setelah timbulnya bercak-bercak
di kulit.
Desinfeksi alat-alat/barang-barang dari
penderita.
Imunisasi campak pada bayi
Untuk mengurangi panas dapat diberikan Asetosal.
Istirahat
Minuman dan makanan harus
cukup mengandung gizi sebaiknya makan makanan lunak-lunak selama sakit
Kebersihan badan/kulit,
untuk gatalnya dapat diberikan bedak Salisil atau Calamin Lotion.
Bila ada penyakit ikutan
(komplikasi) dapat diberikan obat-obatan dari petugas kesehatan.
Hepatitis B
Penyakit ini ditandai
dengan badan lemah, nafsu makan kurang, terkadang kulit dan mata menjadi
kuning.
Penyebab : Virus Hepatitis B
Masa inkubasi : Melalui suntikan, transfusi darah, hubungan seksual.
Gejala:
Badan lemah kadang-kadang merasa demam
Mual. tidak nafsu makan
Mata dan kulit kadang-kadang berwarna kuning
(icterus)
Penderita dapat menjadi
pengidap kronik, selanjutnya menjadi sirosis dan kanker hati yang dapat
menyebabkan penderita meninggal.
Hindari penggunaan jarum suntik beramai-ramai
Hindari hubungan seks di luar nikah
Hindari penggunaan darah dari donor pengidap
kronis.
Imunisasi Hepatitis B.
B. APA MANFAAT IMUNISASI DAN BAHAYA BILA TIDAK
DI IMUNISASI
Manfaat imunisasi ialah:
.
Akan menjadi tahan/kebal terhadap penyakit TB, Difteri, Batuk rejan
(pertusis), Tetanus, Polio, Campak dan Hepatitis, sehingga bayi/anak sehat,
biaya pengobatan tidak diperlukan.
.
Oleh karena bayi/anak tahan terhadap beberapa penyakit berbahaya, maka
ia akan tumbuh berkembang menjadi manusia yang sehat.
Bahaya
bila tidak di imunisasi ?
.
Anak akan mudah terserang penyakit, dengan akibat yang lebih berat dapat
menimbulkan kematian. Untuk polio akan menimbulkan cacat seumur hidup.
Macam-macam vaksin yang dipakai :
BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Untuk mencegah penyakit Tubercullosa. Diberikan
satu kali pada bayi muda.
DPT (Difteri. Pertusis, Tetanus)
Untuk mencegah
penyakit-penyakit Difteri, Pertusis (Batuk Rejan), Tetanus .Perlu diberikan
sebanyak 3 kali pada bayi.
Polio
Untuk mencegah
Poliomyyelitis (lumpuh anak) perlu diberikan sebanyak 4 kali pada bayi.
Campak Imunisasi
Untuk mencegah
penyakit Campak (Gabagen, Morbili, Measles). Imunisasi rutin diberikan 2 kali,
yaitu dosis pertama pada waktu bayi setelah berumur 9 bulan, dosis kedua
diberikan pada waktu masuk Sekolah SD Kelas I.
DT (Difteri-Tetanus)
Untuk mencegah penyakit Difteri dan Tetanus.
TT (Tetanus Toxoid)
Untuk mencegah penyakit Tetanus
Dalam program
imunisasi di Indonesia terutama ditujukan untuk mencegah tetanus pada bayi muda
dan ibunya.
Untuk itu
sasaran imunisasi TT adalah anak Sekolah Dasar (kelas I-III) dan wanita usia
subur (WUS) umur 15-39 tahun termasuk di dalamnya adalah calon penanganten dan
ibu hamil. Seseorang akan berhenti mendapat imunisasi TT bila sudah mendaptkan
5 kali dengan interval yang telah ditentukan. Sasaran diperkerakan akan kebal
selama 25 tahun atau seumur hidup.
VAKSIN HEPATITIS B
Untuk mencegah
Hepatitis B, diberikan sebanyak 3 kali kepada bayi, dosis pertama diberikan
segera setelah lahir. Seluruh propinsi di Indonesia sudah melaksanakan
Imunisasi Hepatitis B.
Akibat
sampingan pemberian Imunisasi antara lain:
Anak dapat mengalami demam ringan. Ini sebenarnya menandakan bahwa badan
si anak sedang aktif membentuk zat penolak penyakit.
Demam
ini akan sembuh dengan sendirinya.
Jika demam agak
tinggi, dapat dikompres dan diberikan obat penurunan demam.
Borok atau bisul kecil pada
bekas suntikan BCG, yang akan sembuh dengan sendirinya.
Kapan anak menjadi kebal terhadap
penyakit-penyakit yang tersebut di atas?
- Apakah sasaran imunisasi TT diberikan
imunisasi TT minimal 2 kali maksimal
5 kali dengan interval yang telah ditentukan.
Manfaatnya supaya bayi yang
dilahirkan terlindung dari serangan penyakit Tetanus Neonatorum.
Apabila bayi diberikan Imunisasi BCG
1 kali DPT 3
kali Polio 4 kali dan
Imunisasi BCG untuk
mencegah Tubercullosis diberikan 1 kali ketika bayi baru lahir atau sedini
mungkin.
Imunisasi DPT untuk
mencegah Difteri, Pertusis dan Tetanus, diberikan 3 kali. Pemberiam pertama
ketika bayi belajar miring, (lebih kurang 2 bulan) pemberian kedua ketika bayi
belajar duduk (lebih kurang 6 bulan), pemberian ketiga ketika bayi belajar
jalan (lebih kutang 9 bulan), dengan minimal selang waktu (interval) 4 minggu.
Imunisasi Polio untuk
mencegah penyakit Polio, diberikan 4 kali bersama-sama dengan DPT.
Imunisasi campak
untuk mencegah penyakit Cmpak
diberikan 1 kali ketika
bayi belajar jalan (lebih kurang 9 bulan).
Imunisasi Hepatitis B,
untuk mencegah penyakit Hepatitis B, diberikan 3 kali. pemberian pertama
diberikan sedini mungkin bayi umur < 7 hari, yang kedua bersama DPT 1 dan
yang ketiga bersama DPT2.
Dimana
saja mendapatkan pelayanan Imunisasi ?
Pelayanan Imunisasi dapat diperoleh di tempat-tempat pelayanan
kesehatan, seperti:
. di Pos vaksinasi/Posyandu
. di Puskesmas/ Puskesmas Pembantu
di Rumah
Sakit/Klinik bersalin/Rumah Sakit Swasta/Rumah Sakit ABRI.
Dokter
praktek, bidan praktek
Kepada
siapa saja Imunisasi harus diberikan ?
bayi antara umur 0 bulan -
11 bulan. Sebaiknya sebelum umur 1 tahun, sudah lengkap mendapat imunisasi.
- Anak-anak kelas I - III Sekolah Dasar ( 6-9
tahun).
• Ibu Hamil
• Wanita Usia Subur (15-39 tahun)
Bagaimana cara mengetahui apakah sudah di
imunisasi ?
• Dapat dilihat dari kartu
Pencatatan hasil Imunisasi, misalnya: KMS, untuk BCG terjadinya scar/jaringan
parut pada lengan atas, biasanya lengan kanan atas.
PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA
a. Yang
perlu diperhatikan dalam Imunisasi :
. Imunisasi diberikan sesuai
dengan anjuran, yaitu seorang anak harus mendapat Imunisasi BCG 1 kali, DPT 3
kali, Polio 4 kali. Campak 1 kali dan Hepatitis B 3 kali, agar menjadi kebal
terhadap penyakit.
* TBC * Difteri
* Pertusis (Batuk rejan) *
Tetanus
* (Kelumpuhan) * Campak
*
Hepatitis B
Harus datang untuk Imunisasi berikutnya karena
skali saja belum cukup.
Ajalah tetangga, Saudara,
kenalan , Ibu hamil atau ibu yang mempunyai bayi datang ke Pos
Vaksinasi/Posyandu/Puskesmas/Rumah Sakit/Klinik Bersalin/Rumah Sakit Swasta/
Rumah Sakit ABRI dan dokter praktek untuk mendapatkan imunisasi.
Kadang-kadang setelah
divaksinasi timbul demam, tetapi tidak usah kawatir karena tidak berbahaya.
Bagaimana cara pemberian Imunisasi?
Pemberian
imunisasi melalui suntikan dan tetesan. Untuk BC disuntikkan di lengan kanan
atas bayi. DPT disuntikkan di lenan atas atau paha bayi. Campak disuntikan di
bagian lengan, hepatitis B disuntikkan di bagian paha bayi. Untuk TT ibu hamil
dan Wanita Usia Subur di lengan atas, paha bagian luar atau pantat (bokong).
Memotivasi ibu-ibu agar
membawa dan menjaga semua wanita usia subur datang di Pos
Vaksinasi/Posyandu/Puskesmas/Rumah Sakit dan lain-lain pada tanggal yang telah
ditetapkan.
Mneginformasikan kepada ibu-ibu bahwa seorang
bayi harus diimunisasi BCG 1
kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, Campak 1 kali
dan hepatitis B 3 kali.
mencatat ibu/bayi yang
datang, yang belum datang dan mentatat vaksinasi yang diperolehnya.
memanggil ibu-ibu yang
belum datang untuk membawa bayinya ke Pos Vaksinasi/Posyandu.
Membantu pencatatan dalam vaksinasi DT, TT dan
campak di Sekolah dasar.
KEPUSTAKAAN
Gunawan S ”Memasyarakatkan
program Imunisasi dalam rangka Menurunkan Angka Kematian Bayi dan Anak”
Ditjen PPM &PLP Departemen Kesehatan RI ”pedomanImunisasi
di Indonesia”
Departemen Kesehatan, ”Petunjuk
Pelaksanaan Pengembangan Program Imunisasi”.
TUJUAN SKK GAWAT DARURAT
Pramuka Siaga
Mengetahui alamat
Puskesmas, Rumah Sakit, Pos P3K, Dokter, Perawat, Pelayanan Ambulans
Mengetahui cara melaporkan dalam keadaan gawat
darurat
Mengetahui cara menilai pernafasan dan nadi
Mengetahui cara membalut luka dan menghentikan
perdarahan
Pramuka Penggalang:
Dapat menjelaskan alamat
Puskesmas, Rumah Sakit, Pos P3K, Dokter, Perawat, Pelayanan Ambulans
Dapat menjelaskan cara melaporkan dalam keadaan
gawat darurat
Dapat menjelaskan cara menilai pernafasan dan
nadi
Dapat menjelaskan cara membalut luka dan
menghentikan perdarahan
Dapat menjelaskan Penanganan Syok
Dapat menjelaskan Penilaian awal pasien Gawat
Darurat
Dapat Menjelaskan Resusitasi Jantung Paru
Dapat Menjelaskan cara bidai
Dapat Menjelaskan transport penderita gawat
darurat
Dapat melaporkan secara lisan melalui telepon
Dapat menggunakan cara rujukan melalui morse.
Pramuka Penegak :
Dapat mengaplikasikan tanda-tanda SKK Gawat
Darurat untuk tingkat Penggalang
Mengetahui alamat serta
nomor telepon Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta
menghubungi 2 institusi tersebut jika terjadi bencana
Dapat melaporkan kepada
Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengenai jenis kejadian
bencana, lokasi bencana, waktu kejadian dan luas dampak bencana
Berperan serta dalam
memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban bencana yang selamat,
mencegah supaya keadaan korban tidak memburuk serta mencegah timbulnya korban
tambahan
Pramuka Pandega :
Selain
menguasai persyaratan Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang dan Pramuka Penegak,
seorang Pramuka Pandega dituntut untuk lebih banyak penanggulangan gawat
darurat lain, seperti:
Keadaan
keracunan, kebakaran dan pingsan.
Memperagakan cara mempimpin regu Pramuka dalam mengatasi gawat darurat
di jalan raya.
Melakukan penyuluhan tentang gawat darurat kepada anggota Pramuka dan
masyarakat
PRAMUKA SIAGA
ALAMAT:
Puskesmas,
Rumah Sakit dan lain-lain yang terdekat dengan rumah dan sekolah perlu
diketahui agar dapat segera dihubungi bilamana diperlukan pertolongan dibidang
kesehatan, juga perlu mengetahui alamat ambulens.
CARA
MENYAMPAIKAN LAPORAN
Untuk
mendapatkan pertolongan perlu singkat tetapi mengandung semua keterangan yang
penting yaitu:
Nama dan alamat atau nomor telepon pelapor
Tempat kejadian
Jenis kejadian (kecelakaan lalu lintas,
tenggelam, keracunan dan lain-lain).
Jumlah korban atau penderita
Keadaan penderita, sadar atau tidak.
CARA
MENILAI PERNAFASAN DAN NADI
Sebelum
pernafasan dinilai dan diperiksa, dilakukan tindakan membebaskan jalan nafas
pada penderita dengan menidurkan penderita terlentang dan mengangkat leher
serta mendorong kepala belakang. Selanjutnya dada penderita diperhatikan, serta
punggung tangan atau pipi penolong diletakkan dekat mulut dan hidung korban.
Penderita
bernafas apabila:
Terlihat gerakan dada
Terdengar hirupan dan hembusan nafas
Terasa hembusan udara pernafasan pada punggung
tangan atau pipi penolong.

Nadi yang perlu
diperiksa, pada orang yang tidak sadar adalah nadi Karotis yang diraba pada
daerah leher bagian bawah samping di bawah rahang. Jumlah pernafasan dan
denyutan nadi setiap menit dicatat.
Meraba nadi karotis
CARA MENGHENTIKAN PERDARAHAN
Perdarahan dan luk a dapat dihentikan dengan
berbagai cara, an tara lain:
Menekan dengan jari tangan pembuluh darah bawah
kulit yang dekat dengan luka.
menekan langsun g pada luka
dengan kain atau sapu tangan yang bersih, yang dapat dianggap b ersih adalah
lipatan bagian dalam kain yang sudah diseterika.
menekan langsun g pada luka
dengan kain kasa steril, kemudian diletakkan benda keras di atasnya lalu
dibalut secara erat.
Pemakaian tornik et, yang
hanya dilakukan pada keadaan putusnya salah satu anggota badan. Luka dibalut
dan jangan lupa untuk memasukkan bagian yang putus ke dalam kantong plastik
berisi es untuk dibawa bersama penderita ke Rumah Sakit.

Cara mengatasi perdarahan nadi
MEMBALUT LUKA
Bertujuan untuk
men ghindari atau memecah terjadinya pencem aran kuman ke dalam suatu luka.
Alat yang dipakai adalah kain segi perban dan pemb alut cepat. Tata cara
membalut dengan al at-alat ini perlu dilatih pada kepala,tangan, lengan, kaki,
tungkai serta dada. Cara terb aik untuk belajar membuat adalah dengan contoh
langsung oleh pelatih.
Jenis Jenis
Pembalut

Segitiga
(mitella) Kasa Gulung Pem balut elastik
PRAMUKA PENGGALANG
Selain menguasai
bahan-bahan TKK Gawat Darurat untuk Pra muka Siaga, seorang Pramuka Penggalang
harus menguasai :
SYOK
Pengertian
:
Syok terjadi k
arena kekurangan oksigen pada jaringan tu buh yang disebabkan turunnya volu me
darah atau turunnya tekanan darah dan dapat menyebabkan kematian.
Syok terjadi se
ring disebabkan perdarahan yang banyak, luka bakar yang berat dan kehilang an
cairan tubuh antara lain disebabkan muntah dan diare yang berat .
Gejala
dan tanda :
Kulit
korb an pucat atau kebiruan, dingin, lembab, gemetar
Denyut
na di melemah
Napas pe
ndek dan cepat, merasa kekurangan udara (perlu udara)
Korban
merasa lemah dan pusing
Korban
mungkin merasa haus.
Korban me rasa gelisah, tak berdaya lemah
Tingkat kesadaran korban menurun dan menjadi tidak
sadar
Akhirnya napas akan berhenti dan jantung
berhenti ber detak
Pertolongan Pertama:
Ing atlah untuk menilai DRsABC (lihat prinsi p
penanganan pasien gaw at darurat)
Jika terjadi cedera, baringkan korban dengan p osisi kepala tetap ren
dah (jangan gunakan bantal) dan angkat kak i secara perlahan posisi kaki lebih
rendah dari letak jantung.

Posisi Pemulihan untuk korban syok
Hal ini akan menjaga cukupnya peredaran darah di bagian-bagian vital
terutama pada otak
Ten angkan korban. Longgarkan pakaian yang ketat di sekitar leher, dad a
dan pinggang korban
Co balah
untuk meletakkan selimut di bawah korban dan selimuti pula
tub uh korban. Jangan
menumpuk selimut a tau pakaian di atas kor ban; hal ini dapat membahayakannya.
Pan ggil
pertolongan (bantuan medis atau kenda raan)
Jangan berikan makanan atau minuman pada korban dan jangan biar kan
mereka merokok. Jika korban mengeluh haus, basahi bibir kor ban
Periksa terus napas korban juga denyut nadi dan tingkat kesadaran , car
anya ajak berbicara
Jika tidak memberi respons untuk membuka mata, atau tidak me njawab
sewaktu diberikan pertanyaan, ata u tidak menunjukaan ger akan maka korban
tersebut berada dalam keadaan tidak sadar, ma ka letakkan mereka pada posisi
pemulihan. Perhatikan ABC.
Bua t catatan mengenai temuan dan tindakan Anda untuk diberikan pad a
petugas medis
Pad a
korban yang tidak bernapas, Anda mun gkin perlu melakukan
RJP
terhadap korban sebelum petugas medis datang.
JANGAN
Me mindahkan korban (kecuali untuk menghind ari bahaya/ berada di dae
rah berbahaya)
• Me ninggalkan korban sendirian (kecuali jika Anda harus pergi
me ncari bantuan atau merawat korban lainnya)
• Me mbiarkan korban makan atau minum
PRINSIP PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT
Agar Anda dapat memberikan
pertolongan dengan cepat, tepat dan aman dalam keadaan atau situasi darurat.
Anda harus memahami dengan benar apa yang harus dilakukan.
Contoh
kasus :
Jika Anda berjalan
menyusuri jalan raya, tiba-tiba Anda melihat sekumpulan orang di tepi jalan
sedang menyaksikan korban kecelakaan lalu-lintas yang tergeletak berlumuran
darah.

Terjadi
kecelakaan lalu lintas:
1. Apa yang
pertama kali
terlintas
di benak Anda?
2. Apa
reaksi anda?
3. Apa yang akan Anda lakukan?
4. Adakah rencana tindakan
yang Anda
pikirkan?
Tindakan
Anda untuk menguasai keadaan :
Cari tahu
Apa yang
telah terjadi?
Apakah
ada yang terluka?
Adakah korban yang tersembunyi dari pandangan atau tergeletak di suatu
tempat?

ADA APA
YA,...?
ADA
KORBAN..?
Ciptakan
keadaan aman
Sebelum menolong korban, hindarkan atau kurangi segala macam bahaya yang
dapat terjadi pada Anda
Tergantung keadaan, mungkin Anda perlu minta bantuan orang di sekitar
kejadian atau menghubungi Puskesmas, Unit Pelayanan Darurat, Ambulans atau
Polisi.
Jika tidak mungkin untuk mengamankan lokasi, pindahkan korban ke tempat
yang lebih aman
Berikan
Pertolongan Pertama
Pastikan
tindakan apa yang akan Anda lakukan
Berikan
pertolongan pada korban
Cari bantuan
Lebih
cepat lebih baik
Mintalah seseorang untuk menghubungi rumah sakit atau mencari kendaraan
jika dibutuhkan
Setelah
kejadian
Bersihkan
tempat kejadian kecelakaan
Jika memungkinkan hilangkan penyebab kecelakaan atau cari tenaga
profesional untuk melakukannya
Lengkapi
kembali peralatan Pertolongan Pertama (PP), jika tersedia .
PENILAIAN AWAL PENDERITA GAWAT DARURAT
Jika Anda mampu
menguasai keadaan, maka selanjutnya pikirkan cara untuk menolong si korban.
Langkah-langkah sederhana ini merupakan tindakan yang harus dilakukan. Perhatikanlah
kata kunci:
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
DRs A-B-C
DANGER (Bahaya)
Lakukan penilaian apakah lokasi tempat kita melakukan pertolongan aman
dan tidak berbahaya bagi kita penolong maupun korban. Utamakan keselamatan diri
penolong maupun korban.
Singkirkan benda-benda berbahaya disekitar korban dan di lokasi tempat
melakukan pertolongan, jika diperlukan, pindahkan korban untuk menjauh dari
tempat yang membahayakan.
RESPONSE (Tanggapan) si korban :
Untuk mengetahui tingkat kesadaran korban, Ajukan pertanyaan “Anda (bapak/ibu/kakak/adik)
dapat mendengarkan saya”….? Bila korban
memberikan jawaban (korban
sadar) lanjutkan pertanyaan “Apakah Anda memerlukan pertolongan”..?
Bila korban dipanggil dengan“Bu!“ / “Pak! “/ “Kak! ”/ “ Dik!” tetapi
tidak memberikan jawaban atau korban tidak bergerak (tidak sadar) Lakukan
tindakan sebagai berikut;
Tepuklah bahu atau tulang
selangka korban
dengan tangan Anda atau cubit lengan
bagian atas atau memberi rangsang nyeri untuk mengetahui apakah ada reaksi/ respons dari korban
berupa gerakan atau adanya suara korban.

Tolooong..
.. panggil
ambulans!!
Tidak
menjawab
Tidak
bergerak
SHOUT FOR HELP (meminta bantuan)
Bila korban tidak
menunjukkan reaksi setelah diberikan rangsang nyeri, maka panggilah bantuan
segera,
Mintalah
bantuan kepada seseorang yang berada di lokasi kejadian untuk menghubungi
ambulans atau rumah sakit terdekat dan pastikan bahwa bantuan akan dating
Jika
Anda sendirian, Anda harus mencari
bantuan.
Jika pertolongan belum juga
datang, telpon/ panggil ambulans untuk membawanya ke Puskesmas/Rumah Sakit SAAT
ITU JUGA.
Bila tidak ada ambulans
maka Andalah yang harus melakukan pertolongan pertama SEGERA .
Perhatian!
![]()
Jika ambulans tidak tersedia pilihlah kendaraan yang cukup lebar dan
memungkinkan untuk membawa korban pada posisi pemulihan
Bila anda harus melakukan
pertolongan pertama, maka ikuti tahap-tahap penanganan sebagai berikut;
Lakukan pemeriksaan dan
penilaian tanda-tanda adanya ancaman kematian. Periksa jalan napas (Airway), periksa fungsi pernapasan (Breathing) dan sirkulasi/ peredaran
darah (Circulation). Untuk memudahkan mengingat
tahapan penanganan ingat mulai dengan kata
kunci A-B-C
AIRWAY (JALAN NAPAS)
Mulailah melakukan tindakan
awal dengan melakukan pemeriksaan ada/ tidaknya sumbatan atau gangguan jalan
napas (Airway problem) pada korban .
Berlutut
di sisi korban,
Periksa adakah aliran udara melalui hidung korban dengan cara meletakkan
punggung tangan kita didepan hidung korban atau dekatkan pipi kita didepan
hidung korban untuk
merasakan adanya aliran udara atau dengarkan adanya hembusan napas korban. Bila ada aliran udara yang kita rasakan,
maka korban masih bernapas dengarkan
apakah suara napasnya berbunyi.
Bila tidak ada aliran
udara, coba periksa adakah benda asing dalam rongga
mulut korban (gumpalan darah, muntahan atau benda asing lain), bila ada
keluarkan dari mulut korban gunakan dua jari untuk mengorek keluar benda asing
tersebut.
Korban yang tidak sadar, periksa juga pangkal lidah yang biasanya jatuh
kebelakang dan menutup jalan napas
Bila tidak ada aliran udara
yang terasa melalui hidung, maka perbaiki posisi kepala dengan cara menengadahkan
kepala dengan cara sebagai berikut,
angkat dagu keatas, dorong dahi kebelakang (lihat gambar), semua tindakan
tersebut lakukan dengan perlahan
Cara
membuka jalan napas

Mulailah melakukan tindakan awal dengan melakukan pemeriksaan ada/
tidaknya
BREATHING (PERNAPASAN)
Pertahankan posisi kepala (posisi menengadah)
Letakkan pipi anda didekat muka, di antara mulut
dan hidung korban
Lihat bagian dada korban
apakah ada gerakan napas (gerakan dada turun naik), perhatikan apakah
gerakannya teratur, apakah gerakan dada sebelah kiri dan kanan sama (simetris)


Posisi untuk
Lihat, Dengar, Rasakan Perhatikan napas korban
Dengarkan nafasnya, dan tetap perhatikan gerakan
dadanya
Rasakan adanya hembusan udara pada pipi Anda dan
amati selama 10 detik.
Dengan merasakan adanya
aliran udara dan adanya gerakan dada menandakan bahwa korban masih bernapas.
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Jika
korban tidak bernapas mulai lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) segera.
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Jika korban
tidak sadar, tapi korban masih bernapas, maka
pindahkan
korban pada Posisi Pemulihan .

CIRCULATION (SIRKULASI)
Sirkulasi atau peredaran darah
diperlukan
diseluruh bagian tubuh untuk memenuhi kebutuhan jaringan antara lain membawa
oksigen. Gangguan sirkulasi dapat terjadi karena gangguan pompa jantung atau
kekurangan volume darah yang disebabkan oleh terjadinya perdarahan. Kehilangan
darah ini dapat mempengaruhi kekurangan peredaran oksigen ke seluruh tubuh:
Bila terjadi perdarahan
maka Anda harus menghentikan perdarahan secepat mungkin karena kehilangan darah
yang cukup banyak akan menyebabkan kekurangan oksigen di jaringan dan mengancam
terjadinya kematian.
Bila Jantung mulai berhenti
berdenyut maka Anda harus mengembalikan fungsi jantung dengan melakukan pijat
jantung .
Untuk
mengetahui baik atau tidaknya pompa jantung, kita dapat memeriksa detak jantung
dengan meraba dengan sedikit tekanan didaerah pembuluh nadi leher atau nadi di
tangan selama 10 detik.
RESUSITASI
JANTUNG PARU
Untuk
menyelamatkan nyawa korban, diperlukan tindakan yang dikenal dengan sebutan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yaitu
mengembalikan fungsi jantung dan paru pada
keadaan semula atau keadaan normal.
Untuk menentukan diperlukan
atau tidaknya RJP maka ikuti langkah-langkah pemeriksaa sebagai berikut.
A. SISTEMATIKA
RJP PADA ORANG DEWASA
RESPONS ?
ada/tidak
( panggil, tepuk tulang selangka,
cubit lengan atas)

![]()
TIDAK ADA
RESPONS
Berteriak
minta pertolongan

![]()
BUKA JALAN NAPAS
(angkat
dagu tekan dahi )
![]()
BERNAFAS ? YA /TIDAK
(Lihat, Dengar, dan Rasakan )

![]()
TIDAK BERNAPAS
(Pastikan bantuan atau kendaraan
untuk
kerumah sakit )

![]()
BERI
NAPAS BUATAN
kali
KOMPRESI DADA
(Pijat jantung)
30 kali

Perbandingan RJP pada orang Dewasa
30 : 2 (per siklus)
Gunakan


pangkal telapak
tangan untuk
pijat
jantung
SISTEMATIKA RJP PADA BAYI
Pada bayi pijat jantung
dengan menggunakan dua jari tangan. Terlebih dahulu minta izin pada orang tua
korban
RESPONS ada/tidak?
(pada bayi
sentuh telapak
kaki)
![]()
TIDAK ADA
RESPONS
minta
pertolongan
![]()

BUKA
JALAN NAPAS (Angkat Dagu Tekan Dahi )
![]()

BERNAPAS
Ya / tidak ? (Lihat, Dengar, dan Rasakan)
![]()
TIDAK BERNAPAS
Beri 5 napas
buatan(awal)
![]()

30 kompresi dada
(dengan
dua jari)
![]()
2 napas
buatan

RJP pada
Bayi: 5 kali Napas awal
30
kompresi dada: 2 napas buatan ( per
RJP pada anak usia 1(satu) tahun keatas akan
disesuaikan dengan postur tubuhnya.
Ketika melakukan kompresi dada gunakan satu
tangan.
5. BIDAI
Tujuan
pemasanga n bidai adalah untuk mempertahankan kedudukan tulang yang patah.
Bidai harus dapat mempertahankan kedudukan 2 send tulang yang terdekat dengan
tulang yang patah, dan tidak boleh terlalu kencang/ketat karena akan merusan
jaringan tubuh.
Alat
yang dipakai da pat:
Anggota badan p enderita sendiri
papan, bambu dahan
karton, majalah, kain
bantal, guling, selimut dan lain-lain.

6. TRANSPORTASI P ENDERITA
Sebelum penderita dipindahkan, perlu dipenuhi
persyaratan-persyaratan:
Keadaan penderita telah stabil
Jalan Nafas tetap terjamin/terbuka
Pengawasan ketat terhadap
jantung, nadi dan paru-paru tetap dapat dilaksanakan. Pengangkutan pend erita dapat memakai:
tenaga manusia: satu,dua, tiga atau empat orang
Tandu: khusus, p apan, bambu/dahan, atau matras
Kendaraan: darat , laut atau udara.,
III.PRAMUKA
PENE GAK
Selain
menguasai persyaratan bagi penggalang seorang pe negak dituntut untuk
menyebarluaskan pengetahuan yang telah dimilikinya kepada ang gota Pramuka lain
dan masyarakat luas:
Bagi masyarakat umum yang perlu disampaikan
adalah
Cara
miminta pertolongan segera
Cara mengamankan penderita/korban dan tidak memperberat keadaannya.
Tindakan penangg ulangan Gawat Darurat barulah dibenar kan untuk dilakukan
apabila pengetahua n tentang Resusitasi telah dikuasai dengan baik.
Mengetahui alam at serta nomor telepon Dinas Kesehatan dan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah serta menguhubungi 2 institusi tersebut jika
terjadi bencana
Dapat melaporkan kepada Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah mengenai jenis kejadian bencana, lokasi bencana, waktu kejadian dan luas
dampak bencana
Berperan serta dalam memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi
korban bencana yang selamat, mencegah supaya keadaan korban tidak memburuk dan
mencegah timbulnya korban tambahan
IV.PRAMUKA
PANDEGA
Selain
menguasai persyaratan Pramuka Siaga, Penggalang dan Penegak, seorang Pramuka
Pandega dituntut untuk lebih banyak penanggulangan gawat darurat lain, seperti:
A. Keadaan keracunan, kebakaran dan pingsan.
B. Memperagakan cara mempimpin regu Pramuka dalam mengatasi gawat
darurat di jalan raya.
C. Melakukan penyuluhan tentang gawat
darurat kepada anggota Pramuka dan masyarakat
1. LUKA
BAKAR
Luka bakar adalah salah
satu jenis cedera yang meliputi kerusakan pada permukaan kulit paling atas dan
dapat sampai mengenai lapisan dalam, akibat paparan suhu yang tinggi.
Penyebabnya: api, uap panas, benda panas, bahan kimia, listrik, kilat, serta
radiasi.
Luka bakar dibagi menjadi 3 derajat sebagai
berikut:
Derajat satu, kerusakan
hanya pada permukaan (superfisial). i.Kemerahan
ii.Sakit dan lembut
iii.Sedikit terjadi Pembengkakan
Derajat dua, kerusakan mengenai bagian bawah
kulit (kedalaman parsial).
Kemerahan
Lepuh
Sangat nyeri
Pembengkakan
Penampakan kasar
Derajat tiga, kerusakan
mengenai jaringan bawah kulit yang lebih dalam, antara lain dapat mengenai otot
dan bagian diantaranya (kedalaman penuh).
. Pucat dan mengkilap
. Jaringan menghitam atau gosong
Mati rasa karena kerusakan saraf
Pertolongan Pertama pad a luka bakar:

Lakukan penilaian D RsABC
Hentikan proses luk a bakar
Siram dengan air selama 10 menit atau lebih
Secara perlahan bu ka
pakaian, perhiasan, jam, dll yang ada di daerah yang mengalami luka bakar
Jika perlu balut longgar dengan penutup steril
Bawa ke fasilitas ke sehatan

JANGAN!
gunakan
material yang berserat atau menempel sebagai pen utup
memecah
lepuh
memberikan
krim, lotion, lemak atau minyak pada luka
menyentuh
bagian yang terluka
KERACUNAN
Racun dapat berupa suat u
zat (padat, cair, gas) yang jika masuk ke d alam tubuh akan menyebabkan
kerusakan jaringan yang menganggu fungsi organ tubu h sehingga mempengaruhi
kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Masuknya racun ke dalam tu buh melalui

Mulut
(racun tertelan)
Hidung
(racun terhirup)
Kulit
(terserap)
Suntikan
dan gigitan.
Gejala dan tanda keracunan umum:
Riwayat
yang berh ubungan dengan proses keracunan
Mengantuk
atau ti dak sadar (penurunan respon)
Gangguan
pernapasan
Nyeri
kepala, pusi ng, gangguan penglihatan
Sakit
perut dan keram
Mual,
muntah, dia re
Nadi
cepat dan le mah
Bau khas
dari mulut
Lemas,
lumpuh, k esemutan
Pucat
atau sianosis (kebiru-biruan)
Kejang-kejang
Syok
Gangguan
irama j antung dan peredaran darah pada zat tertentu
Luka pada kulit b erupa bekas suntikan atau gigitan, keme rahan, nyeri
dan sebagainya
Pertolongan Pertama pada kasus keracunan:
Lakukan
penilaian DRsABC
Pengamanan
sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang
Pengamanan
penderita dan penolong terutama jika berada di daerah gas beracun
Hindari
penyebab keracunan. Pastikan korban mendapat udara segar
Bila racun masuk melalui jalur kulit, maka buka baju penderita dan
bersihkan sisa bahan beracun, bila ada, lalu bilaslah daerah yang terkena
dengan air mengalir selama 20 menit
Bila racun masuk melalui mulut usahakan untuk mengencerkan racun
tersebut. JANGAN memicu muntah
Lakukan
RJP bila perlu. Hati-hati pada keracunan melalui saluran napas dan mulut
Awasi
jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah
Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya
sebaiknya diamankan untuk identifikasi
Baringkan
korban pada posisi pemulihan
Bawa ke
fasilitas kesehatan
PINGSAN
Pingsan merupakan kejadian
yang umum dan sederhana untuk diatasi oleh seseorang dengan pengetahuan
Pertolongan Pertama. Hal ini terjadi ketika otak, untuk jangka waktu yang
singkat, tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup disebabkan karena berdiri
untuk waktu yang lama, lapar, bangkit dan berdiri terlalu cepat, lingkungan
yang panas, dll. Pingsan mungkin juga terjadi di masa awal kehamilan.
Gejala dan tanda:
Limbung
Pandangan
gelap, dunia serasa berputar
Kulit
pucat dan berkeringat
Nadi
pelan tapi kuat
Kehilangan
kesadaran sesaat

Pertolongan Pertama pada pingsan:
Lakukan penilaian DRsABC
Baringkan korban
Tinggikan tungkai korban sekitar 20 - 30 cm
Longgarkan pakaian yang mengikat
Pastikan korban mendapat udara segar
Jangan diberi minum jika korban belum sadar
penuh.
Jangan memberikan rangsangan berupa bau-bauan
apapun
KEPUSTAKAAN
Panduan penanggulangan
Penderita Gawat Darurat Dit. Rumah Sakit. Ditjen yanmedik, Departemen Kesehatan
RI 2009
Pedoman Pelatihan Pertolongan Pertama :
Johanniter Unfall Hilfe 2009
First Aid Training,
Balsibankes Unit Ambulans 119, Unit Ambulans 119 Dinkes DKI Jakarta, , Jakarta










